Connect with us

Ekonomi

Pasar Keuangan Jumat 10 April 2026 Kontradiktif: IHSG BEI Lampaui Ekspektasi, Rupiah Dekati Titik Terlemah

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Suasana ceria di perdagangan saham dengan menguatnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kontras dengan kelesuan di pasar valuta asing dengan makin melemahnya nilai tukar (kurs) rupiah, Jumat (10/4/2026). (Ist)

Suasana ceria di perdagangan saham dengan menguatnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kontras dengan kelesuan di pasar valuta asing dengan makin melemahnya nilai tukar (kurs) rupiah, Jumat (10/4/2026). (Ist)

FAKTTUAL INDONESIA: Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dan nilai tukar (kurs) rupiah tidak berimbang sehingga pasar keuangan Indonesia kembali kontradiktif, Jumat (10/4/2029).

Kalau IHSG menunjukan keperkasaannya dengan dengan menguat dan menguat di perdagangan saham sejak pagi hingga sore maka kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) justru sebaliknya di perdagangan valuta asing.

Meskipun sempat memberikan harapan bangkit di pembukaan namun rupiah harus tergelincir melemah nyaris ke titik terlemah sepanjang masa yang tercatat Rp17.105 per dolar AS pada penutupan pasar spot tanggal 7 April 2026.

Tak pelak lagi pasar keuangan Indonesia menutup warna hijau dan memerah. IHSG berhasil mencatatkan reli tajam untuk bertahan di zona hijau, sementara nilai tukar rupiah justru tertekan hingga terperosok ke zona merah.

IHSG Melaju Kencang

Advertisement

IHSG ditutup menguat signifikan sebesar 150,91 poin atau 2,07% ke posisi 7.458,50. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 12,57 poin atau 1,71 persen ke posisi 746,47.

Lebih meningkat dari posisi pembukaan ketika IHSG dibuka menguat 38,90 poin atau 0,53 persen ke posisi 7.346,49. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 3,83 poin atau 0,52 persen ke posisi 737,73.

Sepanjang hari ini, indeks bergerak nyaman di zona hijau dengan sokongan kuat dari sektor keuangan dan konsumer siklikal.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sepuluh sektor menguat yaitu dipimpin sektor industri yang menguat sebesar 4,09 persen, diikuti oleh sektor keuangan dan sektor barang konsumen non primer yang naik masing-masing sebesar 2,92 persen dan 2,56 persen. Sedangkan, satu sektor menurun yaitu sektor kesehatan yang turun sebesar 0,04 persen.

Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu CITY, WBSA, DIVA, OPMS dan PADI. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni KUAS, HDFA, MSKY, IPAC dan CTTH.

Advertisement

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.287.124 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 42,94 miliar lembar saham senilai Rp18,12 triliun. Sebanyak 485 saham naik 181 saham menurun, dan 153 tidak bergerak nilainya.

Optimisme pasar saham dipicu oleh kepercayaan investor institusi global. Salah satu sentimen positif datang dari aksi borong saham oleh raksasa manajer aset BlackRock pada saham BREN, yang memberikan sinyal kuat bahwa minat asing terhadap pasar modal Indonesia masih cukup tinggi meskipun ada tekanan makro.

“Secara teknikal, beberapa indikator mengindikasikan penguatan IHSG berpeluang berlanjut. Diperkirakan IHSG berpotensi menguji level 7.500-7.550,” tulis Phintraco Sekuritas dalam ulasan, Jumat (10/4/2026), seperti dilansir investor.

Phintraco Sekuritas memberikan rekomendasi saham-saham yang dapat diperhatikan pada pekan depan, antara lain saham BBCA, BBRI, MYOR, ISAT, EXCL dan BRIS untuk trading, Senin (13/4/2026).

Rupiah Harus Merana

Advertisement

Berbanding terbalik dengan bursa saham, rupiah harus merana. Berdasarkan data pasar spot, mata uang Garuda ditutup melemah 14 poin 0,08% ke level Rp17.104 per dolar AS. Bahkan, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) berada di posisi yang lebih dalam, yakni Rp17.112 dari sebelumnya Rp17.082 per dolar AS.

Padahal rupiah sempat memberi harapan saat pembukaan perdagangan ketika  dibuka menguat 7 poin atau 0,04 persen menjadi Rp17.083 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.090 per dolar AS.

Pelemahan ini menempatkan rupiah pada posisi penutupan (closing) nyaris kembali terlemah sepanjang sejarah.

Beberapa faktor utama yang menekan Rupiah meliputi:

  1. Ketegangan Geopolitik: Eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan AS dan Iran masih menjadi beban berat bagi mata uang negara berkembang (emerging markets).
  2. Data Inflasi AS: Sikap investor yang cenderung wait and see menjelang rilis data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat membuat dolar AS kembali perkasa (Greenback rebound).
  3. Sentimen Regional: Pelemahan Rupiah sejalan dengan tren mata uang Asia lainnya, di mana Won Korea dan Peso Filipina juga mengalami koreksi tajam.

“Rupiah sore ini ditutup melemah 14 poin di level Rp17.104 dari penutupan sebelumnya Rp17.092, sebelumnya sempat melemah hingga 30 poin,” ujar Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi, Jumat (10/4).

Dalam sepekan, menurut Ibrahim seperti dilansir priskop, rupiah diperkirakan bergerak pada kisaran Rp17.040–Rp17.200, seiring masih tingginya ketidakpastian global dan menunggu arah kebijakan The Fed.

Advertisement

“Untuk perdagangan awal pekan depan, rupiah diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.110–Rp17.160,” imbuh Ibrahim.

Analisis & Proyeksi Pekan Depan

Meski IHSG melonjak lebih dari 6% dalam sepekan terakhir, para analis mengingatkan investor untuk tetap waspada.

“Kenaikan tajam IHSG hari ini membuka peluang terjadinya aksi ambil untung (profit taking) pada awal pekan depan. Ditambah lagi, tekanan pada nilai tukar Rupiah yang sudah menembus level psikologis Rp17.100 dapat memicu Bank Indonesia untuk mengambil langkah moneter yang lebih agresif, termasuk potensi kenaikan suku bunga jika volatilitas terus berlanjut,” tulis analis pasar dalam keterangannya.

Bagi para pelaku pasar, pekan depan akan menjadi periode krusial untuk mencermati sejauh mana efektivitas intervensi Bank Indonesia di pasar valas serta arah kebijakan suku bunga menghadapi tekanan inflasi global. ***

Advertisement

Lanjutkan Membaca
Advertisement