Connect with us

Olahraga

Mengenang Ibu Dora Sigar Soemitro Seorang Maniak Bridge Sekaligus Pembina

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Mengenang Ibu Dora Sigar Soemitro Seorang Maniak Bridge Sekaligus Pembina

Dora Sigar Soemitro, ibu kandung Presiden Prabowo Subianto, dikenal sahabat-sahabatnya sebagai pemain bridge yang tangguh dan sebagai pengurus Gabungan Bridge Indonesia (Gabsi).

Oleh : Bert Toar Polii

FAKTUAL INDONESIA: Meski sudah banyak yang mengetahui sosok Soemitro Djojohadikoesoemo, namun nyatanya tak sedikit yang penasaran siapa ibu kandung Presiden kita Prabowo Subianto.

Pada 7 Januari 1946, Soemitro menikahi seorang wanita blasteran Manado-Jerman bernama Dora Marie Siregar, ia adalah ibu kandung Prabowo Subianto.

Dora Marie Sigar adalah wanita blasteran Manado-Jerman yang berprofesi sebagai seorang perawat pada waktu itu.

Dora Marie Sigar bukan orang sembarangan, ia merupakan keturunan dari Tawalijn Sigar, seorang Kepala Distrik di Langowan, Minahasa.

Baca Juga : Peserta Tertua M Bambang Hartono (86) dan Termuda Jonathan Wahyu (17 ) Tarung di Ernst Gultom Invitational Online Bridge Tournament

Ayah Dora bernama Philip FL Sigar, dan ibunya bernama N Maengkom.

Advertisement

Dikutip dari Tribun-timur Philip FL Sigar merupakan seorang anggota Gementeraad Manado (1920-1922) dan pejabat Sekretaris Residen (Gewestelijk Secretaris) Manado (1922-1924).

Kakek Dora merupakan Majoor/Hukum Besar (1870-1884) di Manado.

Salah satu nenek moyangnya adalah Benyamin Thomas Sigar (Tawaijln Sigar).

Yaitu kapitein atau pemimpin pasukan Tulungan atau Hulptroepen (pasukan bantuan).

Ia dikontrak pemerintah Hindia Belanda guna membantu mengatasi Perang Jawa (1825-1830).

Advertisement

Diketahui, ibunda Prabowo Subianto, Dora Marie Sigar atau Dora Sumitro, menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura, pada pukul 17.00 WIB, akibat sakit pada tahun 2008 silam.

Baca Juga : Ernst Gultom Invitational Online Bridge Tournament Diikuti Philippina

Keteladanannya tetap hidup dan menjadi panutan untuk anak-anaknya, termasuk untuk Prabowo hingga kini.

Dora Marie Sigar memiliki dua orang putri, Biantiningsih Miderawati Djiwandono (istri Soedradjad Djiwandono) dan Marjani Ekowati le Maistre.

Lalu dua orang putra, Prabowo Subianto Djojohadikusumo dan Hashim Sujono Djojohadikusumo.

Selama hidupnya, Dora Marie Sigar penganut agama Kristen.

Advertisement

Ia setia mendampingi Profesor Sumitro Djojohadikusumo dalam pengasingan maupun dalam perjuangan membangun Republik Indonesia.

Dora Marie Sigar dikenang anak-anaknya sebagai ibu yang penyayang.

Dora Marie Sigar dikenal sahabat-sahabatnya sebagai pemain bridge yang tangguh dan sebagai pengurus Gabungan Bridge Indonesia (Gabsi).

Baca Juga : Bridge Indonesia Kembali Kehilangan Pemain Nasional, Stefanus Supeno Dari Djarum Bridge Club Berpulang

Ibu Dora Sumitro juga pernah Ketua Ikatan Bridge Wanita Indonesia (IBWI) klub bridge tertua di Indonesia yang masih aktif sampai sekarang. Selain itu ia juga hamper selalu menjadi tim manajer untuk tim nasional bridge putri. Seperti terlihat di foto dimana Ibu Dora bersama tim nasional putri berfoto bersama legenda bridge dunia Benito Garozzo, Saat itu Ibu Dora Sumitro menjadi Team Manager Ladies Team Indonesia yang bertanding di 10th World Teams Olympiad 1986 di  Rodhes Island, Yunani. Namun sebagai seorang pemain, Ibu ini termasuk maniak karena setiap ada kesempatan ia lebih memilih ikut bertanding.

Pada waktu Rhodes Island Yunani  tahun 1996,  Timnas Putra Indonesia mengukir sejarah pertama kali menjadi runner up Olympiade Bridge.

Advertisement

Bapak Presiden Prabowo Subianto juga dikenal sebagai anak kesayangan Ibu Dora. Beliau pernah menyampaikan hal ini tentang ayah dan ibunya sebagai berikut :

Baca Juga : Tahun 2026, PB Gabsi Menghadapi Dua Kejuaraan Dunia, Asia Bridge Cup & SEABF Championship

Saudara-saudara sekalian, bagi saya ayah dan ibu, Alm. Soemitro Djojohadikusumo dan Alm. Dora Sigar Djojohadikusumo, adalah inspirasi saya. Mereka yang telah membesarkan, mengenalkan dan menanamkan nilai kebangsaan, nilai pengabdian, nilai Pancasila dalam diri saya, sehingga saya bisa menjadi seperti sekarang ini.

Saya teringat sebuah pesan yang mereka sampaikan, kurang lebih pesannya adalah sebagai berikut;

“Kita tidak dilahirkan untuk dapat hidup selamanya. Kita juga tidak tahu, kapan kita akan dipanggil untuk kembali menghadap Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu, mari kita manfaatkan sebaik-baiknya, kesempatan untuk hidup yang telah diberikan kepada kita. Mari kita bergerak, mengabdi dan memberikan yang terbaik kepada bangsa dan negara.”

Dikalangan pemain bridge putri, Ibu Dora sangat disegani karena tingkat kedisiplinannya yang tinggi dan diterapkan secara ketat saat memimpin tim. Terutama putri kita yang masih muda dan berasal dari Minahasa yang senang memakai rok mini. Ini dilarang keras oleh Ibu Dora.

Advertisement

Baca Juga : Ayo Persiapkan Tim, Tiga Turnamen Bridge Besar Menanti di April – Juni 2026

Salah satu yang sulit dihindari oleh Ibu yang satu ini adalah kecanduan merokoknya. Padahal saat bertanding bridge hal ini dilarang. Namun Ibu ini tetap berusaha curi-curi waktu untuk bisa merokok di luar ruangan pertandingan saat ada kesempatan.

Ibu Dora pernah berceritra ke saya, Alm. Presiden Suharto yang sudah tahu kebiasaan merokok Ibu Dora sehingga dalam acara keluarga ia akan memberikan kesempatan khusus kepada Ibu Dora untuk pergi merokok.

Hal lain yang pernah Ibu Dora ceriterakan kepada tukang bridge bahwa ibunya Maengkom itu asal Tondano dan mereka masih punya budel tanah di Tondano. Kebetulan budel itu tukang bridge tahu karena berada di dekat rumah tukang bridge. Pada waktu tukang bridge masih di Tondano tanah itu terbiarkan kosong terletak di samping Gereja Pantekosta Tounkuramber, di sebelah lapangan Sam Ratulangi dan berseberangan dengan rumah tua Sam Ratulangi. ***

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Advertisement