Olahraga
Persoalan Bridge Sesuai Perkembangan Zaman, Saatnya Beralih dari Struktur Organisasi Menuju Ekosistem Pembinaan

Apabila kita mulai melihat bridge Indonesia sebagai sebuah ekosistem yang saling terhubung, saya yakin organisasi ini akan menjadi lebih terbuka, lebih adaptif, dan lebih siap menghadapi perkembangan olahraga bridge di era digital. (Foto: Istimewa)
Oleh: Bert Toar Polii
FAKTUAL INDONESIA: Beberapa hari terakhir berkembang diskusi yang sangat menarik mengenai kedudukan klub dalam organisasi GABSI. Diskusi ini dipicu oleh pernyataan Presiden Ganesha Bridge Club, Abah Tonny Sastramihardja, yang menyoroti minimnya pengaturan mengenai keberadaan klub dalam AD/ART GABSI.
Beliau menyampaikan bahwa AD/ART hanya mengatur secara singkat syarat minimal berdirinya klub dan keberadaan klub sebagai prasyarat pembentukan Pengkab/Pengkot, tetapi hampir tidak mengatur mengenai hak, kewajiban, fungsi, maupun peran klub sebagai basis pembinaan pemain.
Baca Juga : Semarak HUT RI ke-81, DPP Kerukunan Keluarga Kawanua Gelar Berbagai Kegiatan. Turnamen Bridge Pasangan Siap Jadi Magnet Pecinta Bridge
Menurut saya, persoalan ini jauh lebih besar daripada sekadar membahas klub. Yang sebenarnya perlu kita pikirkan adalah bagaimana membangun ekosistem organisasi bridge Indonesia yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Dari Struktur Menjadi Ekosistem
Selama lebih dari tujuh puluh tahun, organisasi bridge Indonesia dibangun dengan struktur yang sangat jelas.
PB GABSI
⬇️
Pengprov
⬇️
Pengkab/Pengkot
⬇️
Klub
⬇️
Pemain
Model ini sangat tepat pada zamannya karena hampir semua aktivitas bridge dilakukan secara tatap muka dan berbasis wilayah.
Namun bridge Indonesia tahun 2026 sudah sangat berbeda.
Baca Juga : Saatnya Memikirkan Masa Depan GABSI, Sebuah Ajakan Berdiskusi Menyusun Reformasi Tata Kelola Bridge Indonesia
Pemain dapat berlatih setiap hari melalui BBO atau RealBridge.
Pelatih berada di kota lain.
Partner tinggal di provinsi berbeda.
Turnamen diselenggarakan secara hybrid.
Bahkan sebuah klub dapat memiliki anggota dari seluruh Indonesia bahkan dari luar negeri.
Artinya, perkembangan bridge sudah tidak lagi dibatasi oleh batas administrasi wilayah.
Yang berubah bukan hanya cara bermain bridge, tetapi juga cara berorganisasi.
Organisasi Bridge Tidak Lagi Hanya Klub
Kalau kita jujur melihat kondisi saat ini, sesungguhnya bridge Indonesia telah memiliki berbagai bentuk organisasi.
- Pengurus GABSI
Tetap menjadi tulang punggung organisasi olahraga sesuai amanat AD/ART dan sebagai satu-satunya induk organisasi bridge nasional yang berafiliasi dengan KONI dan federasi bridge internasional.
Baca Juga : Mari Datang Lebih Awal, Bridge Ikut Merayakan 500 Tahun Banjarmasin Lewat Sport Tourism
Fungsinya tidak berubah.
- regulator;
- pembina;
- penyelenggara kejuaraan;
- pengembangan prestasi.
- Klub Daerah
Inilah bentuk klub yang selama ini dikenal.
Mereka menjadi basis pembinaan di kabupaten atau kota.
Merekalah yang menjadi pemasok atlet daerah.
Keberadaan klub daerah harus tetap diperkuat.
- Klub Nasional
Fenomena baru yang belum banyak diakomodasi.
Baca Juga : Tantangan Sekaligus Peluang, Ketika Kalender Bridge Nyaris Tak Menyisakan Akhir Pekan
Misalnya klub yang:
- berbadan hukum;
- memiliki AD/ART sendiri;
- memiliki pengurus nasional;
- mempunyai anggota lintas provinsi;
- melakukan pembinaan secara berkelanjutan.
Klub seperti ini tidak bisa lagi dipandang hanya sebagai “klub lokal yang kebetulan besar.”
Mereka telah berkembang menjadi organisasi bridge nasional.
- Klub Institusi
Banyak perusahaan, perguruan tinggi, kementerian, BUMN, TNI, Polri maupun institusi pendidikan memiliki klub bridge yang aktif.
Keberadaan mereka sangat penting dalam pembinaan atlet.
Bahkan sebagian besar atlet nasional lahir dari lingkungan seperti ini.
Baca Juga : Prediksi Netral Tukang Bridge: Kenapa Final Ulangan Prancis vs Argentina Kali Ini Bakal Jadi Milik Les Bleus?
