News
# Surat Terbuka untuk Calon Ketua Umum PB Gabsi 2026 – 2030
## Hidupkan Kembali Liga Bridge Indonesia
### Karena Prestasi Tidak Akan Tumbuh Tanpa Kompetisi yang Berkelanjutan dan Klub yang Hidup

Liga memberikan manfaat yang sangat besar, bukan hanya kepada pemain, tetapi juga kepada klub dan organisasi bridge secara keseluruhan. (Foto: Istimewa)
Oleh: Bert Toar Polii
FAKTUAL INDONESIA:
Kepada Yth.
Para Calon Ketua Umum PB GABSI Periode 2026–2030
Salam olahraga,
Menjelang Kongres PB GABSI yang akan menentukan kepemimpinan organisasi untuk periode 2026–2030, saya ingin menyampaikan satu gagasan yang menurut saya sangat penting untuk dipertimbangkan oleh siapa pun yang nantinya mendapat amanah memimpin bridge Indonesia.
Gagasan ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru.
Saya ingin mengajak kita semua untuk menghidupkan kembali Liga Bridge Indonesia.
Saya menyampaikan hal ini bukan hanya berdasarkan teori.
Sejak 2002, saya mengikuti seluruh penyelenggaraan Liga Bridge Indonesia yang pernah digelar, sampai program tersebut terus berjalan pada beberapa periode kepengurusan PB GABSI, termasuk hingga masa bakti 2018–2022.
Karena mengalami sendiri perjalanan liga tersebut, saya dapat mengatakan dengan keyakinan bahwa liga memberikan manfaat yang sangat besar, bukan hanya kepada pemain, tetapi juga kepada klub dan organisasi bridge secara keseluruhan.
Sayangnya, Liga Bridge Indonesia terhenti pada masa bakti 2022–2026.
Menurut saya, sudah waktunya kita mempertanyakan:
Apakah program yang terbukti memberikan kehidupan kepada klub dan pemain harus dibiarkan berhenti?
Saya kira jawabannya adalah tidak.
—
# Ketua Umum berikutnya harus membangun ekosistem, bukan hanya menyelenggarakan kejuaraan
PB GABSI tentu akan tetap menyelenggarakan Kejurnas, seleksi nasional, kejuaraan pasangan, beregu, dan berbagai event lainnya.
Semua itu penting.
Tetapi ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan:
> Prestasi tidak lahir hanya dari kejuaraan. Prestasi lahir dari pemain yang terus bermain.
Dan pemain hanya akan terus bermain apabila tersedia kompetisi yang teratur.
Di sinilah Liga Bridge Indonesia mempunyai peranan yang sangat strategis.
Liga bukan sekadar pertandingan.
Liga adalah mesin aktivitas bridge.
—
# Mengapa Liga berbeda dengan turnamen?
Turnamen selesai setelah beberapa hari.
Liga berlangsung sepanjang musim.
Turnamen menentukan juara.
Liga menciptakan persaingan berkelanjutan.
Turnamen mempertemukan pemain.
Liga membangun klub dan komunitas.
Turnamen bisa menjadi event tahunan.
Liga membuat pemain mempunyai alasan untuk bermain setiap minggu atau setiap bulan.
Itulah yang saya rasakan sendiri selama mengikuti Liga Bridge Indonesia sejak 2002.
Ketika ada liga, pemain mempunyai target.
Klub mempunyai aktivitas.
Tim mempunyai tujuan.
Dan organisasi mempunyai data aktivitas pemain dan klub.
—
# Kepada calon Ketua Umum: jangan biarkan klub mati perlahan
Saya ingin menyampaikan ini secara terus terang.
Kalau kita ingin mengembangkan bridge Indonesia, maka kita harus memperhatikan klub.
PB GABSI tidak mungkin melakukan pembinaan seluruh pemain secara langsung.
Pembinaan sehari-hari terjadi di klub.
Di klub pemain belajar.
Di klub pemain berlatih.
Di klub pemain bertemu pasangan.
Di klub pemain mengenal pemain yang lebih senior.
Di klub pula pemain muda pertama kali merasakan kompetisi.
Karena itu:
> Kalau klub hidup, bridge hidup.
>
> Kalau klub mati, pembinaan juga ikut mati.
Dan Liga adalah salah satu cara paling efektif untuk membuat klub tetap hidup.
—
# Saya mengusulkan Liga Bridge Indonesia 2026–2030
Kepada siapa pun yang nantinya terpilih sebagai Ketua Umum PB GABSI, saya mengusulkan agar Liga Bridge Indonesia kembali menjadi program prioritas nasional.
Tetapi jangan sekadar menghidupkan format lama.
Kita harus memanfaatkan teknologi yang sekarang tersedia.
Saya mengusulkan konsep Hybrid League.
Ada dua kelompok utama:
## A. Liga Bridge Pasangan
dan
## B. Liga Bridge Tim
Liga Tim kemudian dibagi menjadi tiga tingkatan kompetisi:
### *1. Liga Antarprovinsi
*Hybrid*
### 2. Liga Antarkabupaten/Kota
Hybrid
### *3. Liga Antarklub
Offline
—
# 1. Liga Bridge Pasangan: pintu masuk pemasalan
Liga Pasangan harus menjadi kompetisi dengan akses semudah mungkin.
