Ekonomi
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.287 per Dolar AS, Terdampak Lonjakan Harga Minyak Global

Rupiah ditutup melemah pada 23 April ini. (Foto : istimewa)
FAKTUAL-INDONESIA : Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Kamis, tertekan oleh sentimen global terutama lonjakan harga minyak dunia di tengah memanasnya konflik geopolitik. Rupiah tercatat turun 106 poin atau 0,62 persen ke posisi Rp17.287 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.181 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menjelaskan bahwa pelemahan mata uang Garuda dipicu oleh kenaikan harga energi global yang dipengaruhi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Konflik tersebut berdampak langsung pada terganggunya jalur distribusi energi, khususnya setelah penutupan Selat Hormuz.
Baca Juga : Rupiah Kamis 23 April 2026 Terjerembab ke Rp17.305, Besok Level Terendah Sepanjang Masa Mengancam
“Pelemahan rupiah hari ini dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak dunia seiring berlanjutnya konflik AS-Iran yang berujung pada penutupan Selat Hormuz,” ujar Rully.
Ketegangan meningkat setelah perundingan putaran kedua antara AS dan Iran yang dijadwalkan berlangsung di Pakistan gagal terlaksana. Iran tidak menghadiri negosiasi tersebut sebagai respons terhadap langkah Amerika Serikat yang melakukan blokade di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia.
Situasi semakin kompleks ketika Amerika Serikat mengumumkan gencatan senjata secara sepihak, sembari tetap menekan Iran untuk menghentikan kebijakan terkait Selat Hormuz dan program pengayaan uranium. Di sisi lain, Iran menilai tindakan tersebut justru memperburuk situasi dan menghambat proses diplomasi.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian, seperti dikutip dari laporan media internasional, menyatakan bahwa pelanggaran komitmen, blokade, serta ancaman dari AS menjadi hambatan utama dalam mencapai kesepakatan damai.
Baca Juga : Pasar Keuangan Rabu 22 April 2026: IHSG dan Rupiah Memerah Tertekan Ngambangnya Gencatan Senjata AS – Iran
Ia menegaskan bahwa Iran tetap terbuka terhadap dialog, namun menilai pendekatan yang dilakukan AS tidak mencerminkan itikad baik.
Lonjakan ketegangan tersebut memicu kenaikan signifikan harga minyak dunia. Harga minyak mentah Brent dilaporkan berada di kisaran 102,25 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik menjadi sekitar 93,47 dolar AS per barel.
Kenaikan harga energi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap pasokan global serta meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Dari dalam negeri, sentimen negatif juga datang dari pasar obligasi pemerintah. Aksi jual yang terjadi di berbagai tenor mendorong kenaikan imbal hasil (yield), yang mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap stabilitas pasar keuangan dan arah kebijakan ekonomi.
Baca Juga : Pasar Keuangan Selasa 21 April 2026: Rupiah Menguat Lagi, IHSG Tergerus Sentimen MSCI di Hari Kartini
Rully mengungkapkan bahwa kenaikan yield terjadi hampir di seluruh tenor. Imbal hasil obligasi tenor satu tahun naik 9,5 basis poin (bps), tenor dua tahun naik 2,1 bps, sementara tenor tiga dan empat tahun masing-masing meningkat 10,2 bps dan 12,2 bps. Bahkan, tenor acuan 10 tahun tercatat naik 9,1 bps menjadi 6,73 persen.
Sejalan dengan pelemahan di pasar spot, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga menunjukkan tren serupa, melemah ke level Rp17.308 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.179 per dolar AS.
Kombinasi tekanan global dan domestik tersebut membuat rupiah masih berada dalam tekanan, dengan pelaku pasar terus mencermati perkembangan geopolitik serta respons kebijakan ekonomi ke depan.***














