Connect with us

Ekonomi

Rupiah Rabu 2 September 2026: Ditutup Terdepresiasi 19 Poin, Kamis Fluktuatif Melemah

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Dolar Amerika Serikat (AS) kembali menekan nilai tukar rupiah sehingga ditutup melemah pada perdagangan valuta asing Rabu (2/9/2026). (Foto: Istimewa)

Dolar Amerika Serikat (AS) kembali menekan nilai tukar rupiah sehingga ditutup melemah pada perdagangan valuta asing Rabu (2/9/2026). (Foto: Istimewa)

FAKTUAL INDONESIA: Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan pada penutupan perdagangan Rabu (2/9/2026). Rupiah ditutup kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Cek penyebab dan prediksi pergerakannya untuk Kamis (3/9/2026).

Hari ini, rupiah terdepresiasi 19 poin atau setara 0,11 persen ke level Rp17.763 per dolar AS, bergeser dari posisi penutupan sebelumnya di Rp17.744 per dolar AS.

Posisi rupiah di penutupan perdagangan valuta asing kali ini lebih baik dibandingkan saat pembukaan ketika melemah 30 poin atau 0,17 persen menjadi Rp17.774 per dolar AS.

Sementara itu, rupiah juga tercatat melemah pada Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia yang bergerak ke level Rp17.770 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.727 per dolar AS.

Pelemahan rupiah  selaras dengan tren yang dialami mayoritas mata uang kawasan Asia yang cendrung melemah. Untuk wilayah Asia Tenggara nasib rupiah sama dengan ringgit Malaysia yang melemah 0,1% dan peso Filipina merosot 0,25%.

Sedangkan mata uang baht Thailand menguat 0,05% dan dolar Singapura terpantau stabil.

Advertisement

Penguatan tertinggi di kawasan Asia dicetak oleh won Korea Selatan yang menanjak 0,58%, yen Jepang naik 0,32% dan rupee India merangkak 0,003%.

Dalam bagian lain dolar Taiwan melorot 0,28%, dolar Hong Kong turun 0,01% dan yuan China terkoreksi 0,001%.

Sentimen eksternal masih mendominasi pergerakan pasar uang, dipicu oleh ketidakpastian geopolitik global serta penyesuaian ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga acuan The Fed.

Faktor Utama Pelemahan

Pengamat Pasar Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi seperti dilansir RCTI+ mengatakan, rupiah melemah di tengah data terbaru yang dirilis Badan. Pusat Statistik (BPS) di mana tercatat inflasi umum 0,21 persen atau meningkat dibandingkan dengan deflasi 0,14 persen pada bulan sebelumnya.

Advertisement

Sementara secara tahunan (YoY), BPS melaporkan inflasi umum mencapai 3,19 persen atau meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 2,88 persen.

Kendati demikian, tekanan tersebut sebagian terimbangi oleh surplus perdagangan Juli 2026 setelah sebelumnya mencatatkan defisit selama dua bulan beruntun.

Indonesia mencatatkan ekspor Juli 2026 mencapai USD26,22 miliar atau naik 6,05 persen jika dibandingkan Juli 2025 (YoY). Nilai ekspor migas tercatat mencapai USD0,79 miliar atau turun 14,58 persen, sedangkan nilai ekspor nonmigas naik 6,84 persen dengan nilai pada Juli 2026 sebesar USD25,45 miliar.

Secara terpisah, Gubernur Bank Indonesia yang baru ditunjuk, Destry Damayanti, memproyeksikan pertumbuhan PDB tahun 2027 berada di kisaran 5,2–6 persen dan memperkirakan nilai tukar rupiah berada di kisaran 17.300–17.800 per USD pada tahun depan, inflasi tetap dalam sasaran 2,5 persen plus 1 persen, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) tetap sehat dan imbal hasil investasi yang menarik sehingga pasar keuangan akan semakin berkembang dan cadangan devisa yang memadai.

Dari eksternal, militer AS menyatakan telah menyelesaikan gelombang serangan terbaru terhadap Iran, dengan sasaran target-target Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di tengah eskalasi konflik yang dipicu oleh aksi saling serang pada akhir pekan.

Advertisement

Di sisi lain, retorika keras Ketua Kevin Warsh terkait inflasi di Simposium Jackson Hole menghidupkan kembali spekulasi kenaikan suku bunga, dengan CME FedWatch Tool menunjukkan sekitar 65 persen kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan 15-16 September, naik dari sekitar 40 persen seminggu yang lalu.

Dari perkembangan itu faktor pelemahan rupiah didorong oleh:

  • Kenaikan Yield Treasury AS: Lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS membuat dolar AS kembali perkasa dan memicu aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar negara berkembang.
  • Ketegangan Geopolitik: Konflik kawasan yang melibatkan AS dan Iran kembali memanas, sehingga memicu kewaspadaan pelaku pasar dan mendorong penguatan safe-haven asset.
  • Tekanan Inflasi: Kekhawatiran pasar terhadap data ekonomi domestik dan global turut menahan minat investor terhadap aset berisiko.

Prediksi Kamis, 3 September 2026

Pengamat mata uang memproyeksikan rupiah masih akan bergerak fluktuatif tetapi berpotensi melanjutkan pelemahan terbatas pada perdagangan Kamis (3/9/2026).

Mata uang Rupiah diperkirakan bergerak pada rentang Rp17.760 hingga Rp17.800 per dolar AS. Pelaku pasar disarankan untuk mencermati rilis data ekonomi AS lanjutan serta perkembangan arah kebijakan moneter Bank Indonesia dalam merespons tekanan dolar global.

Dengan berbagai sentimen di atas,  Ibrahim memproyeksikan mata uang rupiah fluktuatif pada perdagangan besok namun masih berpotnsi melemah pada rentang  Rp17.760 – Rp17.800 per dolar AS. ***

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Advertisement