Ekonomi
IndoEBTKE ConEx 2026: Pengembangan Sampah Bagian Memperkuat Ekosistem Energi Bersih untuk Kemandirian Energi Nasional

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot membuka penyelenggaraan ke-12 IndoEBTKE ConEx pada Rabu (2/9/2026), pengembangan energi dari sampah perkotaan ikut disorot. (Foto: Kementerian ESDM)
FAKTUAL INDONESIA: Di tengah dinamika geopolitik global yang mengancam rantai pasok dan harga energi dunia, pemerintah tancap gas memperkuat ekosistem Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE).
Langkah strategis ini ditegaskan kembali dalam ajang IndoEBTKE Convention and Exhibition (ConEx) 2026 yang dibuka oleh Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot pada Rabu (2/9/2026).
Setelah tiga tahun vakum, forum ini kembali menjadi wadah kolaborasi skala besar untuk mendorong swasembada energi nasional sesuai dengan agenda Asta Cita pemerintah.
“Energi baru terbarukan merupakan bagian dari program prioritas pemerintah yang tertuang dalam Asta Cita, yaitu memantapkan sistem pertahanan dan keamanan negara, serta mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada energi,” kata Yuliot.
Porsi EBT Digenjot Hingga 62 Persen
Untuk memperbesar kontribusi energi bersih, pemerintah telah menetapkan peningkatan kapasitas pembangkit EBT dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034. Pemerintah merancang peta jalan transisi energi yang agresif melalui RUPTL 2025–2034.
Dari total tambahan kapasitas pembangkit sebesar 70 gigawatt (GW) yang direncanakan, sebanyak 42,6 GW atau sekitar 62 persen dialokasikan khusus untuk pembangkit berbasis EBT.
“Pada RUPTL ini sekitar 62 persen, sekitar 42,6 gigawatt, ini merupakan target kita untuk meningkatkan pasokan energi, khususnya energi baru dan terbarukan,” ungkap Yuliot.
Selain pengembangan pembangkit EBT, pemerintah juga mendorong pemanfaatan bahan bakar nabati melalui implementasi B50. Upaya konservasi energi dilakukan melalui percepatan penggunaan kendaraan listrik, pembangunan jaringan gas, pemanfaatan compressed natural gas (CNG) sebagai substitusi LPG, serta peningkatan penggunaan sumber energi bersih lainnya.
Potensi Sampah Menjadi Sumber Energi
Pengembangan energi dari sampah perkotaan juga menjadi bagian dari upaya tersebut. Dari timbulan sampah nasional tahun 2025 sebesar 52,6 juta ton atau sekitar 145 ribu ton per hari, baru sekitar 25 persen yang terkelola.
Melalui teknologi waste to energy, sampah dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik, biomassa, maupun bahan bakar minyak terbarukan sekaligus mengurangi pencemaran dan meningkatkan kesehatan masyarakat.
Langkah ini dinilai sebagai solusi ganda: menyelesaikan krisis sampah sekaligus memasok kebutuhan energi bersih.
- Potensi Sampah Melimpah: Timbulan sampah nasional mencapai 52,6 juta ton per tahun atau sekitar 145 ribu ton per hari.
- Tantangan Pengelolaan: Saat ini baru sekitar 25 persen sampah perkotaan yang berhasil terkelola dengan baik.
- Solusi Waste to Energy: Melalui pengolahan berbasis teknologi, tumpukan sampah diolah menjadi tenaga listrik, biomassa, hingga bahan bakar minyak terbarukan yang sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan.
Tantangan Rantai Pasok
Meskipun potensi EBT sangat besar, Wamen ESDM Yuliot menekankan pentingnya membangun ekosistem EBTKE yang terintegrasi agar Indonesia tidak terjebak dalam ketergantungan teknologi impor.
Indonesia sejatinya memiliki kekayaan mineral melimpah—seperti nikel, tembaga, bauksit, dan silika—yang menjadi bahan baku utama komponen panel surya serta baterai kendaraan listrik. Penguasaan teknologi manufaktur lokal, riset mendalam, serta penguatan SDM dalam negeri menjadi kunci agar rantai pasok energi bersih nasional tetap mandiri, kokoh, dan siap mengawal Indonesia Emas 2045. ***













