Ekonomi
IHSG Rebound, Rupiah Balik Menguat, Kompak Masuk Zona Hijau Hari Ini

Pasar keuangan Indonesia menutup perdagangan tengah pekan ini dengan torehan manis. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar Rupiah kompak berakhir menguat pada Rabu (25/2/2026)
FAKTUAL INDONESIA: Pasar keuangan Indonesia menutup perdagangan tengah pekan ini dengan torehan manis. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dan nilai tukar rupiah kompak berakhir menguat pada Rabu (25/2/2026), memberikan sinyal optimisme bagi para pelaku pasar di tanah air.
IHSG berhasil melakukan aksi rebound yang impresif. Setelah sempat bergerak variatif di awal sesi, IHSG akhirnya ditutup menguat.
Setali tiga uang, nilai tukar rupiah juga menunjukkan tajinya terhadap dolar Amerika Serikat (AS dengan ditutup menguat.
IHSG Berhasil ‘Rebound’
Setelah sempat terpuruk pada perdagangan hari sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya berhasil membalikkan keadaan. Pada penutupan perdagangan Rabu (25/2/2026), IHSG mendarat di zona hijau, memberikan sinyal positif bagi para investor di tengah pekan.
IHSG ditutup menguat 41,40 poin atau naik 0,50% ke level 8.322,23. Sepanjang hari, indeks bergerak cukup lincah dengan sempat menyentuh level tertinggi di 8.373,48, meski sempat juga mencicipi zona merah di level terendah 8.259,75 pada awal perdagangan.
Kenaikan IHSG hari ini tidak lepas dari performa gemilang beberapa sektor yang menjadi motor utama. Sektor kesehatan melonjak tajam 2,73%, menjadi pemimpin kenaikan sektoral hari ini. Kemudian sektor industri menyusul di belakang dengan penguatan signifikan sebesar 2,21%. Sedangkan sektor energi & bahan baku keduanya juga kompak menguat di atas 1%, mempertebal penguatan indeks secara keseluruhan.
Hanya ada sedikit “noda” di papan perdagangan, di mana sektor transportasi mengalami koreksi cukup dalam sebesar 1,69% dan sektor keuangan turun tipis 0,23%.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menjelaskan penguatan IHSG dan sejumlah Bursa Asia muncul didorong oleh optimisme pasar terhadap sektor AI.
“Di dalam negeri, penguatan tertahan oleh sikap hati-hati menjelang rilis data domestik pekan depan termasuk inflasi Februari dan neraca perdagangan Januari,” jelas Nico dalam riset, Rabu (25/2/2026).
VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi memproyeksikan IHSG akan bergerak bervariasi cenderung menguat dalam rentang level 8.247 dan resistance 8.430 pada perdagangan Kamis (26/2/2026).
“Dengan indikator MACD menunjukkan penguatan tren dan masih bergerak di atas MA10 atau ke level 8.275 yang menunjukkan tren bullish dalam jangka pendek,” jelasnya kepada Kontan, Rabu.
Rupiah Sempat Loyo
Sementara itu rupiah menunjukkan tajinya di tengah pekan ini. Sempat loyo karena dibuka melemah dan membuat was-was pelaku pasar pada Rabu pagi, nilai tukar rupiah akhirnya berhasil melakukan aksi rebound dan ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (25/2/2026).
Berdasarkan data pasar spot, Rupiah melesat 29 poin atau menguat 0,17% ke level Rp16.800 per Dolar AS. Performa ini terbilang impresif mengingat pada pembukaan perdagangan pagi tadi, Rupiah sempat tertekan hingga ke level Rp16.848 akibat sentimen global yang cukup menantang.
Ternyata, ada “angin segar” dari dalam dan luar negeri yang menjadi bensin bagi penguatan Rupiah hari ini:
- Efek ‘Sentimen Moody’s’: Kabar baik datang dari lembaga pemeringkat internasional, Moody’s, yang memberikan peringkat Baa2 pada obligasi RI senilai USD 10 miliar. Hal ini meningkatkan kepercayaan investor asing bahwa ekonomi Indonesia tetap tangguh.
- Dolar AS yang Kehabisan Napas: Di pasar global, Indeks Dolar AS (DXY) terpantau melemah ke level 97,679. Pidato terbaru dari otoritas AS yang dinilai lebih melunak terkait kebijakan tarif membuat “Greenback” kurang bergairah, sehingga memberikan ruang bagi mata uang Asia untuk bernapas.
- Aksi Borong Saham: Investor asing tercatat melakukan aksi beli bersih (net buy) di pasar saham domestik, yang turut membantu aliran modal masuk (inflow) ke tanah air.
Penguatan rupiah menurut pengamat ekonomi, mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menjelaskan, dari sisi eksternal, pelaku pasar masih dibayangi kebijakan tarif Amerika Serikat. Selain itu, ketegangan geopolitik juga masih menjadi perhatian pelaku pasar.
Di sisi lain, ekspektasi suku bunga tinggi di AS turut membatasi ruang penguatan mata uang emerging market. Namun, ekspektasi bahwa suku bunga AS akan tetap tinggi.
Sementara dari dalam negeri, sentimen positif datang dari penilaian lembaga pemeringkat global. Moody’s Ratings (Moody’s) telah memberikan peringkat Baa2 terhadap obligasi berdenominasi yuan offshore China dan euro yang diterbitkan pemerintah Indonesia dengan mekanisme shelf registration (obligasi berkelanjutan) senilai USD10 miliar.
“Secara fundamental, Moody’s masih menilai Indonesia memiliki ketahanan ekonomi yang memadai. Dukungan dari kekayaan sumber daya alam serta struktur demografi yang relatif menguntungkan menjadi bantalan pertumbuhan jangka menengah,” sebut Ibrahim.
Namun demikian, Ibrahim mengingatkan adanya sejumlah catatan karena stabilitas tersebut saat ini tengah dibayangi oleh meningkatnya ketidakpastian dalam proses perumusan kebijakan. Moody’s secara eksplisit mencatat bahwa prediktabilitas dan koherensi kebijakan telah melemah dalam setahun terakhir, kemudian juga diperparah oleh komunikasi kebijakan yang kurang efektif.
“Kombinasi ini berkontribusi pada meningkatnya volatilitas di pasar ekuitas dan valuta asing,” tambah Ibrahim. ***














