Ekonomi
Rupiah Rabu 10 Juni 2026: Mantap Menguat Lagi ke Bawah Rp18.000, Ayo Tancap Terus

Pergerakan nilai tukar (kurs) rupiah dalam perdagangan valuta asing hari ini Rabu (10/6/2026) kembali menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan selanjutnya perlu berjuang menahan dan memperkuat lagi. (Ist)
FAKTUAL INDONESIA: Mantap, nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sukses membukukan performa gemilang pada perdagangan tengah pekan. Mata uang Garuda ditutup menguat cukup signifikan pada transaksi Rabu sore (10/6/2026), membalikkan tekanan yang sempat terjadi di awal pekan.
Berdasarkan data pasar spot, kurs rupiah hari ini bergerak perkasa sejak pembukaan pasar pagi tadi hingga berhasil mempertahankan posisinya di zona hijau sampai bel penutupan perdagangan.
Menruskan tren positif sehari sebelumnya, pada pembuaan perdagangan valuta asing Rabu pagi,
rupiah masuk zona hijau dengan bergerak menguat 158 poin atau 0,88 persen menjadi Rp17.900 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.058 per dolar AS.
Namun meskipun menguat pada penutupan perdagangan sore harinya namun penguatan menipis disbanding saat pembukaan. Rupiah ditutup menguat 114 poin atau 0,63 persen jadi Rp17.944 per dolar AS.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak menguat ke level Rp17.971 per dolar AS dari sebelumnya Rp18.141 per dolar AS.
Dua Faktor Utama Penguat
Lantas, apa saja sentimen utama yang membuat otot rupiah mendadak kekar hari ini? Para analis pasar uang menilai keperkasaan rupiah sore ini dipicu oleh kombinasi sentimen positif dari dalam negeri (domestik) serta melemahnya beberapa rilis data ekonomi di Negeri Paman Sam.
- Angin Segar dari Rilis Data Domestik
Investor merespons positif stabilitas ekonomi nasional. Langkah Bank Indonesia (BI) yang tetap konsisten menjaga stabilitas moneter lewat intervensi terukur di pasar valas memberikan rasa aman bagi pelaku pasar. Selain itu, arus modal asing (capital inflow) perlahan mulai kembali masuk ke pasar keuangan domestik, terutama pada pasar obligasi dan saham.
- Dolar AS Loyo Akibat Ekspektasi Suku Bunga
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) terpantau mengalami koreksi. Melemahnya greenback dipicu oleh spekulasi pasar yang memprediksi Bank Sentral AS (The Fed) akan mengambil sikap yang lebih longgar (dovish) dalam pertemuan mendatang. Beberapa data sektor tenaga kerja dan inflasi AS yang mulai mendingin membuat daya tarik dolar agak meredup di mata investor global.
Dari sini rupiah berhasil memanfaatkan celah dari pelemahnya performa dolar AS hari ini. Kepercayaan pasar terhadap ketahanan ekonomi Indonesia di kuartal kedua 2026 ini juga menjadi bahan bakar utama yang mendorong reli penguatan rupiah.
Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pelaku pasar menyambut baik kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI) sebesar 25 bps menjadi 5,5 persen, yang bertujuan menstabilkan rupiah setelah berulang kali mencapai rekor terendah.
Kenaikan suku bunga acuan juga membantu pemerintah dalam lelang obligasi bertenor 10 tahun, dengan bunga obligasi 7,4 persen sehingga investor asing maupun domestik diharapkan bisa kembali menyerbu lelang Surat Utang Negara (SUN).
“Kepercayaan semakin diperkuat oleh janji dana kekayaan negara Danantara untuk tidak mengambil margin keuntungan pada ekspor komoditas strategis dan untuk menghormati kontrak yang ada di bawah kerangka sentralisasi baru,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Kehadiran PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai pintu tunggal ekspor komoditas strategis dirancang untuk memperkuat tata kelola, menjamin kepastian hukum, dan mengoptimalkan penerimaan negara tanpa mengganggu kelangsungan bisnis eksportir. Langkah ini diharapkan mampu meredam volatilitas ekonomi dengan mengedepankan transparansi.
