Connect with us

Ekonomi

Kurs Rupiah Jumat 25 April 2026: Comeback Manis Menguat tapi Pekan Depan Masih Fluktuatif

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Meski tipis, angin segar menguatnya nilai tukar rupaih Jumat (24/4/2026) ini menjadi oase di tengah gempuran ketidakpastian global yang sempat menekan rupiah ke level terburuknya dalam beberapa hari terakhir. (AI/Ist)

Meski tipis, angin segar menguatnya nilai tukar rupaih Jumat (24/4/2026) ini menjadi oase di tengah gempuran ketidakpastian global yang sempat menekan rupiah ke level terburuknya dalam beberapa hari terakhir. (AI/Ist)

FAKTUAL INDONESIA: Setelah sempat bikin “senam jantung” dengan menembus angka psikologis Rp17.300, nilai tukar rupiah akhirnya menunjukkan taringnya di penutupan perdagangan pekan ini. Pada Jumat (24/4/2026), mata uang Garuda berhasil melakukan comeback manis dengan menguat cukup signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Rupiah sudah tampil menjanjikan di awal perdagangan valuta asing, Jumat pagi, ketika dibuka menguat 6 poin atau 0,03 persen menjadi Rp17.280 dari penutupan sebelumnya di level Rp17.286 per dolar AS.

Bahkan di penutupan perdagangan, rupiah makin menguat ketika ditutup melejit ke 57 poin atau 0,33 persen menjadi Rp17.229 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak menguat ke level Rp17.278 dari sebelumnya Rp17.308 per dolar AS.

Meski tipis, angin segar ini menjadi oase di tengah gempuran ketidakpastian global yang sempat menekan rupiah ke level terburuknya dalam beberapa hari terakhir.

Advertisement

Intervensi BI dan Ambil Untung

Ada beberapa faktor “pahlawan” yang membuat rupiah kembali bertenaga hari ini:

  1. Intervensi “All Out” Bank Indonesia: BI tidak tinggal diam melihat rupiah babak belur. Langkah intervensi di pasar spot maupun Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) terbukti ampuh meredam spekulasi berlebih.
  2. Kompak Bareng Tetangga: Rupiah tidak sendirian. Sebagian besar mata uang Asia seperti Dolar Taiwan, Baht Thailand, dan Dolar Singapura juga terpantau hijau, menunjukkan adanya sedikit pelonggaran tekanan terhadap mata uang negara berkembang.
  3. Aksi Ambil Untung (Profit Taking): Setelah dolar AS melonjak tajam kemarin, investor mulai melakukan aksi ambil untung, yang secara teknis memberi ruang bagi rupiah untuk mendaki kembali.

Pekan Depan Waspada

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menyebutkan bahwa meski rupiah fluktuatif, daya beli masyarakat sejauh ini masih relatif terjaga. Namun, ia mengingatkan agar kita tetap bijak dalam mengelola keuangan dengan kurangi belanja barang impor yang tidak mendesak dan perkuat dana darurat untuk jaga-jaga terhadap ketidakpastian ekonomi global.

Sedangkan pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi seperti dilansir periskop mengemukakan, dari sentimen eksternal, indeks dolar AS terpantau melemah di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran. Situasi memanas setelah negosiasi kedua negara mengalami kebuntuan, terutama terkait pembukaan Selat Hormuz dan blokade angkatan laut AS. Pernyataan Presiden AS Donald Trump yang tidak ingin terburu-buru mencapai kesepakatan serta eskalasi retorika militer turut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi konflik berkepanjangan.

Ketegangan tersebut memicu kekhawatiran terganggunya pasokan minyak global dari kawasan Timur Tengah, yang berpotensi mendorong lonjakan harga energi dan meningkatkan tekanan inflasi global.

Advertisement

Dari dalam negeri, pemerintah menyatakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 masih cukup kuat untuk meredam tekanan akibat kenaikan harga energi. Pemerintah juga menegaskan belum menggunakan Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang saat ini mencapai Rp423 triliun, sehingga masih memiliki ruang fiskal untuk menjaga stabilitas ekonomi.

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) menegaskan akan terus mengoptimalkan bauran kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas rupiah, termasuk melalui intervensi di pasar offshore non-deliverable forward (NDF), pasar spot, serta domestic non-deliverable forward (DNDF). BI juga memperluas operasi moneter valas melalui transaksi spot dan swap berbasis yuan offshore.

Untuk perdagangan selanjutnya, rupiah diperkirakan akan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah dalam kisaran Rp17.220 hingga Rp17.260 per dolar AS.

“Secara mingguan, rupiah diproyeksikan bergerak di rentang Rp17.180 hingga Rp17.400 per dolar AS,” pungkas Ibrahim.

Pekan ini memang cukup berat bagi mata uang rupiah. Meski hari ini ditutup menguat, secara keseluruhan dalam sepekan rupiah masih terhitung melemah 0,23%. Tantangan ke depan masih ada pada harga minyak dunia yang tinggi dan kebijakan suku bunga AS. Jadi, tetap waspada pantau dompet dan investasi  dengan cermat.  ***

Advertisement

Lanjutkan Membaca
Advertisement