Ekonomi
IHSG Berpeluang Rebound, Wall Street Diwarnai Anjlognya Tesla Milik Elon Musk

IHSG diprediksi naik, Wall Street bervariasi
FAKTUAL-INDONESIA: Pada perdagangan hari ini, Selasa (17/5/2022), di tengah kekhawatiran perlambatan ekonomi global, Indeks Harga Saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) diproyeksikan menguat.
IHSG menguat 5,9 poin atau 0,09 persen ke posisi 6.603,89. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 1,16 poin atau 0,12 persen ke posisi 997,14.
“IHSG pada perdagangan hari ini berpeluang rebound, bergerak pada rentang 6.548-6.633,” tulis Tim Riset Lotus Sekuritas dalam kajiannya di Jakarta, seperti dilansir antaranews.com, Selasa.
Indeks utama Wall Street ditutup cenderung melemah pada awal pekan (16/5), didorong kekhawatiran investor akan potensi resesi AS dan perlambatan ekonomi global.
Kenaikan suku bunga acuan The Fed (FFR) yang lebih agresif untuk melawan inflasi, dikhawatirkan dapat menimbulkan resesi ekonomi di tengah konflik Ukraina, gangguan rantai pasokan dan lockdown di China.
Kenaikan suku bunga juga memberikan sentimen negatif bagi saham teknologi dan pertumbuhan di AS. Apple, Alphabet dan Amazon melemah lebih dari 1 persen, sedangkan Tesla turun 5,88 persen.
Fokus pelaku pasar tertuju pada laporan penjualan ritel yang akan rilis pada Selasa (17/5), setelah data inflasi dan sentimen konsumen yang mengkhawatirkan pekan lalu.
Pelaku pasar juga masih mencermati ketidakpastian prospek kebijakan moneter, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi.
Pelaku pasar juga mencermati perkembangan geopolitik di mana Finlandia mengumumkan akan bergabung dengan aliansi militer NATO pada Minggu (15/5), langkah bersejarah setelah kebijakan netralitas militer selama beberapa dekade.
Dari Asia, pelaku pasar mencermati data ekonomi China yang dilaporkan di bawah ekspektasi, akibat kelanjutan lockdown sebagai bagian kebijakan zero COVID-19.
Penjualan ritel bulan April turun jauh di bawah ekspektasi mencapai -11,1 persen (yoy) dan produksi industri turun – 2,9 persen (yoy).
China juga mengalami kenaikan tingkat pengangguran ke level 6,1 persen pada April, di mana tingkat pengangguran kaum muda mencapai rekor.
Bursa saham regional Asia pagi ini antara lain Indeks Nikkei menguat 156,38 poin atau 0,59 persen ke 26.703,43, Indeks Hang Seng naik 366,28 poin atau 1,84 persen ke 20,316,49, dan Indeks Straits Times meningkat 19,74 poin atau 0,62 persen ke 3.210,9.
Wall Street Bervariasi
Wall Street bervariasi pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), karena volatilitas pasar berlanjut dengan indeks S&P 500 ditutup lebih rendah karena Tesla jatuh dan saham pertumbuhan lainnya melemah setelah data ekonomi China yang suram menambah kekhawatiran tentang perlambatan global dan kenaikan suku bunga.
Indeks Dow Jones Industrial Average bertambah 26,76 poin atau 0,08 persen, menjadi menetap di 32.223,42 poin. Indeks S&P 500 terkikis 15,88 poin atau 0,39 persen, menjadi berakhir di 4.008,01 poin. Indeks Komposit Nasdaq jatuh 142,21 poin atau 1,20 persen, menjadi ditutup di 11.662,79 poin.
Tujuh dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah, dengan sektor konsumen non-primer dan teknologi masing-masing tergelincir 2,12 persen dan 0,91 persen, memimpin kerugian. Sementara itu, sektor energi terangkat 2,62 persen, merupakan kelompok berkinerja terbaik.
Aktivitas ekonomi China mendingin tajam pada April karena meluasnya penguncian COVID-19 berdampak besar pada konsumsi, produksi industri, dan lapangan kerja, menambah kekhawatiran ekonomi dapat menyusut pada kuartal kedua.
Namun, saham-saham energi mendapat dorongan dari optimisme bahwa China akan melihat pemulihan permintaan yang signifikan setelah tanda-tanda positif bahwa pandemi virus corona surut di daerah yang paling terpukul.
Investor mempertanyakan apakah hari yang kuat di Wall Street Jumat (13/5/2022) lalu mungkin menandakan akhir dari aksi jual baru-baru ini yang telah membuat indeks S&P 500 anjlok sekitar 16 persen dari rekor penutupan tertinggi pada Januari.
“Setelah reli besar pada Jumat (13/5/2022), orang-orang melihat sekeliling dan bertanya apakah itu terasa berkelanjutan,” kata Ross Mayfield, ahli strategi investasi di Baird di Louisville, Kentucky.
“Apakah ini terasa seperti dorongan momentum yang akan Anda lihat naik dari titik terendah, atau masih ada lagi kapitulasi yang harus diselesaikan?”
Banyak saham pertumbuhan megacap Wall Street lebih rendah, dengan Amazon dan pemilik Google Alphabet kehilangan lebih dari satu persen dan membebani indeks S&P 500 dan Nasdaq.
Twitter turun lebih dari 8,0 persen setelah Bloomberg melaporkan bahwa Elon Musk mengatakan kesepakatan untuk membeli perusahaan media sosial dengan harga lebih rendah dari yang sebelumnya disepakati 44 miliar dolar AS adalah “tidak mungkin.”
Tesla, yang dipimpin Musk, juga anjlok hampir 6,0 persen.
Investor telah khawatir bahwa kenaikan suku bunga agresif oleh Federal Reserve AS untuk memerangi inflasi yang tinggi selama beberapa dekade dapat mengarahkan ekonomi ke dalam resesi, dengan konflik di Ukraina, gangguan rantai pasokan dan penguncian terkait pandemi di China memperburuk masalah ekonomi. ***