“Kepercayaan semakin diperkuat oleh janji dana kekayaan negara Danantara untuk tidak mengambil margin keuntungan pada ekspor komoditas strategis dan untuk menghormati kontrak yang ada di bawah kerangka sentralisasi baru,” lanjutnya.
Seperti dilansir IDXChannel, dari eksternal, Washington melancarkan serangan baru terhadap target Iran pada Selasa setelah jatuhnya helikopter militer AS di dekat Selat Hormuz, yang kembali memicu kekhawatiran akan gangguan yang lebih luas terhadap pasokan energi global.
Iran mengatakan mereka telah menargetkan pangkalan AS di Yordania dan beberapa negara Teluk sebagai tanggapan atas serangan AS.
Eskalasi terbaru ini mengancam gagalnya kemajuan sementara menuju de-eskalasi setelah Iran dan Israel sepakat untuk menghentikan serangan awal pekan ini setelah seruan dari Trump. Para pelaku pasar sebelumnya menafsirkan jeda dalam permusuhan sebagai tanda bahwa konflik mungkin bergerak menuju resolusi diplomatik, yang memicu aksi jual minyak mentah.
Lebih dari 70 persen pelaku pasar memperkirakan kenaikan suku bunga Fed pada Desember. Imbal hasil obligasi pemerintah tetap mendekati level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir sementara dolar tetap kuat menjelang laporan inflasi.
Investor mengamati dengan saksama data CPI untuk melihat tanda-tanda apakah tekanan inflasi meningkat. Para ekonom memperkirakan inflasi konsumen tahunan akan naik menjadi sekitar 4,2 persen pada Mei, yang akan menandai angka tertinggi sejak April 2023 dan dapat memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan yang ketat.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, penguatan rupiah murni didukung sentimen domestik oleh meningkatnya harapan pada BI untuk kembali menaikkan suku bunga ke depannya.
Langkah pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis pertamax juga positif bagi rupiah.
Dikutip dari tradingview, momentum positif ini diharapkan masih akan bisa berlanjut besok apabila tidak ada tekanan ekstrim dari eksternal terutama perkembangan seputar Timur Tengah dan harga minyak mentah dunia.
“Walau demikian, rilis data inflasi AS juga berpotensi menahan penguatan rupiah. Dari domestik, investor menantikan rilis data penjualan ritel bulan April,” ujar Lukman.
Jadi momentum positif dua hari ini jangan sampai lepas lagi. Maka rupiah perlu terus tancap gas menjauh terus dari zona merah.
Proyeksi Gerak Rupiah Besok
Meski ditutup sumringah pada hari ini, pelaku pasar diimbau untuk tetap mencermati sejumlah agenda ekonomi penting global yang akan rilis menjelang akhir pekan.
Fluktuasi harga komoditas global dan ketegangan geopolitik yang masih dinamis dinilai tetap berpotensi menjadi batu sandungan bagi mata uang negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia.
Secara teknikal, untuk perdagangan esok hari, rupiah diproyeksikan masih memiliki ruang untuk bergerak stabil cenderung menguat terbatas, memanfaatkan momentum positif yang berhasil dibangun hari ini.
Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup menguat dalam rentang Rp17.900-Rp18.950 per dolar AS
Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp 17.900 – Rp 18.950,” ungkapnya.
Sedangkan Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong memproyeksikan rupiah besok (11/6) bergerak di kisaran Rp 17.900 – Rp 18.000 per dolar AS.
Rangkuman Pasar Rupiah Hari Ini:
- Hari/Tanggal: Rabu, 10 Juni 2026
- Status: Ditutup Menguat (Zona Hijau)
- Sentimen Penggerak: Intervensi BI, aliran modal asing masuk, dan koreksi pada indeks dolar AS (The Fed dovish).***










