Ekonomi
Timur Tengah Masih Membara, IHSG dan Rupiah juga Tetap Memerah

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dan nilai tukar rupiah terpantau kompak berakhir di zona merah pada perdagangan saham dan valuta Selasa (3/3/2026) di tengah masih memanasnya konflik di Timur Tengah
FAKTUAL INDONESIA: Pasar keuangan harus kembali menghadapi hari yang cukup menantang pada penutupan perdagangan Selasa (3/3/3036). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dan nilai tukar rupiah terpantau kompak berakhir di zona merah, melanjutkan tren tekanan yang terjadi sejak awal pekan.
IHSG Goyah di Level Psikologis
IHSG hari ini ditutup melemah tipis di bawah level psikologis 8.000, tepatnya di posisi 7.996,50. Meskipun sempat menunjukkan tanda-tanda rebound dan menguat ke posisi 8.098 pada pembukaan pagi, aksi jual ( profit taking ) dari investor asing tampaknya lebih dominan.
Beberapa sektor seperti manufaktur dan properti menjadi penahan laju indeks, sementara sektor energi masih cukup tangguh berkat kenaikan harga minyak dunia. Sentimen utama tetap berpusat pada kekhawatiran eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan AS-Israel dan Iran, yang dikhawatirkan mengganggu jalur logistik energi global di Selat Hormuz.
Baca Juga : Imbas Timur Tengah Membara: IHSG Terjun Bebas, Rupiah Ikut Terkapar
Seperti dilansir kontan, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang menilai tekanan terhadap IHSG dipicu meningkatnya kekhawatiran atas konflik geopolitik di Timur Tengah yang kian memanas.
“Kekhawatiran akan dampak perang yang berkepanjangan menjadi sentimen negatif bagi pasar,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (3/3/2026).
Secara teknikal, Alrich menilai IHSG telah menembus level psikologis 8.000 sekaligus bergerak di bawah MA200. Histogram MACD yang membentuk area negatif serta Stochastic RSI yang bergerak turun mengindikasikan potensi pelemahan lanjutan.
“Jika support di 7.860 tertembus, IHSG berpeluang menguji area 7.700-7.800,” jelasnya. Untuk perdagangan berikutnya, ia memproyeksikan resistance di 8.100, pivot 8.000, dan support di 7.800.
Senada, Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menyebut tekanan jual masih mendominasi pergerakan IHSG dan sejalan dengan proyeksi teknikal yang telah dirilis sebelumnya.
Baca Juga : Drama Akhir Pekan: IHSG Berhasil Comeback, Rupiah Terkapar Tertekan Ketegangan Global
“Secara teknikal IHSG masih rawan melanjutkan koreksinya. Dari sisi sentimen, kami perkirakan masih dipengaruhi dampak konflik Timur Tengah dan pergerakan harga komoditas dunia,” ujarnya.
Untuk perdagangan Rabu (4/3/2026), Herditya memperkirakan IHSG bergerak dengan support di 7.861 dan resistance di 8.017.
Rupiah Terkikis Tipis
Senada dengan pasar saham, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS juga belum mampu bangkit. Mata uang Garuda ditutup melemah di level Rp16.872 per USD. Pelemahan ini mencerminkan sikap hati-hati investor ( risk-off ) yang cenderung beralih ke aset aman ( safe haven ) di tengah ketidakpastian geopolitik.
Pengamat ekonomi, mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan penguatan indeks dolar AS pada hari ini turut menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Baca Juga : Rupiah Tancap Gas Menguat Tajam, IHSG Malah Loyo Memerah
Ia menjelaskan, perang udara AS dan Israel terhadap Iran yang semakin meluas menjadi faktor utama yang membebani pasar keuangan global.
“Perang udara AS dan Israel terhadap Iran meluas pada hari Senin dengan Israel menyerang Lebanon dan Iran membalas dengan serangan terhadap infrastruktur energi di negara-negara Teluk dan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz. Kapal tanker dan kapal kontainer juga menghindari jalur air tersebut karena perusahaan asuransi telah membatalkan pertanggungan mereka untuk kapal-kapal tersebut, sementara tarif pengiriman minyak dan gas global telah melonjak,” tulis Ibrahim dalam publikasi risetnya sore ini seperti dilansir indopremier.
Ia menambahkan, kekhawatiran terhadap jalur distribusi energi global semakin meningkat setelah muncul laporan terkait penutupan Selat Hormuz.
Dari sisi eksternal lainnya, pelaku pasar juga mencermati pernyataan sejumlah pejabat bank sentral AS. Selain itu, fokus investor juga tertuju pada rilis data ketenagakerjaan AS pekan ini.
Sementara itu fokus pasar minggu ini adalah data pasar tenaga kerja AS minggu ini, termasuk Perubahan Ketenagakerjaan ADP dan laporan Nonfarm Payrolls (NFP), yang dapat membentuk ekspektasi untuk jalur kebijakan moneter Fed.
Baca Juga : IHSG Rebound, Rupiah Balik Menguat, Kompak Masuk Zona Hijau Hari Ini
Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari kinerja neraca perdagangan Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca dagang Indonesia pada Januari 2026 mengalami surplus sebesar USD0,95 miliar dan mencatatkan surplus selama 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Surplus Januari 2026 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas sebesar USD3,22 miliar, terutama dari lemak dan minyak hewan nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja. Di sisi lain, neraca komoditas migas masih mencatat defisit USD2,27 miliar yang terutama berasal dari minyak mentah, hasil minyak dan gas.
Nilai ekspor Indonesia pada Januari 2026 tercatat sebesar USD22,16 miliar atau naik 3,39% dibandingkan Januari 2025. Ekspor migas tercatat USD0,89 miliar atau turun 15,62%, sementara ekspor nonmigas naik 4,38% menjadi US$21,26 miliar.
Adapun nilai impor mencapai USD21,20 miliar atau meningkat 18,21% secara tahunan. Impor migas tercatat USD3,17 miliar atau naik 27,52%, sedangkan impor nonmigas sebesar USD18,04 miliar atau tumbuh 16,71% secara tahunan. ***











