Ekonomi
IHSG BEI Rebound Fantastis, Rupiah Menguat Pimpin Mayoritan Mata Uang Asia

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dan nilai tukar (kurs) rupiah bergerak cemerlang sehingga ditutup menguat pada perdagangan saham dan valuta Senin (9/2/2026).
FAKTUAL INDONESIA: Awal pekan yang cerah untuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan nilai tukar (kurs) rupiah pada perdagangan Senin (9/2/2026).
IHSG BEI berhasil mencatatkan pembalikan arah (rebound) yang mengesankan setelah sempat tertekan hingga ke zona merah pekan lalu. IHSG hari ini dibuka menguat dan ditutup melesat tajam.
Sementara itu nilai tukar (kurs) rupiah juga tampil menguat sejak pembukaan hingga penutupan perdagangan valuta hari ini. Bahkan rupiah memimpin penguatan mayoritas mata uang di kawasan Asia.
Baca Juga : Nilai Tukar Rupiah dan IHSG BEI Sama-sama Melemah Sejak Pembukaan hingga Penutupan Perdagangan Jumat
IHSG Didorong IKK
Berdasarkan data BEI pada penutupan perdagangan sore ini, IHSG parkir di posisi 8.031,87. Angka ini menunjukkan penguatan sebesar 96,61 poin atau naik 1,22% dibandingkan penutupan akhir pekan lalu.
“Setelah sempat dibuka melemah, akibat sentimen negatif dari penurunan outlook atas peringkat beberapa emiten, IHSG berhasil berbalik menguat. Faktor positif antara lain berasal dari penguatan indeks bursa kawasan Asia,” ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, seperti dikutip dari metrotv, Senin.
Selain itu, Ratna mengatakan berlanjutnya penguatan harga emas, perak serta tembaga juga menjadi sentimen positif.
Untuk perdagangan Selasa (10/2/2026), Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus memproyeksikan IHSG bergerak dalam rentang 7.910-8.160. Nico menilai peluang penguatan masih terbuka, namun dengan volatilitas yang tetap perlu diantisipasi.
Baca Juga : IHSG Berpotensi Terus Menguat, Rupiah Belum Bisa Lepas dari Ketegangan Amerika – Iran
“Investor disarankan tetap selektif. Saham-saham berbasis komoditas seperti batu bara dan emas masih bisa dicermati di tengah dinamika global,” katanya seperti dilansir kontan.
Dalam kondisi pasar yang belum sepenuhnya stabil, Nico menyarankan investor tetap mengedepankan manajemen risiko serta fokus pada saham dengan fundamental solid dan likuiditas terjaga.
Lonjakan IHSG hari ini bertepatan dengan rilis data makroekonomi domestik yang positif. Bank Indonesia (BI) melaporkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Januari 2026 melonjak ke level 127, yang merupakan angka tertinggi dalam setahun terakhir.
Optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi Indonesia hingga enam bulan ke depan memberikan angin segar bagi para investor untuk melakukan aksi beli, terutama pada saham-saham blue chip dan sektor energi.
Baca Juga : Skenario Terburuk IHSG BEI setelah Ambruk Hampir 5 Persen, Rupiah Tergelincir Tertekan Keputusan Trump
Mayoritas sektor saham bergerak di zona hijau. Sektor energi, barang baku, dan properti menjadi motor utama penguatan hari ini. Beberapa saham yang mencatatkan kenaikan signifikan dan menjadi market movers antara lain:
- DSSA (Dian Swastatika Sentosa): Naik 9% (Penopang utama dari Grup Sinar Mas).
- PANI (Pantai Indah Kapuk Dua): Melesat 10%.
- EMAS (Saratoga): Terbang 15%.
- BRMS (Bumi Resources Minerals): Menguat 7%.
Di sisi lain, sektor perbankan seperti BBCA sempat menjadi pemberat di awal sesi namun tekanan tersebut berhasil diredam oleh aksi beli selektif di sektor lain.
Penguatan IHSG juga sejalan dengan mayoritas bursa saham di Asia yang bergerak bullish. Indeks Nikkei 225 Jepang tercatat melonjak lebih dari 4%, merespons kondisi politik dan kebijakan suku bunga di sana. Selain itu, rencana pertemuan BEI dengan penyedia indeks global MSCI pada Rabu mendatang turut menambah ekspektasi positif pasar terkait reformasi pasar modal Indonesia.
Baca Juga : IHSG Anjlok Hampir 5 Persen, Pemerintah Imbau Pasar Tetap Tenang
Pesta Bareng Mata Uang Asia
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menutup perdagangan awal pekan, Senin (9/2/2026), dengan performa gemilang. Setelah sempat tertekan pada pekan lalu, “Sang Garuda” sukses terbang tinggi dan memimpin penguatan mayoritas mata uang di kawasan Asia.
Berdasarkan data pasar spot pada penutupan perdagangan hari ini, untuk Kurs Spot, rupiah ditutup menguat 0,39% ke level Rp16.795 per dolar AS. Kurs Transaksi BI, Bank Indonesia (BI) menetapkan kurs jual di Rp16.971 dan kurs beli di Rp16.802.
Saat pembukaan rupiah dibuka menguat tipis di level Rp16.855 per dolar AS. Namun kemudian bergerak fluktuatif meskipun stabil di kisaran Rp16.794 hingga Rp16.870.
Baca Juga : Bareskrim Selidiki Dugaan Manipulasi Saham Usai IHSG Anjlok Tajam
Setidaknya ada tiga faktor utama yang membuat rupiah tampil perkasa pada perdagangan hari ini:
- Pelemahan Indeks Dolar AS (DXY) Indeks dolar AS terpantau melorot ke level 97,38. Pelemahan ini memberi ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk bernapas lega dan melakukan rebound setelah tekanan beruntun dalam tiga hari terakhir.
- Sentimen Positif Domestik: Pelantikan Deputi Gubernur BI Pasar merespons positif pelantikan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia periode 2026-2031. Kepastian figur di pucuk pimpinan otoritas moneter ini memberikan sinyal stabilitas kebijakan yang dinantikan oleh para investor.
- Rekor Keyakinan Konsumen Data internal yang menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Januari 2026 melonjak ke level 127 menjadi bukti solidnya fundamental ekonomi domestik. Optimisme masyarakat terhadap ekonomi ke depan memicu aliran modal masuk (inflow) ke pasar keuangan Indonesia.
Baca Juga : IHSG Benar-benar Pulih dan Menguat Setelah Dirut BEI Mundur, Rupiah Ditekan Sentimen Global
Rupiah tidak sendirian. Mayoritas mata uang Asia juga bergerak di zona hijau memanfaatkan momentum pelemahan dolar. Yen Jepang tercatat menguat 0,6%, diikuti oleh penguatan di ringgit Malaysia dan baht Thailand. Namun, penguatan rupiah sebesar 0,39% termasuk yang paling menonjol di kawasan regional sore ini.
Analis memperkirakan rupiah masih memiliki ruang penguatan terbatas pada perdagangan Selasa besok. Pergerakan diperkirakan akan berada dalam rentang konsolidasi Rp16.750 – Rp16.850 per dolar AS, sambil memantau rilis data inflasi global yang akan datang.
Penguatan rupiah hari ini juga dibarengi dengan kenaikan harga emas Antam yang menyentuh Rp2.940.000 per gram. Bagi Anda yang memegang dolar, ini bisa menjadi momentum untuk melakukan diversifikasi aset. ***













