Kesehatan
Kenali 9 Gejala HIV pada Kulit, Perlu Diwaspadai!

Ilustrasi Dermatitis Atopik (Foto: Istimewa)
FAKTUAL-INDONESIA: HIV atau Human Immunodeficiency Virus merupakan penyakit yang erat kaitannya dengan perilkau seksual. Seseorang yang terkena HIV dapat dikenali dengan munculnya kelainan pada kulit. Meski begitu, banyak yang belum mengetahui tentang gejala HIV pada kulit.
HIV adalah penyakit yang menyerang sistem imun tubuh manusia. Gejala HIV dan maniestasinya dapat bermacam-macam, mulai dari infeksi, gangguan pencernaan, sampai gangguan kulit.
Demam dan kondisi kesehatan yang menurun mungkin sudah menjadi gejala umum untuk para penderita HIV. Hal itu terjadi karena sistem kekebalan tubuh yang melemah sehingga tak mampu lagi melawan virus lain yang masuk dan menyebabkan penyakit.
Seiring berjalannya waktu, tubuh akan kesulitan menghadapi infeksi yang menyebabkan ruam pada kulit. Terlebih jika dibiarkan begitu saja tanpa mengonsumsi obat. Dibandingkan dari dalam, gejala HIV pada kulit memang lebih mudah dideteksi. Lantas, apa saja gejala HIV yang muncul melalui gangguan kulit?
Baca juga: Inilah 10 Gejala Awal HIV yang Mungkin Jarang Disadari
Berikut beberapa gejala HIV pada kulit yang telah faktualid.com rangkum dari doktersehat dan sumber lainnya.
Daftar isi
1. Moluskum Kontagiosum
Gejala HIV pada kulit yang pertama yaitu moluskum kontagiosum. Ini adalah gangguan kulit yang ditandai adanya papul pada kulit, yang jika ditekan akan mengeluarkan materi keputihan seperti nasi. Moluskum kontagiosum menyebabkan benjolan berwarna merah muda pada kulit. Pada penderita HIV/AIDS, benjolan merah bisa muncul lebih dari 100.
Gangguan ini termasuk infeksi pada kulit yang sangat menular yang dapat ditularkan melalui kontak kontak kulit ke kulit, berbagi pakaian, atau hanya dengan menyentuh benda yang disentuh penderita HIV. Gangguan kulit ini dapat terjadi pada berbagai daerah tubuh, mulai dari daerah kelamin sampai ekstremitas.
2. Sarkoma kaposi
Sarkoma kaposi adalah suatu bentuk keganasan pada jenis kanker yang muncul pada kulit dan membran mukosa. Biasanya gangguan ini dimulai pada sel-sel yang melapisi getah bening atau pembuluh darah.
Kondisi ini adalah karakteristik dari AIDS. Ketika seseorang dengan HIV mengembangkan sarkoma Kaposi atau infeksi oportunistik lainnya, diagnosis resmi berubah menjadi AIDS. Menurut penelitian, prevalensi terjadinya sarkoma Kaposi, yaitu tumor yang disebabkan oleh virus human herpesvirus 8, pada penderita AIDS dapat mencapai 34 persen.
Sarkoma Kaposi menyebabkan lesi gelap pada kulit. Kondisi ini mungkin muncul seperti bercak atau benjolan berwarna cokelat, ungu, atau merah. Sarkoma Kaposi juga dapat menyebabkan kulit membengkak.
Lesi dapat memmengaruhi organ, termasuk paru-paru, hati, dan bagian dari saluran pencernaan, di mana penyakit ini dapat menyebabkan gejala yang berpotensi mengancam jiwa dan masalah pernapasan.
3. Herpes zoster
Gejala HIV pada kulit berikutnya yaitu herpes zoster. Kondisi ini akan terjadi ketika daya tahan tubuh lemah yang menyebabkan cacar air. Penyakit herpes zoster ditandai dengan ruam kulit berupa lepuhan bergerombol yang terasa begitu menyakitkan.
Infeksi virus herpes kerap diobati dengan obat antivirus. Hampir semua virus herpes bisa atau bertahan dalam tubuh. Dengan demikian, seseorang yang telah terinfeksi akan mendapatkan virus ini tetap berada di dalam tubuh dan dapat menyebabkan infeksi baru di kemudian hari.
4. Fotodermatitis
Fotodermatitis merupakan kondisi kulit yang bereaksi terhadap paparan sinar matahari dengan mengubah warnanya menjadi lebih gelap. Jika Anda mengelami hal ini, waspadalah. Sebab, ini bisa menjadi salah satu gejala HIV pada kulit.
Baca juga: Wanita Pertama Di Dunia Sembuh dari HIV setelah 14 Bulan Bebas Virus
Kondisi ini paling umum terjadi pada orang kulit berwarna, tetapi siapa pun dengan HIV rentan terhadap fotodermatitis. Selain minum obat, melindungi kulit dari sinar matahari biasanya merupakan strategi yang digunakan untuk mengurangi fotodermatitis.
5. Dermatitis Seboroik
Dermatitis seboroik adalah peradangan pada kulit yang terdapat kelenjar sebasea atau area kulit yang berminyak. Kondisi umumnya terjadi di sekitar area kepala, wajah, dada, punggung atas, dan selangkangan. Lesi yang muncul biasanya berupa ruam berwarna merah muda dengan batas yang tidak tegas dan bersisik.
Faktanya, sebanyak 25 – 45 persen penderita HIV akan mendapatkannya, dibandingkan dengan 8 persen dari populasi umum. Hasil ini hanya meningkat pada orang terinfeksi HIV lanjut, dengan beberapa penelitian menunjukkan risiko seumur hidup sekitar 83 persen.
6. Dermatitis atopik
Dermatitis atopik memang kerap hadir pada orang tanpa HIV atau AIDS. Akan tetapi, masalah kulit ini bisa lebih parah dan lebih mungkin terinfeksi pada orang dengan HIV atau AIDS.
Dermatitis atopik adalah kondisi peradangan kronis yang sering menyebabkan ruam merah, bersisik, dan gatal. Ini dapat muncul di banyak bagian tubuh, termasuk kaki, tangan, leher, kelopak mata, lutut, dan siku.
Dermatitis atopik dapat diobati dengan krim kortikosteroid, krim perbaikan kulit yang dikenal sebagai inhibitor calcineurin, antibiotik untuk infeksi, atau obat anti-gatal.
Gejala HIV pada kulit lainnya
- Xerosis, gejala HIV pada kulit ini ditandai dengan gatal dan bercak bersisik pada lengan dan kaki yang disebabkan oleh cuaca kering atau panas dan terlalu banyak terpapar sinar matahari.
- Prurigo nodularis, kondisi kulit ini melibatkan wabah benjolan yang gatal di kulit. Gatal bisa sangat hebat dan parah.
- Oral hairy leukoplakia, yakni infeksi virus yang memengaruhi mulut, yang dapat menyebabkan lesi putih yang tebal pada lidah yang terlihat berbulu.
Itulah beberapa gejala HIV pada kulit. Pengobatan untuk ruam kulit terkait gejala HIV tergantung pada akar penyebabnya. Jika karena reaksi obat HIV, dokter biasanya akan mengganti obat antiretroviral yang lebih minim efek samping.***














