Connect with us

Ekonomi

Rupiah Hari Jumat 18 September 2026: Tergelincir dari Menguat ke Melemah Lagi, Senin Fluktuatif Negatif

Gungdewan

Diterbitkan

pada

FAKTUAL INDONESIA: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah tipis 5 poin atau sekitar 0,03 persen ke level Rp17.758 per dolar AS pada akhir perdagangan Jumat (18/9/2026).

Rupiah tergelincir setelah  pada awal sesi, mata uang Garuda sempat dibuka menguat 10 poin (0,06 persen) di posisi Rp17.743 per dolar AS.

Namun Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatat rupiah bergerak menguat ke level Rp17.745 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.753 per dolar AS.

Pergerakan  rupiah menjelang akhir pekan ini sejalan dengan dinamika mata uang kawasan Asia yang cenderung bervariasi:

  • Mata uang tertekan: Yen Jepang memimpin pelemahan dengan anjlok 1,03%, disusul won Korea Selatan (-0,29%), dolar Singapura (-0,1%), peso Filipina (-0,05%), dan baht Thailand (-0,04%).
  • Mata uang menguat: Ringgit Malaysia mencatat penguatan tertinggi melesat 0,44%, diikuti dolar Taiwan (+0,22%), yuan China (+0,11%), rupee India (+0,04%), serta dolar Hong Kong (+0,02%).

Tensi Geopolitik dan Hawkish The Fed

Analis Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa tekanan sentimen eksternal terdorong oleh eskalasi konflik di Timur Tengah. Pertempuran baru antara Arab Saudi dan kelompok Houthi, serta gangguan pelayaran di Selat Hormuz akibat serangan pada kapal tanker berbendera Togo oleh Garda Revolusi Iran, meningkatkan risiko pasokan minyak global.

Advertisement

Di sisi lain, pasar mencermati diplomasi internasional dari Amerika Serikat dan China, di mana Presiden Donald Trump dijadwalkan bertemu dengan para pemimpin negara Teluk pada Sidang Majelis Umum PBB pekan depan.

Dari kebijakan moneter, Bank Sentral AS (The Fed) resmi menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 3,75%–4,00%. Sikap hawkish dari Kevin Warsh yang mengindikasikan bahwa inflasi masih tinggi memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan dalam beberapa bulan mendatang.

APBN dan Bayang-Bayang El Nino

Dari dalam negeri, kondisi fiskal Indonesia relatif terkendali. Defisit APBN hingga akhir Agustus 2026 tercatat sebesar Rp240,1 triliun atau 0,9% dari PDB, dengan pendapatan negara Rp2.055,6 triliun dan belanja negara Rp2.295,7 triliun. Keseimbangan primer tetap positif di angka Rp154 triliun. Pemerintah memproyeksikan defisit APBN hingga akhir tahun berada di kisaran 2,85% PDB (Rp734,3 triliun).

Namun, kenaikan harga minyak mentah dan fenomena El Nino dari BMKG menjadi perhatian serius. Risiko kekeringan dapat menekan sektor pertanian dan memicu inflasi pangan jika tidak diantisipasi dengan baik.

Advertisement

Prediksi Senin, 21 September 2026

Mencermati kombinasi sentimen eksternal dan domestik tersebut, Ibrahim memproyeksikan pergerakan mata uang rupiah pada perdagangan selanjutnya:

  • Perdagangan Senin (21/9/2026): Rupiah diprediksi bergerak fluktuatif dan berpotensi ditutup melemah (negatif) di rentang 750 – Rp17.800 per dolar AS.

Proyeksi Pekan Depan: Bergerak dalam kisaran Rp17.650 – Rp18.000 per dolar AS. ***

Lanjutkan Membaca
Advertisement