Ekonomi
Penutupan Perdagangan Akhir Juni 2025, Rupiah Melemah, IHSG BEI Menguat

Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melemah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menguat pada penutupan perdagangan Senin (30/6/2025) sore
FAKTUAL INDONESIA: Penutupan perdagangan akhir bulan Juni, Senin (30/6/2025), diwarnai dengan melemahnya nilai tukar (kurs) rupiah dan menguatnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI).
Melemahnya kurs rupiah dipengari oleh ukuran pengeluaran konsumen pribadi untuk barang dan jasa atau Personal Consumption Expenditures (PCE) di Amerika Serikat.
Pengaruh dari Amerika terkait kesepakatan negara itu dengan mitra dagangnya membawa IHSG BEI dan bursa regional Asia bergerak menguat.
Dalam pantauan media online seperti dilansir laman berita antaranews.com, nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan hari Senin di Jakarta melemah sebesar 44 poin atau 0,27 persen menjadi Rp16.238 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.195 per dolar AS.
Adapun Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini menguat ke level Rp16.231 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp16.233 per dolar AS.
Sedangkan IHSG ditutup menguat 30,28 poin atau 0,44 persen ke posisi 6.927,68. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 2,07 poin atau 0,27 persen ke posisi 772,65.
Baca Juga : Jelang Libur 1 Muharram 1447 H, Nilai Tukar Rupiah dan IHSG BEI Ditutup Menguat
Kesepakatan Amerika – China
Pengamat mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi mengatakan pelemahan nilai tukar (kurs) rupiah dipengaruhi data Personal Consumption Expenditures (PCE) inti Amerika Serikat (AS) yang tumbuh sesuai ekspektasi pasar sebesar 2,7 persen.
“PCE inti pada bulan Mei naik sebesar 2,7 persen YoY (year on year), lebih tinggi dibanding estimasi dan data bulan April,” kata Ibrahim Assuabi dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin.
Mengutip Xinhua, indeks harga PCE inti pada Mei 2025 juga mengalami kenaikan 0,2 persen month to month (MtM), lebih tinggi dari kenaikan sebelumnya yang sebesar 0,1 persen pada bulan April.
Adapun indeks PCE untuk Mei tercatat tumbuh 0,1 persen MtM sesuai dengan ekspektasi pasar.
Sentimen lainnya berasal dari kesepakatan AS dengan China yang secara resmi menandatangani perjanjian dagang. Hal ini menandakan secara efektif perang dagang berakhir.
Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick mengatakan kesepakatan tambahan akan segera terjadi menjelang batas waktu 9 Juli.
Mengenai perjanjian perdagangan AS-Inggris telah berlaku sejak Senin (30/6) atau hari ini, yang menyepakati pemangkasan tarif mobil hingga 10 persen dan menghapus sepenuhnya bea masuk suku cadang pesawat.
“Namun, batas waktu 9 Juli sudah dekat untuk kemungkinan penerapan kembali bea masuk pada mitra dagang lainnya, dan untuk tarif baja dan aluminium global,” ujar Ibrahim.
Baca Juga : Rupiah dan IHSG BEI Sama-sama Menguat, Ada Pengaruh Perang Israel lawan Iran
Betah Di Zona Hijau
Dalam bagian lain, dibuka menguat, IHSG betah di teritori negatif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih betah di zona hijau hingga penutupan perdagangan saham.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sembilan sektor menguat yaitu dipimpin sektor barang baku yang naik sebesar 3,31 persen, diikuti oleh sektor barang konsumen non primer dan sektor transportasi & logistik yang naik masing- masing sebesar 2,31 persen dan 1,19 persen.
Sedangkan, dua sektor melemah yaitu sektor keuangan yang turun sebesar 0,41 persen, diikuti oleh sektor teknologi yang turun sebesar 0,30 persen dan 0,41 persen.
Adapun saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu BTPN, KRYA, MTLA, JAYA dan BBS Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni BNLI, CLPI, INPS, JSPT dan EURO.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.156.959 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 21,13 miliar lembar saham senilai Rp13,64 triliun. Sebanyak 357 saham naik 228 saham menurun, dan 205 tidak bergerak nilainya.
Bursa saham regional Asia sore ini antara lain Indeks Nikkei menguat 321,93 poin atau 0,80 persen ke 40.472,00, indeks Shanghai melemah 20,20 poin atau 0,59 persen ke 3.444,19, indeks Hang Seng melemah 211,27 poin atau 0,87 persen ke posisi 24.072,31, dan indeks Straits Times melemah 1,91 poin atau 0,05 persen ke 3.964,09.
Menguatnya IHSG BEI dalam penutupan perdagangan Senin sore seiring optimisme kesepakatan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan negara mitra dagang.
“IHSG dan bursa regional Asia bergerak menguat, di topang harapan kesepakatan dagang dan data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang mendukung prospek pemangkasan suku bunga The Fed,” sebut Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas dalam kajiannya di Jakarta, Senin.
Baca Juga : Akhir Pekan, Rupiah Ditutup Menguat Sedangkan IHSG BEI Melemah
Dari mancanegara, AS dan China mencapai konsensus untuk mengklarifikasi aspek-aspek utama kerangka kerja perdagangan mereka.
Berdasarkan perjanjian itu, China akan menyederhanakan persetujuan untuk aplikasi ekspor barang-barang yang dikendalikan, sementara AS akan mencabut beberapa tindakan pembatasan.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan kemungkinan fleksibilitas menjelang batas waktu tarif pada 9 Juli 2025.
Namun demikian, pelaku pasar tetap berhati-hati karena pesan yang beragam dari pemerintah terus menciptakan ketidakpastian mengenai negara mana yang hampir menyelesaikan kesepakatan perdagangan dan negosiasi mana yang masih terhenti.
Sementara itu, Data PDB AS pada kuartal I mengalami kontraksi 0,5 kuartal on kuartal (qoq) sehingga mencerminkan penurunan daya beli konsumen, tentunya mendorong ekspektasi pasar akan pemangkasan suku bunga. ***














