Internasional
Rupiah Jumat 24 Juli 2026: Melemah Terimbas Tarif Baru Trump, Senin Bisa Masuk Rentang Ini

Tertekan sentiment pasar global, menjelang akhir pekan ini, rupiah harus rela menyerah lagi di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) setelah pada perdagangan Jumat (24/7/2026) ditutup melemah. (Foto: Istimewa)
FAKTUAL INDONESIA: Gara-gara kebijakan baru penerapan tarif impor Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump nilai tukar (kurs) rupiah terimbas menjadi melemah pada perdagangan valuta asing, Jumat (24/7/2026).
Menjelang akhir pekan ini, rupiah harus rela menyerah lagi di hadapan dolar Amerika Serikat (AS). Pasar uang mencatat nilai tukar rupiah ditutup melemah 27 poin atau 0,15 persen ke posisi Rp17.963 per dolar AS pada penutupan perdagangan hari ini.
Sebelumnya pada pembukaan pagi, rupiah sempat bergerak menipis dan terus membayangi level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Saat pembukaan rupiah melemah 43 poin atau 0,24 persen menjadi Rp17.979 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.936 per dolar AS.
Baca Juga : Rupiah Kamis 23 Juli 2026: Terseret Meningkatnya Permintaan Valas, Masih akan Melemah Terbatas
Rupiah juga melemah pada Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini ke level Rp17.973 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.915 per dolar AS.
Secara akumulatif sepanjang pekan ini, rupiah tercatat terkoreksi tipis sebesar 0,23 persen dari posisinya pada Jumat pekan lalu.
Sementara itu, pergerakan mata uang utama di kawasan Asia mayoritas menguat terhadap dolar AS. Yen Jepang naik 0,06%, Won Korea Selatan naik 0,80%, sementara dolar Singapura naik 0,08%. Yuan China juga naik 0,02%, rupe India naik 0,05%, dan baht Thailand naik 0,34%.
Dolar Hong Kong turun 0,02%, peso Filipina naik turun 0,14%, dan ringgit Malaysia turun 0,11%.
Baca Juga : Rupiah Rabu 22 Juli 2026: Melemah 29 Poin, Berptensi Bergerak dalam Rentang Konsolidasi
Faktor Pelemahan Rupiah
Langkah loyo rupiah di penghujung pekan ini dipengaruhi oleh kombinasi dinamika pasar finansial global serta respons investor terhadap kebijakan moneter domestik:
- Penerapan Tarif Impor Baru Amerika: Presiden AS menerapkan tariff impor baru sebesar 12% kepada 60 negara mulai Jumat ini setelah tariff lama 10% masa berlakunya selama 150 hari berakhir.
- Penguatan Dolar AS (Greenback): Tingginya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) mendorong investor global mengalihkan dananya ke aset berisiko rendah (safe-haven assets), yang memicu lonjakan indeks dolar AS.
- Sikap ‘Wait and See’ Kebijakan The Fed: Pelaku pasar cenderung menahan diri menjelang rilis data ekonomi vital AS dan pertemuan The Fed berikutnya untuk membaca arah suku bunga acuan global.
- Respon Hasil RDG Bank Indonesia: Keputusan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen memberikan bantalan stabilitas, namun belum cukup kuat menahan arus modal keluar (capital outflow) akibat tingginya selisih suku bunga global.
Baca Juga : Rupiah Selasa 21 Juli 2026: Menguat 60 Poin ke Rp17.888, Cermati RDG Bank Indonesia
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menyatakan pelemahan rupiah dipengaruhi pemberlakuan tarif impor oleh Donald Trump terhadap Indonesia.
“Trump resmi memberlakukan tarif impor baru terhadap barang dari 60 mitra dagang mulai Jumat (24/7). Kebijakan tersebut menetapkan tarif sebesar 10% dan 12,5% terhadap berbagai produk impor, termasuk barang asal Indonesia,” ucapnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat.
Di samping itu, data pasar tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan menambah kekhawatiran bahwa Federal Reserve dapat mempertahankan sikap kebijakan yang restriktif.
“Klaim pengangguran awal secara tak terduga turun menjadi 187 ribu, level terendah dalam beberapa dekade, mendorong imbal hasil obligasi Treasury 10 tahun acuan ke level tertinggi sejak Januari 2025,” ungkap Ibrahim seperti dilansir Media Indonesia.
Pelaku pasar juga memantau eskalasi yang kembali meningkat antara militer antara AS dan Iran. Ibrahim menambahkan, harga minyak mentah dunia yang lebih tinggi juga memicu kekhawatiran bahwa inflasi dapat tetap di atas target Federal Reserve.
Baca Juga : Rupiah Senin 20 Juli 2026: Kembali Melemah Dekati Rp18.000, Tekanan Dolar AS Belum Mereda
Kemudian, dari dalam negeri, Ibrahim melihat pergerakan rupiah tertekan sentimen melemahnya investasi domestik serta lesunya konsumsi rumah tangga yang diperkirakan akan menahan pertumbuhan ekonomi nasional di bawah level 5%. Ia menyoroti pelaku usaha domestik yang masih memilih menahan ekspansi karena lemahnya permintaan dalam negeri, tingginya biaya pendanaan, serta ketidakpastian ekonomi. Sementara keputusan BI yang mempertahankan suku bunga belum mampu mengangkat rupiah secara signifikan.
Prediksi Senin Depan (27 Juli 2026)
Walaupun tertekan, pelemahan rupiah sebesar 0,15% ini dinilai analis masih tergolong moderat berkat intervensi terukur dari Bank Indonesia di pasar spot maupun pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).
Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan, untuk perdagangan Senin (27/7/2026) pekan depan, mata uang rupiah akan berfluktuasi, tetapi berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp 17.960- Rp 18.020 per dolar AS.
Sementara itu, dalam perdagangan sepekan, rupiah berpotensi ditutup pada level Rp 17.880-Rp 18.250.
Baca Juga : Rupiah Jumat 17 Juli 2026: Tambah Menguat di Akhir Pekan, Modal Bahan Bakar Bertahan Senin Depan
Faktor Penentu Pergerakan Senin:
- Uji Level Psikologis Rp18.000: Jika sentimen global terus memburuk, rupiah berisiko menembus batas psikologis Rp18.000.
- Aksi Pembelian Korporasi: Kebutuhan valuta asing oleh korporasi domestik menjelang akhir bulan (akhir Juli) biasanya dapat meningkatkan permintaan dolar AS di pasar lokal.
- Langkah Intervensi BI: Bank Indonesia diprediksi akan tetap aktif berada di pasar untuk menjaga agar volatilitas nilai tukar rupiah tidak melenceng terlalu jauh dari nilai fundamentalnya.
Memasuki awal pekan depan, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan membentang dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan berfluktuasi:
| Parameter | Proyeksi Pergerakan |
| Rentang Estimasi | Rp17.930 – Rp18.020 per dolar AS |
| Kecenderungan | Fluktuatif dengan potensi pelemahan terbatas |
| Sentimen Kunci | Rilis data pertumbuhan ekonomi dan inflasi AS, serta respons pasar terhadap harga komoditas |













