Ekonomi
Pasar Keuangan Jumat 17 April 2026: IHSG BEI Berseri, Rupiah Terpuruk ke Terburuk

Ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) bangkit, sebaliknya justru nilai tukar (kurs) rupiah terpuruk pada perdagangan Jumat (17/4/2026). (Ist)
FAKTUAL INDONESIA: Masih seperti sehari sebelumnya, pasar keuangan Indonesia menutup pekan ini dengan dinamika yang kontras. Namun pada perdagangan Jumat (17/4/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) yang berseri sedangkan nilai tukar (kurs) rupiah terpuruk ke posisi terburuk. Kebalikan dari kondisi Kamis. Ada apa?
IHSG berhasil mengakhiri perdagangan Jumat di zona hijau, memberikan napas lega bagi para investor saham. Namun, keceriaan itu tidak menular ke nilai tukar rupiah yang justru semakin menjauh dari level psikologisnya.
IHSG Tipis Berarti
IHSG resmi menutup pekan ini dengan penguatan tipis namun berarti sebesar 12,62 poin atau 0,17% ke level 7.634. Kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 1,55 poin atau 0,20 persen ke posisi 758,87.
Sepanjang hari, indeks sempat menyentuh level tertinggi di 7.673 sebelum akhirnya menetap di angka penutupan.
IHSG ditutup menguat 12,62 poin atau 0,17 persen ke posisi 7.634,00. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 1,55 poin atau 0,20 persen ke posisi 758,87.
Tercatat sebanyak 348 saham bergerak menguat, 349 saham melemah, dan 262 saham lainnya stagnan. Volume transaksi tercatat mencapai 38,32 miliar saham, dengan nilai transaksi sebesar Rp15,66 triliun. Sedangkan frekuensi perdagangan mencapai 2,29 juta kali transaksi. Sementara kapitalisasi pasar atau market cap senilai Rp13.635 triliun.
Sebanyak tujuh dari 11 indeks sektoral bergerak di zona hijau yakni konsumer nonsiklikal, infrastruktur, properti, bahan baku, transportasi, industri, dan teknologi.
Saham-saham yang masuk top gainers yaitu saham PT City Retail Developments Tbk (NIRO) naik 34,74 persen ke Rp256, PT Danasupra Erapacific Tbk (DEFI) menguat 34,71 persen ke Rp163, dan PT Asia Sejahtera Mina Tbk (AGAR) menanjak 25 persen ke Rp280.
Sedangkan saham-saham yang masuk top losers antara lain, PT Agro Yasa Lestari Tbk (AYLS) melemah 12,72 persen ke Rp199, PT Prasidha Aneka Niaga Tbk (PSDN) merosot 14,66 persen ke Rp163, PT Sepeda Bersama Indonesia Tbk (BIKE) turun 14,60 persen ke Rp585.
Kenaikan ini didorong oleh angin segar dari kancah geopolitik. Rumor mengenai potensi pembicaraan damai antara Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump dengan Iran menjadi katalis utama. Sektor properti dan energi tercatat menjadi motor penggerak utama yang menjaga IHSG tetap tegak di tengah fluktuasi pasar Asia lainnya.
Pengamat pasar modal Elandry Pratama menuturkan, penguatan tidak terlalu kuat dan cenderung terbatas. Seperti dilansir liputan6, secara teknikal, ia menilai, kenaikan lebih merupakan rebound setelah tekanan sebelumnya, ditambah sentimen musiman seperti pembagian dividen yang mulai berlangsung pada April.
Elandry menuturkan, dalam jangka pendek, perhatian pelaku pasar akan bergeser ke sentimen domestik terutama keputusan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) pada 21-22 April 2026.
Dari sentimen global, Elandry menuturkan, meredanya tensi geopolitik antara AS dan Iran mendorong kembali risk appetite investor terhadap aset berisiko, termasuk pasar berkembang seperti Indonesia. “Hal ini menciptakan dorongan awal bagi IHSG untuk bergerak di zona hijau,” kata Elandry.
