Ekonomi
Bursa Saham Kamis 23 April 2026: IHSG Ambruk Level 7.400 Jebol, Jumat Masih Mendung

Mendung yang menyelimuti Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (23/4/2026), setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terhempas cukup dalam diperkirakan masih akan berlanjut Jumat (24/4/2026) maka perlu sedia payung sebelum hujan. (Foto AI/Istimewa)
FAKTUAL INDONESIA: Awan mendung menyelimuti Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Kamis (23/4/2026) setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terhempas cukup dalam meskipun diawal perdagangan sempat tampil menguat.
Tergelincirnya IHSG pada penutupan mengakhiri tren positif dan meninggalkan kekecewaan bagi para investor yang berharap pada penguatan akhir pekan.
IHSG ditutup merosot tajam sebesar 163,01 poin atau setara 2,16% ke level 7.378,61. Jebolah level psikologis 7.400.
Kejatuhan ini terasa menyesakkan karena indeks sempat dibuka menghijau di level 7.564 pada awal perdagangan sebelum akhirnya terjun bebas hingga sore hari.
Baca Juga : Pasar Keuangan Rabu 22 April 2026: IHSG dan Rupiah Memerah Tertekan Ngambangnya Gencatan Senjata AS – Iran
Kamis pagi, IHSG sempat memberikan harapan ketika dibuka menguat 22,81 poin atau 0,30 persen ke posisi 7.564,42. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 1,41 poin atau 0,19 persen ke posisi 737,38.
Namun rupanya tidak tahan menanggung beban pemelahan nilai tukar rupiah dan kenaikan harga minyak mentah di tingkat global, IHSG akhirnya ditutup melemah. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 20,09 poin atau 2,73 persen ke posisi 715,88.
Lautan Merah IHSG
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sepuluh sektor melemah yaitu sektor barang konsumen nonprimer turun paling dalam, minus 3,18 persen, diikuti oleh sektor industri dan sektor teknologi yang masing-masing turun sebesar 2,83 persen dan 2,32 persen.
Sedangkan satu sektor menguat yaitu sektor transportasi & logistik yang naik sebesar 2,42 persen.
Baca Juga : Pasar Keuangan Selasa 21 April 2026: Rupiah Menguat Lagi, IHSG Tergerus Sentimen MSCI di Hari Kartini
Adapun saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu KOBX, MAXI, SKBM, WBSA, dan PGLI. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni DEFI, BOBA, HOPE, COCO dan KICI.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 3.079.440 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 54,16 miliar lembar saham senilai Rp20,49 triliun. Sebanyak 192 saham naik 505 saham menurun, dan 123 tidak bergerak nilainya.
Statistik perdagangan hari ini menunjukkan kepanikan pasar yang cukup nyata. Berikut adalah poin-poin utama dari penutupan hari ini:
- Saham Berguguran: Sebanyak 505 saham berakhir di zona merah, menunjukkan tekanan jual yang merata di hampir seluruh sektor. Hanya segelintir saham yang mampu bertahan melawan arus.
- Sektor Tertekan: Saham-saham berkapitalisasi besar (blue chip) dari sektor perbankan dan konsumsi menjadi pemberat utama. Investor asing terpantau melakukan aksi jual bersih (net sell) yang cukup masif.
- Saham Teraktif: Di tengah rontoknya indeks, saham BBRI mencatatkan nilai transaksi fantastis mencapai Rp1,12 triliun, disusul oleh emiten sektor properti dan energi yang juga ramai diperdagangkan namun tetap berakhir memerah.
Para analis menilai pelemahan hari ini adalah akumulasi dari sentimen negatif, baik dari dalam maupun luar negeri:
Baca Juga : Pasar Keuangan Senin 20 April 2026 Kontras: Rupiah Lepas dari Rekor Terendah, IHSG Malah Tergelincir
- Duo Rupiah & Suku Bunga: Pelemahan Rupiah yang menembus level psikologis baru memicu kekhawatiran akan stabilitas moneter. Ditambah lagi, keputusan Bank Indonesia yang mempertahankan BI-Rate di level 4,75% dipandang pasar sebagai upaya keras menstabilkan kurs di tengah tekanan dollar AS yang perkasa.
