Ekonomi
Pasar Keuangan Memerah: IHSG Terjun Bebas, Rupiah Sempat Lewati Rp17.000 Per Dolar AS

Memanasnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah menjadi salah satu faktor terseretnya ndeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dan nilai tukar rupiah ke zona merah hari ini Senin (9/3/2025). (Foto : Istimewa)
FAKTUAL INDONESIA: Benar-benar kelabu pasar keuangan dalam negeri di hari Senin (9/3/2026). Bayangkan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dan nilai tukar rupiah kompak berakhir di zona merah saat penutupan perdagangan saham dan valuta. Bahkan dalam perjalanannya sepanjang hari ini, rupiah sempat melewati Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Kombinasi panasnya tensi geopolitik di Timur Tengah dan sentimen negatif dari lembaga pemeringkat internasional menjadi “badai sempurna” yang memicu aksi jual masif.
Baca Juga : Jumat Kelabu: IHSG Terpangkas Cukup Dalam, Rupiah Kian Terdesak, Begini Prediksi Pekan Depan
IHSG Melemah Seluruh Sektor
IHSG BEI tak mampu membendung tekanan sejak bel pembukaan berbunyi. IHSG resmi ditutup merosot tajam 3,27% atau berkurang 248,32 poin ke level 7.337,37. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 25,47 poin atau 3,28 persen ke posisi 750,57.
Ketika pembukaan perdagangan pagi hari, IHSG dibuka melemah 211,38 poin atau 2,79 persen ke posisi 7.374,31. Kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 22,31 poin atau 2,87 persen ke posisi 753,74.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan pemandangan yang didominasi warna merah dengan 744 saham terkoreksi dan hanya 73 saham yang berhasil menguat. Sektor Transportasi menjadi yang paling menderita dengan kejatuhan mencapai 5,22%. Saham Big Cap seperti BBCA dan BUMI menjadi sasaran empuk aksi jual investor asing yang terus melakukan net sell.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya seperti dilansir liputan6 menyebutkan, IHSG melemah di tengah sentimen geopolitik dan potensi inflasi.
Baca Juga : IHSG Rebound Menguat 1,76%, Rupiah Masih Memerah Terjepit Tekanan Global
“Dari konflik di Timur Tengah, penutupan Selat Hormuz membuat para produsen minyak di Timur Tengah mengurangi produksinya, seiring kekurangan tempat penyimpanan minyaknya karena tidak dapat mengirimkan produksinya ke pelanggan,” ujarnya.
Sementara itu Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang menilai, secara teknikal, IHSG masih berpotensi menguji area support di kisaran 7.200-7.300. Namun jika mampu bertahan di level tersebut, indeks masih memiliki peluang untuk kembali menguji area resistance.
“IHSG diperkirakan berpotensi menguji kembali level 7.200-7.300. Jika masih cukup kuat ada peluang menguji resistance di 7.400 hingga 7.480,” katanya seperti dikutip dari kontan.
Sedangkan Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai koreksi IHSG sejalan dengan pelemahan bursa global dan regional Asia di tengah meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah.
Secara teknikal, Herditya memperkirakan IHSG berpeluang mengalami technical rebound pada perdagangan Selasa (10/3/2026).
“Kami perkirakan IHSG berpeluang menguat, cenderung technical rebound dengan support di 7.274 dan resistance di 7.403,” ujarnya.
Meski demikian, ia menilai potensi penguatan tersebut masih bersifat terbatas karena belum adanya sentimen positif baru yang cukup kuat untuk mendorong pasar secara berkelanjutan.
Baca Juga : Hadapi Tiga Ancaman Utama, IHSG Anjlok 4,5 Persen, Rupiah Terseret Dekati Rp17.000
Rupiah Tertekan Hebat
Setali tiga uang dengan pasar saham, nilai tukar rupiah juga terus terengah-engah. Sore ini, Rupiah melemah ke posisi Rp16.949 per dolar AS. Bahkan pada sesi pagi, mata uang Garuda sempat bergerak liar mendekati level psikologis Rp17.000.
