Nasional
Menbud Fadli Zon Dorong Pesantren Gontor Jadi Warisan Dunia UNESCO dan Perkuat Museum Islam

Menteri Kebudayaan (Menbud) RI, Fadli Zon, berposrvusai melaksanakan diskusi strategis bersama Rektor Universitas Darussalam Gontor, Prof. Hamid Zarkasyi di kantor Kementerian Kebudayaan, Senayan, Jakarta. (Kemenbud)
FAKTUAL INDONESIA: Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon, melakukan langkah strategis dalam memperkuat ekosistem budaya berbasis religi.
Dalam diskusi hangat bersama Rektor Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, Prof. Hamid Zarkasyi, di Kantor Kementerian Kebudayaan, Senayan, Jakarta, kedua tokoh ini membahas visi besar menjadikan pesantren sebagai pilar warisan budaya nasional dan dunia.
Fokus utama pertemuan ini adalah rencana aktivasi Museum Pesantren Gontor serta pengusulan pesantren sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia hingga pengakuan internasional dari UNESCO.
Narasi Sejarah dan Estetika
Menbud Fadli Zon memberikan dukungan penuh terhadap rencana aktivasi museum yang mengangkat tema pendidikan Islam. Menurutnya, sebuah museum yang berkesan harus memadukan kekuatan riset dengan estetika visual.
“Aktivasi museum harus memperhatikan arsitektur, tata pamer, pencahayaan, hingga narasi sejarah yang mendalam. Museum Gontor bisa menjadi model bagi pesantren lain di Indonesia,” ujar Menbud.
Sebagai referensi, Fadli menyebut Museum Rahmah El Yunusiyah di Padang Panjang. Meski sederhana karena menggunakan rumah asli sang tokoh, museum tersebut berhasil menghidupkan sejarah Islam dengan sangat menarik.
Ia juga memperkenalkan konsep open museum (museum terbuka), di mana pesantren dapat memanfaatkan bangunan asli atau bentang alam yang ada sebagai bagian dari pengalaman edukasi sejarah.
Pesantren Sebagai Warisan Budaya Takbenda
Salah satu poin krusial dalam diskusi ini adalah pengusulan praktik pendidikan pesantren sebagai Warisan Budaya Takbenda. Fadli menilai sistem pendidikan di pesantren bukan sekadar transfer ilmu agama, melainkan sebuah ekspresi kultural dan peradaban yang unik.
“Pesantren adalah good practices. Kita harus mendorong pesantren menjadi warisan budaya dunia UNESCO. Ini adalah ekspresi peradaban yang memiliki ciri khas Indonesia,” tegasnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa langkah ini memerlukan kolaborasi lintas sektor antara pemerintah pusat dan daerah, terutama dalam melakukan riset mendalam terkait kearifan lokal di masing-masing wilayah.
Satu Abad Mewarnai Lanskap Sosial Indonesia
Menanggapi visi Menbud, Rektor UNIDA Gontor, Prof. Hamid Zarkasyi, menekankan bahwa Gontor adalah bukti nyata bahwa pendidikan Islam menyatu dengan napas sosial masyarakat.
“Pendidikan di Gontor sudah berlangsung selama 100 tahun. Kami tidak hanya fokus pada kurikulum, tetapi juga aktif menggelar acara bernuansa seni seperti festival musik, film, hingga kaligrafi,” ungkap Prof. Hamid.
Dalam pertemuan yang juga dihadiri oleh pejabat teras Kementerian Kebudayaan — seperti Ismunandar (Staf Ahli), B.R.A Putri Woelan Sari Dewi (Staf Khusus), dan Agus Mulyana (Direktur Sejarah dan Permuseuman) —Menteri Fadli menutup dialog dengan komitmen kuat.
Kementerian Kebudayaan berjanji akan terus memelihara kearifan lokal pesantren melalui program:
* Revitalisasi bangunan bersejarah.
* Pemugaran makam tokoh/sufi besar penyebar Islam di Nusantara.
* Pelestarian ekspresi budaya dalam praktik pendidikan tradisional.
Langkah ini diharapkan dapat memperkokoh identitas bangsa serta memastikan sejarah panjang pendidikan Islam di Indonesia tetap relevan bagi generasi mendatang. ***














