Opini
Harus Menjadi Titik Balik, Catatan Kritis Menjelang Kongres GABSI Mamuju

Kongres Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (Gabsi) diharapkan mampu memecahkan dan mengatasi kelemahan-kelemahan yang ada sehingga bridge Indonesia semakin berkembang dan berprestasi dunia kembali. (Ist)
Oleh : Bert Toar Polii – Tukang Bridge
FAKTUAL INDONESIA: Kongres Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (Gabsi) yang akan berlangsung di Mamuju, Sulawesi Barat, September mendatang, diharapkan bukan hanya sekadar formalitas pelaksanaan agenda organisasi. Bukan pula hanya sekadar memilih Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Gabsi masa bakti 2026 – 2030.
Perhelatan tertinggi organisasi bridge di Tanah Air ini perlu melakukan perubahan serius mengingat dinamika perkembangan yang begitu pesat agar Indonesia tidak semakin tertinggal terutama dalam prestasi. Untuk itu berikut masukan beerupa catatan kritis menjelang Kongres Gabsi Mamuju.
- AD/ART Sudah Ketinggalan Zaman (Masalah Fundamental)
Dokumen AD/ART terakhir direvisi tahun 2018 . Dalam praktik, perkembangan bridge—terutama digital—melaju jauh lebih cepat dibanding regulasi.
Masalah utama:
- Tidak mengatur bridge online sama sekali
- Tidak mengantisipasi hybrid competition (online + offline)
- Tidak mengatur digital governance (ID pemain, database, ranking nasional real-time)
- Banyak hal “dilempar” ke SK PB → rawan inkonsistensi
Usulan:
- Revisi total, bukan parsial
- Tambahkan bab khusus:
o Bridge Online & Hybrid
o Sistem Informasi & Database Nasional
o Integritas & Anti-Cheating Digital
- Ambiguitas Keanggotaan (Akar Konflik Organisasi)
Secara formal:
- Anggota adalah perorangan
Namun dalam praktik:
- Hak suara ada pada Pengprov & Pengkab/Pengkot
➡️ Terjadi disconnect antara:
- Membership system
- Voting system
Masalah konkret:
- Data anggota tidak sinkron dengan pemilik suara
- Keikutsertaan Mukernas/Kongres sering berbeda dengan data anggota aktif
- Tidak ada standar “anggota aktif” (apakah bayar iuran? main turnamen?)
Usulan:
- Terapkan Single Membership System (SMS) berbasis NIK/ID GABSI
- Definisikan:
o Anggota aktif
o Anggota kompetitif
o Anggota administratif
- Hak suara berbasis:
o jumlah anggota aktif
o atau kombinasi (wilayah + aktivitas)
- Hak Suara Kongres Tidak Proporsional
Saat ini:
- Pengprov = 2 suara
- Pengkab/Pengkot = 1 suara
Masalah:
- Tidak mencerminkan:
o jumlah anggota
o aktivitas bridge daerah
- Daerah “hidup” dan “mati” punya bobot sama
Usulan:
- Sistem weighted voting, misalnya:
o basis jumlah anggota aktif
o atau partisipasi Kejurnas
- Alternatif:
o minimal syarat keaktifan untuk punya hak suara
- Pendaftaran & Persyaratan Calon Ketua Umum Lemah
Saat ini hanya diatur sangat umum:
- Daftar 14 hari sebelum Kongres
- Presentasi visi misi
Tidak diatur:
- rekam jejak organisasi
- integritas
- konflik kepentingan
- dukungan minimal
Risiko:
- Kandidasi “instan”
- Politik organisasi tidak sehat
Usulan:
- Syarat minimal:
o pernah aktif di organisasi bridge (misal 5–10 tahun)
o bebas sanksi disiplin
o dukungan minimal (misal 20% Pengprov)
- Wajib:
o paparan program tertulis
o debat terbuka
- Bridge Online: Kosong Total dalam Regulasi
Padahal pasca pandemi:
- Bridge online menjadi realitas permanen
- Banyak turnamen nasional/internasional berbasis online
Masalah:
- Tidak ada pengakuan resmi
- Tidak ada aturan keabsahan hasil
- Tidak ada sistem pengawasan cheating digital
Usulan:
- Akui 3 kategori:
- Online resmi
- Hybrid
- Offline (F2F)
- Bentuk:
o Komisi Bridge Online Nasional
- Terapkan:
o sistem anti-cheating
o regulasi platform resmi
- Keanggotaan Tidak Berbasis Domisili (Benturan dengan KONI)
Dalam praktik:
- Pemain bisa mewakili daerah yang bukan domisilinya
Masalah:
- Bertentangan dengan prinsip pembinaan KONI
- Menghambat pembinaan daerah
- “Transfer pemain” tidak teratur
Usulan:
- Sistem:
o domisili utama (KTP)
o atau masa tunggu mutasi (misal 1 tahun)
- Aturan jelas:
o transfer pemain antar daerah
o pembelaan daerah di Kejurnas & multi event
- Peraturan Teknik Sudah Usang
Seperti Anda tulis dalam dokumen :
- Banyak format Kejurnas berubah tanpa dasar regulasi
- Inkonsistensi sistem pertandingan
Masalah:
- Tidak ada standar nasional yang konsisten
- Kejurnas berubah-ubah tiap tahun
Usulan:
- Kodifikasi ulang:
o format Kejurnas tetap
o kalender nasional
- Integrasi:
o sistem Swiss, KO, pasangan, BAM
- Sinkronisasi dengan:
o WBF / APBF
- Master Point System Sangat Tertinggal
Saat ini:
- Disebut dalam ART, tapi tidak modern
Masalah:
- Tidak real-time
- Tidak mencakup online
- Tidak transparan nasional
Usulan:
- Digitalisasi penuh:
o ranking nasional live
- Integrasi:
o semua event resmi (offline & online)
- Klasifikasi:
o National MP
o Online MP
o International MP
- Tidak Ada Sistem Database Nasional Terpadu
Ini akar dari banyak masalah di atas.
Dampak:
- Data anggota tidak valid
- Sulit membuat kebijakan berbasis data
- Konflik administratif berulang
Usulan:
- Bangun:
o GABSI Digital Platform
- Fitur:
o ID pemain nasional
o histori pertandingan
o ranking otomatis
o keanggotaan aktif
- Governance: Terlalu Banyak Diskresi PB
ART menyebut:
hal yang belum diatur bisa diputuskan PB
Masalah:
- Over-centralized
- Potensi inkonsistensi & konflik
Usulan:
- Batasi diskresi PB
- Perkuat:
o sistem regulasi tertulis
o mekanisme check & balance
Penutup
Jika tidak dilakukan perubahan serius, maka:
- konflik keanggotaan akan terus berulang
- Kejurnas kehilangan arah
- bridge nasional tertinggal dari dunia
Kongres Mamuju harus menjadi titik balik:
bukan sekadar memilih Ketua Umum,
tetapi mendesain ulang masa depan bridge Indonesia. ***














