Ekonomi
IHSG Berpotensi Terus Menguat, Rupiah Belum Bisa Lepas dari Ketegangan Amerika – Iran

Senyum mewanai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan saham, Rabu (4/2/2026), setelah dibuka dan ditutup menguat namun nilai tukar (kurs) rupiah pada perdagangan valuta masih loyo lemah tertekan dolar Amerika Serikat (AS)
FAKTUAL INDONESIA: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) yang hari ini, Rabu (4/2/2026), mulai nyaman di zona hijau diperkirakan berpotensi terus menguat pada perdagangan saham Kamis (5/2/2026).
Sebaliknya nilai tukar rupiah yang pada perdagangan valuta Rabu loyo terhadap dolar Amerika Serikat belum akan mampu lepas dari imbas ketegangan global antara Amerika dan Iran sehingga akan kembali terseret ke zona merah.
IHSG Nyaris Tergelincir
Pada perdagangan Rabu, IHSG BEI yang dibuka menguat nyaris tergelincir ke zona merah ketika melemah pada penutupan sesi pertama perdagangan. Namun IHSG mampu bangkit untuk membalik posisi menjadi menguat saat penutupan perdagangan.
IHSG ditutup menguat 24,12 poin atau 0,30 persen ke posisi 8.146,72. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 9,06 poin atau 1,10 persen ke posisi 832,79.
Meskipun menguat namun IHSG menurun tipis dibandingkan saat pembukaan perdagangan ketika dibuka menguat 28,45 poin atau 0,35 persen ke posisi 8.151,05. Untuk kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 3,50 poin atau 0,42 persen ke posisi 827,23.
Seperti dilansir kontan.co.id, VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi mengatakan, penguatan IHSG ditopang oleh sektor basic industry, khususnya saham-saham berbasis komoditas mineral, di tengah penantian pasar terhadap komitmen regulator untuk memulihkan kepercayaan investor global.
“IHSG ditutup menguat 0,30% ke level 8.146,72 meskipun masih terjadi net sell asing mencapai Rp1 triliun. Penguatan ini dipengaruhi oleh sektor basic industry, terutama komoditas mineral, serta penantian pasar terhadap langkah regulator dalam mengembalikan kepercayaan investor global,” ujar Audi kepada Kontan, Rabu (4/2/2026).
Untuk perdagangan Kamis (5/2/2026), Audi memproyeksikan IHSG bergerak mixed cenderung menguat, dengan level support di 7.970 dan resistance di 8.340. Secara teknikal, indikator RSI menunjukkan tren kenaikan setelah keluar dari zona oversold.
“IHSG berpotensi bergerak mixed cenderung menguat, seiring indikator RSI yang mulai naik pasca keluar dari area oversold,” tambah Audi.
Sentimen pasar akan tertuju pada rilis data pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia tahun penuh 2025 yang secara konsensus diperkirakan tumbuh 5% secara tahunan. Jika realisasi data berada di atas ekspektasi, pasar berpeluang merespons positif.
Selain itu, pergerakan saham berbasis komoditas masih diperkirakan mewarnai perdagangan, seiring membaiknya harga mineral dunia. Harga emas tercatat kembali menguat ke atas level US$5.000 per troy ounce, sementara perak berada di kisaran US$89 per troy ounce.
Untuk saham pilihan, Kiwoom Sekuritas merekomendasikan saham BMRI dengan strategi trading buy di area support Rp4.820 dan resistance Rp5.250, serta AMMN dengan strategi speculative buy di kisaran support Rp7.000 dan resistance Rp8.400.
Phintraco Sekuritas seperti dilansir investor.id, menjelaskan, secara teknikal, pembentukan histogram negatif MACD cenderung mengecil dan indikator stochastic RSI bertahan di oversold area.
“Sehingga kami memperkirakan IHSG berpotensi uji level 8.200 pada perdagangan Kamis (5/2/2026),” tulis Phintraco Sekuritas dalam ulasan, Rabu (4/2/2026).
