Connect with us

Otomotif

Penjualan Sepeda Motor Tahun 2025 Diprediksi Stagnan

Diterbitkan

pada

Penjualan Sepeda Motor Tahun 2025 Diprediksi Stagnan

Ilustrasi sejumlah motor yang dijual di Jakarta. (Foto : istimewa)

FAKTUAL-INDONESIA : Ketua Bidang Komersial Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), Sigit Kumala memperkirakan tren penjualan sepeda motor di dalam negeri masih akan stagnan hingga akhir 2025.

Menurutnya, kondisi ini tidak lepas dari berbagai faktor, mulai dari daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih hingga ketidakpastian ekonomi global.

Baca Juga : Waspada Praktik Bengkel ‘Curang’, Merawat Sepeda Motor Baiknya di Bengkel Resmi

Hingga semester I-2025, penjualan sepeda motor domestik tercatat masih minus tipis dibanding periode yang sama tahun lalu.  “Kalau saya melihat, tahun ini dibandingin tahun lalu untuk roda dua minus 2,1 persen. Tapi dengan kondisi sekarang, itu masih oke,” kata dia, pada Senin (14/7/2025).

Berdasarkan data AISI, total penjualan motor domestik selama Januari–Juni 2025 mencapai 3,1 juta unit. Angka itu memang turun tipis dari periode yang sama tahun lalu, seiring belum pulihnya daya beli masyarakat.

“Kalau dari produsen-produsen sendiri memang ada beberapa yang mengurangi produksi, karena biasanya mereka melihat kondisi stok di market. Kalau stoknya banyak ya pasti mereka ngurangin produksi,”  lanjut dia.

Advertisement

Dia memaparkan, sampai akhir tahun ini AISI memproyeksikan total penjualan motor domestik berada di kisaran 6,3 juta hingga 6,4 juta unit, tidak jauh berbeda dibandingkan capaian tahun lalu yang berada di angka sekitar 6,3 juta unit.

Baca Juga : Piaggio Group Bangga Michele Colaninno Ditunjuk jadi Presiden Asosiasi Produsen Sepeda Motor Eropa

AISI juga mencermati bahwa minat konsumen di Indonesia masih didominasi oleh sepeda motor konvensional berbahan bakar bensin, bukan motor listrik atau electric vehicle (EV). Faktor infrastruktur dan harga jual kembali menjadi pertimbangan utama konsumen.

“Masyarakat kita masih melihat bahwa EV infrastrukturnya belum begitu luas. Terus yang kedua, mereka masih berpikir harga jual kembalinya seperti apa,” jelas dia.

Meski begitu, dia menilai kehadiran merek-merek baru dari luar negeri tetap disambut positif oleh AISI. Menurutnya, hal itu memberikan lebih banyak pilihan bagi konsumen sekaligus mendorong iklim persaingan yang sehat.***

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Advertisement