Selain itu, Elandry menuturkan, investor domestik justru relatif lebih aktif menopang pasar yang membuat kenaikan IHSG tetap terjadi, tetapi dengan karakter yang terbatas dan tidak terlalu kuat.
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang memperkirakan pergerakan IHSG pada pekan depan akan cenderung terbatas. Indeks diproyeksikan bergerak dalam rentang konsolidasi dengan level support di 7.500 dan resistance di 7.700.
Alrich, seperti dikutip Kontan, merekomendasikan sejumlah saham yang dapat dicermati investor pada pekan depan, antara lain MDKA, INTP, CLEO, WIIM, ULTJ, dan NCKL.
Rupiah Dekati Rp 17.200
Berbanding terbalik dengan saham, rupiah selain kembali melemah juga terpuruk. Mata uang Garuda justru sedang dalam tekanan hebat.
Pada penutupan pasar spot sore ini, rupiah melemah sekitar 50 poin atau 0,29 persen ke level Rp 17.189 per dolar AS. Lebih tajam dari saat pembukaan ketika dibuka melemah hanya 18 poin atau 0,10 persen menjadi Rp17.157 dari penutupan sebelumnya di level Rp17.139 per dolar AS.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp17.189 dari sebelumnya Rp17.142 per dolar AS.
Ini merupakan kurs terburuk sepanjang masa rupiah terhadap dolar AS. Pelemahan ini menandai tren negatif selama tiga pekan berturut-turut.
Para pengamat pasar menilai kondisi “undervalued” rupiah saat ini sudah cukup mengkhawatirkan. Secara fundamental, nilai wajar rupiah diprediksi berada di kisaran Rp15.600-an, namun tekanan sentimen eksternal memaksa mata uang Merah Putih bermain di level Rp 17.000.
Ada beberapa faktor yang membuat “otot” rupiah mengendur:
- Dominasi Dollar AS: Data tenaga kerja AS yang solid membuat investor kembali memburu Dollar sebagai aset aman.
- Sentimen Domestik: Adanya kekhawatiran pasar terhadap risiko fiskal Indonesia dibandingkan negara tetangga di ASEAN membuat aliran modal keluar tetap terasa.
- Harga Minyak: Meski ada harapan damai, harga minyak mentah dunia yang masih bertengger di level tinggi terus memberikan tekanan pada neraca perdagangan.
“Rupiah sore ini ditutup melemah 50 poin di level Rp17.188 dari penutupan sebelumnya Rp17.138, sebelumnya sempat melemah 60 poin,” kata Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi, Jumat (17/4).
Menurut Ibrahim seperti dilandir priskop, dari eksternal, indeks dolar AS menguat didorong optimisme bahwa konflik Timur Tengah berpotensi segera mereda. Dari sisi data ekonomi AS, klaim pengangguran awal tercatat turun menjadi 207 ribu namun, data ketenagakerjaan dan JOLTS menunjukkan aktivitas perekrutan masih relatif rendah.
Sementara itu, pejabat Federal Reserve menegaskan bahwa kebijakan moneter saat ini masih berada di jalur yang tepat.
Dari dalam negeri, fundamental ekonomi Indonesia pada awal 2026 masih relatif solid. Inflasi tetap terjaga dalam target Bank Indonesia. Namun demikian, tekanan mulai muncul akibat eskalasi konflik global yang mendorong harga minyak melampaui asumsi APBN. Harga minyak Brent bahkan sempat menyentuh level US$118 per barel dalam beberapa pekan terakhir, meningkatkan risiko terhadap beban fiskal.
“Untuk perdagangan pecan depan, mata uang rupiah diperkirakan akan fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.180-Rp17.220,” tutur Ibrahim.
Ringkasan Pasar (Jumat, 17 April 2026):
- IHSG:634 (+0,17%)
- Rupiah: Rp 17.188 per USD
- Sentimen Utama: Negosiasi damai AS-Iran & Data Tenaga Kerja AS. ***














