Connect with us

Ekonomi

Imbas Timur Tengah Membara: IHSG Terjun Bebas, Rupiah Ikut Terkapar

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Membaranya situasi Timur Tengah dengan serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran membawa imbas sentimen negatif kepada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dan nilai tukar (kurs) rupiah pada Senin (2/3/2026)

Membaranya situasi Timur Tengah dengan serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran membawa imbas sentimen negatif kepada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dan nilai tukar (kurs) rupiah pada Senin (2/3/2026)

FAKTUAL INDONESIA: Situasi kawasan Timur Tengah yang makin membara dengan meningkatnya saling gempur Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran menghembuskan awan mendung bagi pasar keuangan Indonesia.

Pada perdagangan saham, Senin (2/3/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) harus terjun bebas terseret sentimen perang dan inflasi

Sedangkan nilai tukar (kurs) rupiah terkapar tak berdaya melawan dolar AS terimbas panasnya suhu global.

IHSG Mendarat di Level Psikologis

IHSG menutup hari dengan koreksi tajam sebesar 2,66% atau berkurang 218,66 poin, berakhir di level 8.016,83. Padahal, investor sempat berharap indeks mampu bertahan di zona nyaman 8.200-an.

Advertisement

Hampir seluruh sektor saham tumbang. Sektor barang konsumen non-primer menjadi yang paling “babak belur” dengan koreksi mencapai 7,60%. Namun, di tengah badai ini, sektor Energi justru menjadi pahlawan kesiangan dengan menguat 1,54%, menyusul lonjakan harga minyak mentah dunia yang terkatrol konflik di Timur Tengah.

Pelemahan ini bukan tanpa alasan. Kombinasi panasnya tensi geopolitik global dan data ekonomi domestik yang kurang menggembirakan menjadi “pukulan ganda” bagi para investor.

Ada tiga faktor utama yang membuat layar bursa hari ini didominasi warna merah:

  • Eskalasi Perang di Timur Tengah: Serangan militer yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu kepanikan global. Investor cenderung menarik dana dari aset berisiko (seperti saham) dan beralih ke aset aman (safe haven) seperti emas.
  • Inflasi RI yang “Pedas”: Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi Februari 2026 menyentuh angka 4,76%. Angka ini di atas ekspektasi pasar, sehingga memicu kekhawatiran akan kebijakan moneter yang lebih ketat dari Bank Indonesia.
  • Rupiah Melemah: Sejalan dengan koreksi IHSG, nilai tukar Rupiah juga tertekan ke posisi Rp16.861 per dolar AS.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim  mengatakan serangan AS dan Israel ke Iran membuat investor global menghindari aset-aset berisiko. Ia juga menyinggung soal harga minyak mentah yang naik akibat penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Hal itu  memicu kekhawatiran adanya inflasi dan naiknya suku bunga global.

“Namun, mayoritas saham-saham terkait energi dan tambang emas membukukan penguatan,” kata Ratna di Jakarta, Senin, seperti dilansir mediaindones sambil menambahkan, hal tersebut, ujar dia dapat menahan laju lemahnya IHSG lebih jauh.

Sektor Energi Jadi “Oase”

Advertisement

Dari 11 sektor saham, hampir semuanya tumbang. Sektor Barang Konsumen Non-Primer menjadi yang paling menderita dengan koreksi tajam 7,60%. Saham-saham big caps seperti BMRI, BREN, dan AMMN turut menjadi pemberat langkah indeks hari ini.

Namun, di balik kegelapan itu, sektor Energi justru tampil sebagai pahlawan kesiangan. Sektor ini menjadi satu-satunya yang menghijau dengan kenaikan 1,54%, didorong oleh lonjakan harga minyak mentah dunia akibat konflik di Selat Hormuz. Saham seperti ENRG dan OILS bahkan mencatatkan kenaikan signifikan di tengah badai.

Statistik Pasar Hari Ini:

Saham Menguat: 108 emiten

Saham Melemah: 671 emiten

Advertisement

Saham Stagnan: 41 emiten

Nilai Transaksi: Rp29,84 Triliun

Rupiah Tertekan Hebat

Setali tiga uang, mata uang rupiah juga loyo. Di pasar spot, mata uang Garida ditutup melemah 0,48% ke posisi Rp16.868 per dolar AS. Pelemahan ini menempatkan Rupiah di barisan mata uang Asia yang sedang “tiarap” menghadapi keperkasaan The Greenback.

Investor global saat ini lebih memilih memarkir uang mereka di aset aman (safe haven) seperti dolar AS dan emas, ketimbang aset berisiko di pasar negara berkembang.

Advertisement

Para analis melihat ada perpaduan faktor eksternal dan internal yang cukup menyengat hari ini:

  • Sentimen Risk-Off Akibat Perang: Eskalasi konflik di Timur Tengah (AS-Israel vs Iran) membuat investor global panik. Dalam kondisi genting, mereka lebih memilih memegang Dolar AS yang dianggap sebagai aset paling aman (safe haven), ketimbang aset di negara berkembang seperti Indonesia.
  • Efek Domino Inflasi: Rilis data inflasi domestik bulan Februari yang mencapai 4,76% turut memberi tekanan. Pasar mulai khawatir daya beli masyarakat tergerus dan Bank Indonesia mungkin harus mengambil langkah agresif untuk menstabilkan harga.
  • Krisis Kepercayaan Global: Adanya ketidakpastian kebijakan moneter di AS, termasuk isu investigasi terhadap pejabat tinggi The Fed, justru membuat aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar Indonesia menuju pasar Amerika.

Nasib Mata Uang Tetangga

Rupiah sebenarnya masih “mendingan” jika dibandingkan dengan rekan-rekannya di Asia. Berikut adalah gambaran “merah” di papan kurs hari ini:

Won Korea Selatan: Ambles paling dalam sebesar 1,51%.

Baht Thailand: Menyusul dengan koreksi 1,35%.

Ringgit Malaysia: Terdepresiasi 0,89%.

Advertisement

Dollar Hong Kong: Satu-satunya yang bertahan di zona hijau (naik tipis 0,02%).

Akankah Menuju Rp17.000?

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan tekanan terhadap rupiah terutama dipicu ketidakpastian global yang meningkat tajam akibat konflik di Timur Tengah.

“Pasar bereaksi terhadap eskalasi yang belum pernah terjadi sebelumnya di Timur Tengah. Pembunuhan tokoh paling berpengaruh di Iran meningkatkan kekhawatiran akan konflik regional yang lebih luas dan potensi gangguan terhadap pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, jalur energi global yang sangat penting,” tulis Ibrahim dalam publikasi risetnya sore ini.

Ibrahim memproyeksikan rupiah pada Selasa (3/3/2026) bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah direntang Rp 16.860 – Rp 16.910 per dolar AS.

Advertisement

Jika ketegangan di Timur Tengah tidak mereda, level psikologis Rp17.000 bisa saja teruji sebelum pertengahan tahun.

Meski demikian, Bank Indonesia (BI) diprediksi tidak akan tinggal diam. BI kemungkinan besar akan melakukan intervensi “triple intervention” di pasar valas dan obligasi untuk memastikan pelemahan ini tidak liar dan merusak fundamental ekonomi Indonesia. ***

Lanjutkan Membaca
Advertisement