Olahraga
Saatnya Memikirkan Masa Depan GABSI, Sebuah Ajakan Berdiskusi Menyusun Reformasi Tata Kelola Bridge Indonesia

Kongres GABSI XIX tidak hanya dikenang sebagai forum pergantian kepengurusan, tetapi juga sebagai titik awal lahirnya arah baru bagi tata kelola bridge Indonesia yang lebih modern, profesional, transparan, dan berkelanjutan. (Foto: Istimewa)
Oleh: Bert Toar Polii
FAKTUAL INDONESIA: Dalam beberapa bulan ke depan, GABSI akan menyelenggarakan Kongres Nasional XIX di Mamuju. Bagi sebagian orang, kongres mungkin dipandang sebagai agenda rutin untuk memilih Ketua Umum dan Pengurus Besar yang baru. Namun saya percaya, Kongres seharusnya memiliki makna yang jauh lebih besar.
Kongres adalah momentum untuk bertanya kepada diri kita sendiri: ke mana arah bridge Indonesia akan dibawa dalam sepuluh hingga dua puluh tahun ke depan?
Selama puluhan tahun saya mengikuti perkembangan bridge Indonesia, baik sebagai pemain, pengurus, penyelenggara turnamen, penulis, maupun pemerhati bridge internasional. Saya melihat banyak kemajuan yang patut kita syukuri. Prestasi Indonesia pernah disegani di Asia, jumlah turnamen semakin banyak, teknologi mulai dimanfaatkan, dan komunitas bridge tetap hidup di berbagai daerah.
Namun di balik semua itu, ada persoalan-persoalan yang hampir selalu muncul berulang.
Bagaimana sebenarnya sistem keanggotaan GABSI yang ideal?
Apakah pendaftaran anggota harus tetap melalui klub, atau sudah saatnya memiliki sistem registrasi nasional berbasis digital?
Bagaimana mengatur mutasi pemain agar adil bagi atlet sekaligus tetap mendukung pembinaan daerah?
Haruskah Kejuaraan Nasional mengacu pada domisili sebagaimana PON dan PORPROV, atau tetap menggunakan pendekatan berbasis klub?
Apakah kalender nasional sudah tersusun secara efisien?
Apakah sistem Master Point sudah benar-benar mencerminkan tingkat prestasi pemain?
Apakah mekanisme pembentukan Tim Nasional sudah memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh atlet terbaik Indonesia?
Apakah tata cara pemilihan Ketua Umum sudah cukup rinci, transparan, dan mampu menghindari perbedaan penafsiran setiap kali Kongres diselenggarakan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukanlah kritik terhadap siapa pun. Sebaliknya, semuanya merupakan tanda bahwa organisasi kita terus berkembang dan membutuhkan perangkat aturan yang juga terus disempurnakan.
Olahraga bridge dunia telah berubah. Administrasi keanggotaan sudah berbasis digital. Kalender pertandingan disusun bertahun-tahun sebelumnya. Data pemain dapat diakses secara daring. Sistem pemeringkatan semakin transparan. Organisasi olahraga dituntut menerapkan prinsip tata kelola yang baik (good governance), akuntabilitas, dan pelayanan kepada anggota.
GABSI juga perlu terus bergerak mengikuti perkembangan tersebut.
Karena itulah saya berinisiatif menyusun sebuah Buku Putih Reformasi GABSI yang berisi gagasan-gagasan mengenai pembaruan tata kelola organisasi, mulai dari sistem keanggotaan, kalender nasional, peraturan teknik, Master Point, pembentukan Tim Nasional, digitalisasi organisasi, hingga penyempurnaan AD/ART.
Namun saya tidak ingin buku ini menjadi kumpulan pemikiran pribadi.
Saya berharap buku ini menjadi hasil pemikiran bersama seluruh insan bridge Indonesia.
Oleh karena itu, melalui tulisan ini saya mengundang seluruh pemain, pelatih, direktur pertandingan, wasit, pengurus klub, Pengkab/Pengkot, Pengprov, maupun pemerhati bridge untuk ikut memberikan gagasan, kritik, maupun pengalaman yang dapat memperkaya isi Buku Putih tersebut.
Tidak semua usulan nantinya harus disetujui. Perbedaan pendapat justru merupakan bagian penting dari proses penyusunan sebuah kebijakan yang baik. Yang terpenting adalah setiap gagasan didiskusikan secara terbuka, berdasarkan pengalaman, data, dan semangat membangun organisasi.
Harapan saya sederhana. Kongres GABSI XIX tidak hanya dikenang sebagai forum pergantian kepengurusan, tetapi juga sebagai titik awal lahirnya arah baru bagi tata kelola bridge Indonesia yang lebih modern, profesional, transparan, dan berkelanjutan.
Mari kita manfaatkan kesempatan ini untuk bersama-sama memikirkan masa depan bridge Indonesia.
Karena organisasi yang kuat bukan hanya dibangun oleh orang-orang yang baik, tetapi juga oleh sistem yang baik.
Saya percaya, dengan semangat kebersamaan, kita dapat mewariskan GABSI yang lebih kuat kepada generasi bridge Indonesia berikutnya. ***