Rupiah ditutup melemah 24 poin ke level Rp16.949 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya Rp16.925 per dolar AS. Sepanjang perdagangan, rupiah bahkan sempat melemah hingga 70 poin.
Pada pembukaan perdagangan rupiah bergerak melemah 76 poin atau 0,45 persen menembus Rp17.001 per dolar AS dari penutupan sebelumnya yang tercatat Rp16.925 per dolar AS.
Mengutip laporan Ipotnews, pengamat ekonomi, mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa indeks dolar AS menguat pada perdagangan hari ini di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik yang mendorong lonjakan harga minyak dunia.
“Harga minyak melonjak hingga 30% hingga melampaui US$100 per barel setelah serangan udara Israel dan Amerika Serikat menargetkan fasilitas minyak Iran selama akhir pekan. Teheran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan rudal terhadap beberapa fasilitas minyak di negara-negara Timur Tengah,” tulis Ibrahim dalam publikasi risetnya sore ini.
Baca Juga : Timur Tengah Masih Membara, IHSG dan Rupiah juga Tetap Memerah
Dari kawasan Asia, tekanan juga datang dari data inflasi Tiongkok yang menunjukkan peningkatan. Inflasi indeks harga konsumen (CPI) China tercatat tumbuh 1,3% secara tahunan pada Februari, lebih tinggi dari perkiraan pasar sebesar 0,9% dan menjadi laju pertumbuhan tercepat dalam tiga tahun.
Dari sisi domestik, Ibrahim menilai lonjakan harga minyak dunia berpotensi memberikan tekanan terhadap kondisi fiskal Indonesia. Harga minyak dunia sudah menyentuh angka US$ 92 per barel, rekor tertinggi sejak 2020. Angka ini jauh melampaui asumsi makro APBN 2026 yang hanya mematok harga di kisaran US$ 70 per barel. Dan ini akan menaikkan defisit sebesar Rp 6,8 triliun.
“Apabila harga minyak terus meroket hingga mendekati atau bahkan melampaui USD100 per barel, dampaknya bakal fatal bagi fiskal nasional. Defisit APBN terhadap PDB bisa terdongkrak hingga mendekati 4%,” ujar Ibrahim.
Menurut dia, kondisi tersebut berisiko tinggi karena melampaui batas defisit 3% yang diatur dalam UU No.17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Ia menilai terganggunya Selat Hormuz yang melayani sekitar 20% suplai minyak dunia menjadi faktor utama gangguan pasokan energi global.
Menghadapi situasi tersebut, Ibrahim menilai pemerintah perlu mengambil langkah strategis untuk menjaga stabilitas fiskal dan ekonomi nasional.
Untuk perdagangan Selasa besok (10/3), Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah masih akan fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah pada kisaran Rp16.950 – Rp17.000 per dolar AS.
Baca Juga : Imbas Timur Tengah Membara: IHSG Terjun Bebas, Rupiah Ikut Terkapar
Sentimen di Balik Kejatuhan
Para analis menunjuk tiga faktor utama yang membuat investor memilih main aman (risk-off):
- Panasnya Timur Tengah: Penunjukan pemimpin baru Iran yang dinilai fundamentalis memicu kekhawatiran konflik berkepanjangan. Efeknya? Harga minyak dunia (Brent) terbang di atas US$100 per barel, yang menjadi ancaman serius bagi inflasi dan beban subsidi energi Indonesia.
- Outlook Negatif dari Fitch: Revisi prospek peringkat utang Indonesia oleh Fitch Ratings dari ‘Stabil’ menjadi ‘Negatif’ masih membayangi persepsi risiko investor terhadap disiplin fiskal pemerintah.
- Aksi Profit Taking: Setelah penguatan di periode sebelumnya, banyak investor yang memilih mencairkan keuntungan (ambil untung) di tengah ketidakpastian global. ***














