Home Internasional AS Terusik dengan Nuklir dan Rudal Balistik Korut

AS Terusik dengan Nuklir dan Rudal Balistik Korut

oleh Joko Ham
Rudal Balistik Korut. (ist)

Rudal Balistik Korut. (ist)

FAKTUALid – Korea Utara dikabarkan terus mengembangkan senjata nuklir dan rudal balistiknya. Akibatnya, Amerika Serikat (AS) merasa terancam dan terusik.

Bahkan, Menteri Pertahanan Amerika Serikat Lloyd Austin mengatakan hal tersebut   dalam keterangan tertulis kepada Komite Senat AS untuk Angkatan Bersenjata, Kamis (10/6/2021).

“Pyongyang terus mengembangkan program nuklir dan rudal balistik, menimbulkan ancaman serius bagi sekutu dan mitra regional, dan dengan ambisi menyerang tanah air AS,” kata Austin, mengutip Yonhap News Agency.

AS, kata Austin, akan mengutamakan diplomasi dalam menghadapi ancaman dari Korea Utara. Namun, mereka akan mengandalkan kekuatan militer untuk mendukung upaya tersebut.

Austin menyebut Korea Utara merupakan salah satu negara yang menjadi ancaman bagi Amerika Serikat, selain China, Rusia, dan Iran.

Kepala Staf Gabungan Militer AS Mark Milley menambahkan bahwa Korut menimbulkan bahaya bagi AS, sekutu dan mitranya di wilayah Indo-Pasifik.

“Mereka mengembangkan kemampuan militer dengan mengorbankan warganya sendiri dan perdamaian di Semenanjung Korea,” ujar Milley.

Preside Joe Biden sebelumnya mengaku akan menggunakan “diplomasi serta pencegahan keras” untuk menahan ambisi nuklir Korea Utara, dengan harapan tercapai denuklirisasi seutuhnya di Semenanjung Korea.

Militer AS menyatakan Korut menyimpan sekitar 2.500 sampai 5.000 ton senjata kimia dari 20 jenis berbeda. Diperkirakan Korut akan menggunakan senjata kimia itu dalam serangan artileri.

Diperkirakan ada 20 sampai 60 bom nuklir yang dimiliki Korea Utara, dengan kemampuan produksi enam buah setiap tahun.

AS juga menyatakan Korut berhasil mengembangkan kemampuan perang siber, yang menjadi salah satu kunci untuk melakukan proses diplomasi yang lebih agresif.

Mereka menyatakan, unit tempur siber Korut yang dijuluki Biro 121 dilaporkan mengelola lebih dari 6.000 peretas. Sebagian besar dari mereka bekerja dari luar negeri, seperti Belarus, China, India, Malaysia dan Rusia.***

Tinggalkan Komentar