- Badai Geopolitik: Tensi panas di Timur Tengah, khususnya ketegangan antara AS dan Iran, membuat investor global menjauhi aset berisiko di negara berkembang (emerging markets) dan beralih ke aset aman (safe haven).
- Aksi Ambil Untung (Profit Taking): Setelah sempat menguat di pekan-pekan sebelumnya, banyak investor institusi memilih untuk merealisasikan keuntungan, yang secara otomatis memberikan tekanan tambahan pada pergerakan indeks.
Jumat Masih Kritis
Secara teknikal, IHSG kini berada di area support kritis. Jika besok indeks tidak mampu melakukan rebound (pembalikan arah), ada kekhawatiran IHSG akan terus meluncur menuju level 7.300 sehingga mendung di lantai bursa masih berlanjut dan menebal.
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana mengatakan, koreksi IHSG sejalan dengan pergerakan bursa saham Asia yang mayoritas bergerak terkoreksi. Hal ini disebabkan oleh kekhawatiran investor akan konflik di Timur Tengah meskipun ada pembicaraan gencatan senjata, kemudian terdapat kabar Iran menyita dua kapal komersial di Selat Hormuz.
Baca Juga : Pasar Keuangan Jumat 17 April 2026: IHSG BEI Berseri, Rupiah Terpuruk ke Terburuk
“Di sisi lain, pergerakan nilai tukar rupiah tercatat melemah terhadap dolar AS yang saat ini berada di level 17.300,” katanya seperti dilansir liputan6.
Herditya melihat, posisi IHSG masih rawan melanjutkan koreksinya dengan level support 7.351 dan resistance 7.422.
“Ini dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah dan kecenderungan outflow dari market,” katanya.
Herditya pun menyarankan investor untuk mencermati ADRO, INKP, dan WIFI dengan target harga masing-masing Rp 2.620 – Rp 2.700 per saham, Rp 10.475 – Rp 11.075 per saham, dan Rp 2.680 – Rp 2.780 per saham.
VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi memperkirakan, IHSG bergerak cenderung melemah dalam rentang level support 7.245 dan resistance 7.558 pada perdagangan Jumat (24/4/2026).
“Indikator MACD menunjukkan pelemahan tren sejalan dengan RSI yang alami penurunan, serta didorong volume transaksi di atas rerata 20 hari terakhir,” tuturnya seperti dilansir Kontan.
Besok, pasar akan dipengaruhi dua sentimen utama. Pertama, keberlanjutan komunikasi AS dengan Iran yang lambat akan cenderung membuat pasar akan lebih beresiko.
Baca Juga : Pasar Keuangan Kamis 16 April 2026: Rupiah Mulai Tersenyum Tipis, IHSG BEI Merana, Kenapa Begini?
Kedua, tekanan jual asing yang masih berlanjut, terlebih pasca rilis update oleh MSCI dan penurunan outlook rating menjadi negatif oleh Fitch.
“Hal ini seiring dengan penyesuaian alokasi pada saham di Indonesia,” ungkapnya.
Audi pun merekomendasikan trading buy untuk ELSA dengan support Rp 730 per saham dan resistance Rp 860 per saham. Rekomendasi speculative buy juga disematkan untuk MEDC dengan support di Rp 1.680 per saham dan resistance Rp 1.840 per saham.
“Pasar sedang sangat sensitif terhadap berita global. Investor disarankan untuk tetap waspada, memperbanyak porsi kas, dan fokus pada saham-saham defensif yang tahan banting terhadap fluktuasi ekonomi,” ujar salah satu pengamat pasar modal sore ini.
Bagi para trader, hari ini mungkin menjadi peringatan keras bahwa pasar modal tetaplah tempat di mana risiko dan peluang menari dalam irama yang sulit ditebak. ***














