Ekonomi
IHSG BEI Bangkit Perkasa Tembus Level 8.100, Rupiah Tergelincir Digoyang Dolar

FAKTUAL INDONESIA: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) tampil perkasa pada perdagangan saham, Selasa (10/2/2026), di mana mampu bangkit dari posisi melemah pada pembukaan ke menguat saat penutupan.
Sebaliknya perjalanan nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan valuta hari ini. Sempat menguat di pembukaan namun kemudian tergelincir digoyang dolar AS sehingga melemah saat penutupan perdagangan.
Baca Juga : IHSG BEI Rebound Fantastis, Rupiah Menguat Pimpin Mayoritan Mata Uang Asia
Pendorong Utama IHSG
IHSG BEI sempat dibuka ragu-ragu di zona merah, indeks komposit akhirnya berhasil membalikkan keadaan dan ditutup menguat signifikan di atas level psikologis 8.100.
Berdasarkan data RTI Business dan penutupan perdagangan BEI, IHSG parkir di level 8.131,74, melonjak 1,24% atau naik 99,86 poin dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 8,49 poin atau 1,03 persen ke posisi 829,43.
Pergerakan hari ini terbilang cukup dinamis. IHSG mengawali pagi dengan sedikit tekanan ke level terendah 8.011,13, setelah dibuka melemah 0,29 poin atau 0,01 persen ke posisi 8.031,58. Untuk kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 0,15 poin atau 0,01 persen ke posisi 820,94. Namun arus beli yang deras terutama di sesi kedua membawa indeks terbang hingga menyentuh level tertinggi harian di 8.140,86.
Baca Juga : Nilai Tukar Rupiah dan IHSG BEI Sama-sama Melemah Sejak Pembukaan hingga Penutupan Perdagangan Jumat
Berikut adalah ringkasan data perdagangan hari ini:
- Jumlah Saham Menguat: 433 saham
- Jumlah Saham Melemah: 252 saham
- Saham Stagnan: 136 saham
- Total Transaksi: Mencapai Rp17,75 triliun dengan volume 40,54 miliar saham.
Kenaikan IHSG hari ini didorong oleh optimisme investor terhadap rilis Indeks Penjualan Riil Januari 2026 yang diperkirakan tumbuh 7,9%. Selain itu, sektor perbankan dan energi menjadi motor penggerak utama. Saham-saham seperti BBTN tampil “gacor” setelah mencatatkan laba tahun 2025 yang melampaui ekspektasi pasar.
Di sisi lain, meskipun investor asing masih tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) di beberapa saham tertentu, namun aliran masuk (inflow) yang kuat pada saham lapis kedua dan big caps tertentu berhasil menjaga momentum hijau di lantai bursa.
Baca Juga : IHSG Berpotensi Terus Menguat, Rupiah Belum Bisa Lepas dari Ketegangan Amerika – Iran
“IHSG tetap menguat mengikuti Bursa kawasan Asia. Meskipun begitu, penguatan tertahan oleh keputusan FTSE Russell untuk menunda review indeks Indonesia yang semula dijadwalkan pada Maret 2026,” ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus dalam kajiannya di Jakarta, Selasa, seperti dilansir jawapos.
Para analis menilai kenaikan ini merupakan fase konsolidasi yang berujung pada penguatan jangka pendek. Keberhasilan IHSG bertahan di atas angka 8.100 menjadi sinyal positif bahwa pasar mulai stabil setelah sempat mengalami volatilitas tinggi di awal bulan.
“Pasar merespons positif arah kebijakan ekonomi yang dibedah dalam forum Economic Outlook hari ini. Kepercayaan konsumen yang meningkat menjadi bahan bakar utama IHSG untuk melaju lebih jauh,” ujar salah satu analis pasar modal.
Head of Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, seperti dilansir kontan, memperkirakan untuk perdagangan Rabu (11/2/2026), IHSG masih berpeluang menguat terbatas dengan level support di 8.100 dan resistance di 8.162. Investor juga akan mencermati perkembangan pertemuan bursa dengan MSCI serta rilis data ekonomi Amerika Serikat.
Baca Juga : Skenario Terburuk IHSG BEI setelah Ambruk Hampir 5 Persen, Rupiah Tergelincir Tertekan Keputusan Trump
“Saham yang dapat dicermati antara lain AMMN di kisaran Rp7.875-Rp8.225, BBYB Rp384-Rp436, dan RMKE Rp4.560-Rp5.075,” tambahnya.
Rupiah Goyang Tipis
Sementara itu nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau bergerak fluktuatif cenderung melemah tipis pada penutupan perdagangan Selasa (10/2/2026). Meskipun sempat mencicipi zona hijau di pagi hari, mata uang Garuda akhirnya harus menyerah kalah tipis di hadapan Greenback.
Berdasarkan data pasar spot Bloomberg, rupiah ditutup pada level Rp16.811 per dolar AS, melemah sekitar 6 poin atau 0,04% dibandingkan posisi penutupan sebelumnya.
Baca Juga : IHSG Anjlok Hampir 5 Persen, Pemerintah Imbau Pasar Tetap Tenang
Pagi tadi, rupiah sebenarnya memberikan harapan bagi investor dengan dibuka menguat di level Rp16.787. Sentimen positif sempat datang dari kabar bahwa pemerintah China menyarankan lembaga keuangan domestiknya untuk mengurangi kepemilikan obligasi pemerintah AS. Langkah ini sempat membuat dolar loyo dan memberi ruang napas bagi mata uang negara berkembang. Namun, memasuki sore hari, keadaan berbalik.
Beberapa faktor menjadi “beban” bagi rupiah:
- Indeks Dolar Menguat Kembali: Indeks dolar AS naik tipis ke posisi 96,89 setelah sempat merosot dua hari berturut-turut.
- Aksi Wait and See: Investor cenderung berhati-hati menanti rilis data ekonomi domestik yang lebih komprehensif serta arah kebijakan suku bunga The Fed yang diprediksi tetap hawkish.
- Sentimen Regional: Pelemahan rupiah ini sejalan dengan mayoritas mata uang Asia lainnya, seperti Peso Filipina dan Won Korea yang juga terdepresiasi hari ini.
Meski rupiah melemah tipis, stabilitas ekonomi domestik masih cukup terjaga. Bank Indonesia (BI) hari ini merilis data Indeks Penjualan Riil (IPR) Januari 2026 yang diperkirakan tumbuh kuat sebesar 7,9% (yoy).
Baca Juga : OJK Percepat Reformasi Pasar Modal Usai Gejolak IHSG
Angka ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat Indonesia masih solid, terutama didorong oleh kelompok barang budaya, rekreasi, serta makanan dan minuman. Optimisme domestik inilah yang mencegah rupiah “terjun” lebih dalam di tengah tekanan eksternal.
Analis memperkirakan rupiah besok masih akan bergerak di kisaran Rp16.750 hingga Rp16.900. Fokus pasar akan tertuju pada bagaimana BI menjaga stabilitas nilai tukar di tengah isu keluarnya modal asing (outflow) yang sempat membayangi pasar modal sejak awal bulan.
“Rupiah saat ini sedang mencari titik keseimbangan baru. Sentimen dari China memang membantu, tapi kekuatan ekonomi AS yang masih tangguh membuat dolar tetap sulit untuk ditaklukkan sepenuhnya,” ungkap salah satu pengamat pasar uang. ***