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, empat sektor menguat yaitu dipimpin sektor barang baku yang menguat sebesar 2,97 persen, diikuti oleh sektor industri dan sektor keuangan yang naik masing-masing sebesar 1,13 persen dan 0,97 persen.
Sedangkan, tujuh sektor menurun yaitu sektor barang konsumen non primer yang turun paling dalam minus sebesar 4,16 persen, diikuti oleh sektor infrastruktur dan sektor barang konsumen primer yang turun sebesar 2,33 persen dan 1,46 persen.
Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu MBTO, NZIA, NASI, LAJU dan SURI. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni BIPI, TRUE, UNIQ, MORA dan BUVA.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.890.404 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 45,43 miliar lembar saham senilai Rp25,74 triliun. Sebanyak 301 saham naik 391 saham menurun, dan 125 tidak bergerak nilainya.
Bursa saham regional Asia sore ini antara lain, indeks Nikkei melemah 427,30 poin atau 0,78 persen ke 54,293,39, indeks Shanghai menguat 34,46 poin atau 0,85 persen ke 4.102,20, indeks Hang Seng menguat 12,55 poin atau 0,05 persen ke 26.847,32, dan indeks Strait Times menguat 21,41 poin atau 0,54 persen ke 4.965,50.
Rupiah Masih Terseret
Nilai tukar (kurs) rupiah tidak bisa melepaskan diri dari posisi melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sejak pembukaan perdagangan valuta hingga penutupan Rabu sore.
Ketika perdagangan dibuka, nilai tukar rupiah melemah 9 poin atau 0,05 persen menjadi Rp16.763 dari sebelumnya Rp16.754 per dolar AS. Pemelahan rupiah makin tajam ketika ditutup
melemah 23 poin atau 0,14 persen menjadi Rp16.777 dari sebelumnya Rp16.754 per dolar AS.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini justru bergerak menguat ke level Rp16.775 dari sebelumnya Rp16.777 per dolar AS.
Melemahnya rupiah pada pembukaan dan penutupan perdagangan kali ini karena tertekan oleh penguatan indeks dolar AS yang dipicu memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah serta data manufaktur AS yang melampaui ekspektasi. Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi seperti dilansir periskop.id, mencatat rupiah kehilangan tenaga setelah sempat menguat di hari sebelumnya.
“Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 23 point sebelumnya sempat melemah 25 point di level Rp16.776 dari penutupan sebelumnya di level Rp16.754,” ujar Ibrahim.
Dari sisi eksternal, sentimen negatif datang dari insiden militer di Laut Arab, di mana pasukan AS menembak jatuh drone Iran yang mendekati kapal induk USS Abraham Lincoln. Selain geopolitik, keperkasaan dolar didorong oleh data ekonomi domestik AS yang solid. PMI Manufaktur ISM melonjak ke level 52,6 pada Januari (dari 47,9 di Desember), jauh di atas ekspektasi pasar. Fokus pasar selanjutnya tertuju pada rilis data ketenagakerjaan ADP malam ini.
Dari dalam negeri, rupiah dibayangi oleh catatan kritis Bank Dunia terhadap struktur ekonomi Indonesia. Meski kinerja ekonomi stabil, Bank Dunia menilai Indonesia sulit keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle-income trap) jika tidak segera melakukan reformasi struktural yang mendalam.
Bank Dunia menyoroti kurang dinamisnya ekosistem perusahaan besar di Indonesia dan produktivitas yang tidak meningkat seiring skala usaha. Dibutuhkan peralihan ke mesin pertumbuhan endogen yang fokus pada inovasi dan perluasan pasar internasional, serta penegakan kesetaraan kesempatan berusaha (level playing field) yang lebih konsisten.
Ibrahim memperkirakan sentimen global masih akan mendominasi pergerakan mata uang garuda di sisa pekan ini.
“Untuk perdagangan besok, Kamis (5/2), mata uang rupiah fluktuatif namun diperkirakan akan ditutup melemah di rentang Rp16.770-Rp16.800,” pungkasnya. ***