- Bridge Community
Inilah fenomena yang paling berkembang beberapa tahun terakhir.
Komunitas seperti:
- Mampang BC
- Poncol BC
- Nusantara BC
dan masih banyak lagi.
Mereka rutin mengadakan latihan.
Mengikuti turnamen.
Memiliki identitas komunitas.
Bahkan mampu menggerakkan pemain baru.
Walaupun belum berbentuk klub sebagaimana dimaksud AD/ART, faktanya mereka telah menjadi bagian penting dari kehidupan bridge Indonesia.
Mungkin inilah bentuk pembinaan modern yang belum kita akomodasi.
Baca Juga : Satire Piala Dunia 2026: Trofi? Nanti Dulu! Bagi Tukang Bridge, Sepatu Emas Lebih Penting
- Komunitas Digital
Perkembangan teknologi melahirkan organisasi yang sama sekali tidak bergantung pada lokasi.
Anggotanya tersebar di berbagai daerah.
Latihan dilakukan secara daring.
Diskusi berlangsung setiap hari.
Turnamen diselenggarakan secara online.
Komunitas seperti ini akan semakin banyak.
Tidak mungkin lagi diabaikan.
Ekosistem Bukan Kompetisi
Muncul pertanyaan.
Apakah keberadaan komunitas akan mengurangi peran klub?
Menurut saya tidak.
Justru semuanya saling melengkapi.
Pengkab membutuhkan klub.
Klub membutuhkan komunitas.
Komunitas membutuhkan pelatih.
Pelatih membutuhkan turnamen.
Turnamen membutuhkan sponsor.
Sponsor membutuhkan media.
Media membutuhkan konten.
Semuanya saling berhubungan.
Itulah yang disebut ekosistem.
Baca Juga : Bridge sebagai Laboratorium Kepemimpinan Minahasa, Dari Meja Bridge Menuju Kepemimpinan Indonesia
Memisahkan Fungsi Organisasi
Mungkin sudah saatnya kita memisahkan beberapa fungsi yang selama ini bercampur menjadi satu.
Klub
berfungsi sebagai wadah pembinaan.
Komunitas
berfungsi sebagai wadah aktivitas sosial dan edukasi.
Pengkab/Pengprov
berfungsi sebagai regulator dan pembina wilayah.
PB GABSI
berfungsi sebagai regulator nasional, pengembang olahraga, dan penjamin standar organisasi.
Dengan pembagian seperti ini, setiap unsur memiliki ruang berkembang tanpa saling bertabrakan.
Registrasi Ganda
Konsep lain yang mungkin perlu dipikirkan adalah registrasi ganda.
Baca Juga : Menjaga Api Tetap Menyala Merawat Legasi Michael Bambang Hartono untuk Masa Depan Bridge Indonesia dan Dunia
Seorang pemain memiliki:
Registrasi Organisasi
Misalnya anggota Ganesha Bridge Club.
Sedangkan secara terpisah memiliki:
Registrasi Atlet
Misalnya mewakili Kota Bandung atau Provinsi Jawa Barat.
Dengan demikian tidak ada lagi konflik antara keanggotaan klub dengan hak mewakili daerah.
Model seperti ini lebih sesuai dengan realitas organisasi modern.
Saatnya AD/ART Mengikuti Perkembangan
AD/ART adalah konstitusi organisasi.
Namun seperti konstitusi pada umumnya, ia harus mampu mengikuti perubahan zaman.
Perubahan bukan berarti meninggalkan nilai-nilai lama.
Sebaliknya, perubahan dilakukan agar tujuan organisasi tetap dapat dicapai dalam situasi yang berbeda.
Bridge Indonesia saat ini bukan lagi sekadar kumpulan klub di berbagai kota.
Baca Juga : Menatap Masa Depan Bridge Indonesia: Mengapa GABSI Harus Memulai Revolusi Digital Belajar dari WBF?
Bridge Indonesia telah berkembang menjadi sebuah ekosistem yang terdiri atas organisasi formal, klub daerah, klub nasional, klub institusi, komunitas, komunitas digital, pelatih, wasit, penyelenggara turnamen, media, sponsor, akademisi, dan tentu saja para pemain.
Kalau kita masih memandang semuanya hanya melalui kacamata “klub” sebagaimana puluhan tahun lalu, mungkin kita akan kesulitan menjawab tantangan masa depan.
Sebaliknya, apabila kita mulai melihat bridge Indonesia sebagai sebuah ekosistem yang saling terhubung, saya yakin organisasi ini akan menjadi lebih terbuka, lebih adaptif, dan lebih siap menghadapi perkembangan olahraga bridge di era digital.
Mungkin inilah salah satu agenda besar yang layak didiskusikan menjelang Kongres GABSI: bukan sekadar merevisi pasal-pasal AD/ART, tetapi merumuskan kembali desain ekosistem organisasi bridge Indonesia untuk 25 tahun ke depan. ***