Pertandingan dapat dilaksanakan secara online secara berkala.
Pemain dari seluruh Indonesia dapat ikut.
Tidak perlu menunggu Kejurnas.
Tidak perlu membeli tiket pesawat.
Tidak perlu mencari akomodasi.
Pemain cukup mendaftar dan bertanding.
Kemudian pada akhir periode tertentu dapat dibuat:
Final Regional
dan akhirnya:
Grand Final Liga Bridge Indonesia.
Dengan sistem ranking, pemain akan mempunyai motivasi untuk mengikuti pertandingan secara konsisten.
Tujuannya sederhana:
### Semakin banyak orang bermain bridge.
—
# 2. Liga Antarprovinsi: membangun kebanggaan daerah
Setiap provinsi membentuk tim.
Babak reguler dapat dilaksanakan secara hybrid.
Tim terbaik kemudian bertemu di final offline.
Kompetisi ini dapat menjadi ukuran perkembangan bridge di setiap provinsi.
PB GABSI akan dapat melihat:
* provinsi yang aktif;
* jumlah pemain;
* kekuatan tim;
* perkembangan pemain muda;
* dan daerah yang membutuhkan pembinaan.
Dengan demikian, hubungan PB GABSI dengan Pengprov tidak hanya terjadi menjelang Kejurnas.
Ada aktivitas sepanjang tahun.
—
# 3. Liga Antarkabupaten/Kota: membawa bridge ke akar rumput
Menurut saya, inilah program yang sangat penting untuk pemasalan.
Bridge jangan hanya hidup di ibu kota provinsi.
Kita harus membawa bridge ke kabupaten dan kota.
Format hybrid membuat hal tersebut jauh lebih realistis.
Kabupaten/kota dapat membentuk tim dan mengikuti kompetisi tanpa harus selalu melakukan perjalanan jauh.
Bayangkan kalau secara bertahap semakin banyak kabupaten/kota aktif mengikuti liga.
Kita akan mempunyai basis pemain yang jauh lebih luas daripada sekarang.
—
# 4. Liga Antarklub: jantung ekosistem
Untuk Liga Antarklub, saya justru mengusulkan format offline.
Karena tujuan utamanya adalah:
### membuat pemain datang ke klub.
Klub harus kembali menjadi rumah bagi pemain bridge.
Pertandingan dapat menggunakan sistem liga, klasemen, playoff dan final.
Kalau jumlah klub sudah cukup banyak, dapat dibuat sistem:
Premier Division
Division 1
Division 2
dan seterusnya.
Kemudian diterapkan:
Promosi dan Degradasi.
Dengan demikian klub tidak hanya bermain untuk mencari juara.
Klub juga bermain untuk naik divisi atau mempertahankan posisi.
Itulah yang membuat liga menjadi menarik sepanjang musim.
—
# Liga harus menjadi mesin pembinaan
Kepada calon Ketua Umum, saya ingin mengingatkan bahwa kita sering mencari cara untuk menghasilkan pemain berprestasi.
Menurut saya, kita harus mulai dari pertanyaan yang lebih sederhana:
### Bagaimana membuat pemain bermain lebih banyak?
Karena semakin banyak pertandingan yang mereka ikuti:
* semakin banyak pengalaman;
* semakin banyak lawan yang dihadapi;
* semakin banyak sistem yang dipelajari;
* semakin banyak kesalahan yang diperbaiki;
* dan semakin matang mental bertandingnya.
Maka liga sebenarnya adalah sarana pembinaan nasional yang berjalan sepanjang tahun.
—
# Liga juga bisa menjadi sistem ranking nasional
Saya mengusulkan setiap pertandingan liga memberikan poin.
Dari sana dapat dibuat:
National Player Ranking
National Pair Ranking
Club Ranking
Provincial Ranking
Kabupaten/Kota Ranking
Ranking tersebut tidak harus menggantikan sistem seleksi nasional.
Tetapi akan memberikan gambaran yang jauh lebih lengkap mengenai aktivitas dan konsistensi pemain.
Seorang pemain tidak lagi hanya dikenal karena pernah memenangkan satu kejuaraan.
Kita juga dapat melihat siapa yang konsisten berprestasi sepanjang musim.
—
# Manfaat terbesar bagi PB GABSI: database
Ada satu manfaat liga yang mungkin justru paling penting bagi organisasi.
Data.
Dengan sistem liga berbasis digital, PB GABSI dapat mengetahui:
Berapa pemain aktif?
Berapa klub aktif?
Di mana pemain-pemain tersebut berada?
Provinsi mana yang berkembang?
Kabupaten/kota mana yang mulai aktif?
Klub mana yang melakukan pembinaan?
Siapa pemain muda yang mulai muncul?
Semua itu dapat menjadi dasar pengambilan keputusan.
