Home Ekonomi Terganjal Covid-19, Upaya Boyongan Pedagang Pasar Johar Terpaksa Gagal

Terganjal Covid-19, Upaya Boyongan Pedagang Pasar Johar Terpaksa Gagal

oleh Ki Pujo Pandunung

 

Los Pasar Johar terlihat mewah. (Foto: Istimewa)

 

FAKTUALid – Pasar Johar Kota Semarang yang sempat terbakar habis beberapa tahun silam, saat ini sudah selesai dibangun kembali dalam nuansa lebih mewah. Sayang, upaya para pedagang untuk segera boyongan harus terganjal pandemi Covid-19.

Warga di ibu kota Jawa Tengah ini pun, terpaksa harus menunda mimpi untuk bisa berbelanja di Pasar Johar yang sudah melegenda itu. Kebijakan PPKM untuk meredam pandemi, memupus sementara cita-cita menghidupkan kembali Pasar Johar.

Pasar Johar sendiri direncanakan akan difungsikan kembali pada Juli 2021. Untuk bangunan tengah dan depan sudah bisa difungsikan, bahkan sekitar Juni 2021 lalu, Dinas Perdagangan Kota Semarang sudah melakukan pendataan.

Pelaksana Rehabilitasi Pasar Johar dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kota Semarang, Sriwati Purnomo, menjelaspkan awalnya semua pedagang minta bisa langsung boyongan ke Pasar Johar selepas dibangun kembali.

“Namun tidak bisa, karena semua pembangunan belum tuntas. Oleh karenanya, pemindahan secara bertahap,” kata Sriwati, Minggu (25/7/2021).

Untuk bangunan, ia menyebut sebetulnya sudah siap. Hanya saja semua menunggu instruksi dari Pemerintah Kota Semarang. Dia memaklumi jiak tertundanya pengoperasian Pasar Johar ini dikarenakan untuk menghindari kerumunan yang bisa memicu penularan Covid-19.

Sriwati memaparkan, untuk Johar bagian utara dan tengah sudah selesai sejak 2019. Kemudian bagian selatan sedang dalam tahap pembangunan.

“Rencananya selesai semua pada 22 Februari lalu. Tapi kami akan berupaya akhir tahun ini rampung. Selain itu, untuk Pasar Kanjengan sudah selesai, dan tinggal masa pemeliharaan,” pungkas Sriwati

Kabar tertundanya pengoperasian Pasar Johar itu sendiri sempat dilontarkan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi. Menurut Hendi, sapaan akrabnya, target pembangunan mau tidak mau harus di-reschedule.

“Rencana sebelumnya memang bisa pada bulan Juli ini. Tapi ternyata kepala, kabid sampai staf ada yang terpapar Covid,” kata Hendi.

Selain itu, Hendi juga mengeluhkan jika lonjakan pandemi dalam beberapa waktu terakhir menghambat perpindahan pedagang Pasar Johar. Sebab untuk melakukan proses pendataan dan sosialisasi memang tidak mudah, terlebih tidak semua pedagang menguasai teknologi.***

Tinggalkan Komentar