Organisasi modern tidak boleh hanya bekerja berdasarkan perkiraan.
### Kita membutuhkan data.
Dan liga adalah salah satu sumber data terbaik.
—
# Tidak perlu mahal
Saya sadar bahwa salah satu persoalan utama organisasi olahraga adalah anggaran.
Justru karena itu saya mengusulkan format hybrid.
Pertandingan yang dapat dilakukan online, lakukan online.
Pertandingan yang membutuhkan interaksi langsung, lakukan offline.
Dengan demikian biaya perjalanan dapat dikurangi.
Anggaran dapat dialihkan untuk:
* pembinaan;
* hadiah;
* wasit;
* teknologi;
* promosi;
* pelatihan;
* dan pengembangan klub.
—
# Jangan takut memulai dari kecil
Liga tidak harus langsung diikuti ratusan klub.
Mulailah dari klub yang sudah siap.
Misalnya:
10–20 klub pada musim pertama.
Kemudian berkembang menjadi:
30–50 klub.
Setelah sistem berjalan baik, baru diperluas ke lebih banyak daerah.
Hal yang sama dapat dilakukan untuk provinsi dan kabupaten/kota.
Yang paling penting bukan besar pada tahun pertama.
Yang penting adalah:
### berkelanjutan.
—
# Target empat tahun
Saya bahkan membayangkan Liga Bridge Indonesia 2026–2030 mempunyai target sederhana:
### Tahun Pertama
Membangun sistem dan menghidupkan kembali liga.
### Tahun Kedua
Memperluas jumlah klub dan daerah peserta.
### Tahun Ketiga
Membangun sistem divisi, ranking dan promosi-degradasi.
### Tahun Keempat
Menjadikan Liga Bridge Indonesia sebagai kompetisi nasional yang mapan.
Dengan demikian ketika kepengurusan berikutnya berakhir, liga bukan lagi sebuah program yang tergantung kepada siapa yang menjadi Ketua Umum.
Liga sudah menjadi institusi kompetisi nasional.
—
# Jangan sampai Liga kembali berhenti
Inilah hal yang menurut saya paling penting.
Pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa program liga dapat berjalan dalam waktu panjang.
Saya mengikuti perjalanannya sejak 2002.
Program tersebut bertahan melalui beberapa periode kepengurusan PB GABSI.
Artinya, liga sebenarnya mempunyai nilai yang melampaui satu periode kepengurusan.
Karena itu, saya berharap calon Ketua Umum tidak melihat Liga Bridge Indonesia sebagai program milik pengurus tertentu.
### Liga adalah milik pemain.
### Liga adalah milik klub.
### Liga adalah milik bridge Indonesia.
Siapa pun Ketua Umumnya, liga harus tetap berjalan.
—
# Sebuah tantangan untuk calon Ketua Umum
Saya ingin menutup surat terbuka ini dengan sebuah tantangan sederhana.
Kepada siapa pun yang nantinya mendapat kepercayaan memimpin PB GABSI 2026–2030:
Hidupkan kembali Liga Bridge Indonesia.
Jangan hanya berjanji meningkatkan prestasi.
Buatlah sistem yang memungkinkan pemain berlatih dan bertanding sepanjang tahun.
Jangan hanya berbicara mengenai pembinaan klub.
Berikan klub kompetisi yang membuat mereka benar-benar hidup.
Jangan hanya berbicara mengenai pemasalan.
Ciptakan pertandingan yang dapat diikuti pemain dari berbagai daerah dengan biaya yang terjangkau.
Dan jangan hanya mengejar juara.
Bangunlah ekosistem yang akan melahirkan juara.
—
# Karena pada akhirnya, semuanya kembali kepada satu hal
Setelah mengikuti Liga Bridge Indonesia sejak 2002, saya sampai pada satu kesimpulan sederhana:
> Liga bukan sekadar kompetisi untuk menentukan siapa yang terbaik.
>
> *Liga adalah cara untuk membuat pemain terus bermain, klub terus hidup, daerah terus bergerak, dan organisasi terus berkembang.*
Kalau kita ingin bridge Indonesia mempunyai masa depan yang kuat, kita tidak cukup hanya menghasilkan beberapa pemain hebat.
Kita harus mempunyai basis pemain yang besar.
Kita harus mempunyai klub yang aktif.
Kita harus mempunyai kompetisi yang berkelanjutan.
Dan kita harus mempunyai sistem pembinaan yang berjalan sepanjang tahun.
Semua itu dapat dimulai dari satu langkah:
# HIDUPKAN KEMBALI LIGA BRIDGE INDONESIA.
Kepada calon Ketua Umum PB GABSI 2026–2030, saya titipkan gagasan ini.
Saya sudah mengalaminya sejak 2002.
Sekarang, mari kita buat Liga Bridge Indonesia menjadi lebih besar, lebih modern, lebih terbuka, dan yang paling penting:
## tidak boleh berhenti lagi. ***
Bert Toar Polii – Pemain, pengurus dan pemerhati perkembangan bridge Indonesia














