Connect with us

Ekonomi

IHSG BEI Jumat 8 Mei 2026: Menguat Kemudian Anjlok Nyaris 3%, Berpotensi Tetap Terkapar

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) harus rela terpaksa gigit jari ditutup melemah signifikan pada perdagangan Jumat (8/5/2026) dan berptensi tetap anjlok di zona merah. (AI/Ist)

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) harus rela terpaksa gigit jari ditutup melemah signifikan pada perdagangan Jumat (8/5/2026) dan berptensi tetap anjlok di zona merah. (AI/Ist)

FAKTUAL INDONESIA: Pasar modal Indonesia gagal menutup akhir pekan dengan manis setelah  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) harus rela terpaksa gigit jari ditutup melemah signifikan pada perdagangan Jumat (8/5/2026).

Tekanan jual yang deras dari investor asing maupun domestik membuat indeks tak berdaya menahan gempuran hingga anjlok nyaris 3 persen ketika terpuruk ke zona merah.

Berdasarkan data bursa, IHSG ditutup melorot 2,86% ke level 6.969.

Sejak lonceng pembukaan berbunyi, tanda-tanda “badai” sudah terlihat dengan indeks yang langsung terjun bebas, meninggalkan level psikologis 7.100 yang sempat dipertahankan awal pekan ini.

Memang pada pembukaan perdagangan saham, IHSG sempat dibuka menguat namun tipis

Advertisement

8,64 poin atau 0,12 persen ke level 7.182,96.  Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik tipis 0,01 poin ke posisi 693,80.

Namun IHSG kemudian goyah dan anjlok tertekan berbagai hantaman sehingga  ditutup melemah 204,9 poin atau 2,86 persen ke level 6.969,40.

Saham Saham Melemah

Data perdagangan, seperti dikutip beritasatu, menunjukkan volume transaksi mencapai 56,342 miliar lembar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 36,089 triliun dan frekuensi perdagangan sebanyak 2,828 juta kali.

Sebanyak 133 saham menguat, 575 saham melemah, dan 108 saham stagnan. Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp 12.431 triliun.

Advertisement

Mayoritas indeks sektoral ditutup di zona merah. Sektor energi turun 4,59%, sektor bahan baku melemah 7,80%, sektor perindustrian turun 4,55%, sektor barang konsumen primer melemah 2,11%, dan sektor barang konsumen nonprimer terkoreksi 3,39%.

Selanjutnya, sektor kesehatan menjadi satu-satunya sektor yang menguat dengan kenaikan 0,70%.

Kemudian, sektor keuangan turun 1,48%, sektor properti melemah 2,66%, sektor teknologi terkoreksi 1,91%, sektor infrastruktur turun 0,32%, dan sektor transportasi serta logistik melemah 5,72%.

Tekanan juga terjadi pada sejumlah indeks saham unggulan. Indeks LQ45 turun 2,39%, Jakarta Islamic Index (JII) melemah 4,50%, IDX30 terkoreksi 2,13%, dan Investor33 turun 1,51%.

Pada jajaran top gainers, saham PT Megapower Makmur Tbk (MPOW) melesat 34,55%, PT Hetzer Medical Indonesia Tbk (MEDS) naik 34,48%, PT Itama Ranoraya Tbk (IRRA) menguat 25,00%, PT Phapros Tbk (PEHA) melonjak 24,83%, serta PT Kimia Farma Tbk (KAEF) naik 24,51%.

Advertisement

Sementara itu, top losers dipimpin PT Sinergi Inti Plastindo Tbk (ESIP) yang turun 15,00%, PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI) melemah 15,00%, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) terkoreksi 14,94%, PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA) turun 14,93%, dan PT Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL) melemah 14,89%.

Dampak Kombinasi Maut

Para analis melihat ada kombinasi maut yang menekan bursa domestik hari ini. Berikut adalah poin-poin utama penyebab rontoknya indeks:

  • Sentimen Geopolitik Global: Eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya di wilayah Selat Hormuz, memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global. Investor cenderung menarik dana dari aset berisiko (saham) menuju aset aman.
  • Pelemahan Rupiah: Selaras dengan IHSG, nilai tukar Rupiah juga terkulai ke level 364 per dolar AS. Pelemanan mata uang Garuda ini menjadi sentimen negatif tambahan bagi emiten yang memiliki beban utang dolar tinggi.
  • Aksi Profit Taking: Setelah sempat menguat tipis di pertengahan minggu, banyak investor memilih untuk melakukan aksi ambil untung (profit taking) guna mengamankan dana di tengah ketidakpastian akhir pekan.

Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan, koreksi IHSG sejalan dengan pelemahan mayoritas bursa global di tengah sentimen eksternal dan tekanan pada saham-saham berbasis tambang.

“Ini sejalan dengan mayoritas bursa global dan regional Asia yang terkoreksi. Hal ini disebabkan oleh perundingan AS dan Iran yang belum menemukan jalan tengahnya, dan kalau dilihat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga kembali melemah,” katanya.

Seperti dilansir metrotvnews, Herditya menerangkan, selain faktor global, tekanan terbesar juga datang dari emiten berbasis metal mining, setelah munculnya usulan kenaikan royalti mineral dan batu bara (minerba) oleh pemerintah guna meningkatkan penerimaan negara.

Advertisement

Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengusulkan skema royalti progresif baru untuk sejumlah komoditas mineral utama.

“Skema ini mencakup kenaikan batas atas royalti serta penyesuaian rentang harga guna mengoptimalkan penerimaan negara saat harga komoditas naik,” kata Herditya.

Sementara itu Phintraco Sekuritas menjelaskan pelemahan indeks tersebut dipicu oleh kombinasi faktor negatif eksternal dan kebijakan domestik. Menurut Phintraco Sekuritas tekanan berasal dari koreksi bursa global menyusul ketegangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali meningkat di pasar internasional.

Selain faktor geopolitik, rencana pemerintah terkait kenaikan tarif royalti progresif pada komoditas logam turut menekan pasar. Kebijakan ini menyasar sejumlah komoditas utama seperti nikel, tembaga, emas, perak, hingga timah yang menjadi tumpuan sektor pertambangan di tanah air.

Kondisi makroekonomi juga menunjukkan tekanan dengan penurunan cadangan devisa Indonesia. Posisi cadangan devisa per April 2026 tercatat sebesar US$ 146,2 miliar, turun dari US$ 148,2 miliar pada bulan sebelumnya, yang merupakan level terendah sejak Juli 2024.

Advertisement

Akankah Ada Rebound?

Melihat penutupan hari ini yang cukup tajam, para pelaku pasar diharapkan tetap waspada. “IHSG saat ini sedang mencari titik support baru. Jika situasi geopolitik sedikit mendingin, ada potensi technical rebound di awal pekan depan, namun sifatnya mungkin masih terbatas,” ujar seorang analis pasar modal.

Para investor disarankan untuk tetap melakukan strategi wait and see dan memperhatikan rilis data ekonomi domestik serta perkembangan situasi global sebelum melakukan akumulasi beli kembali.

MNC Sekuritas juga memprediksi adanya risiko koreksi yang sama bagi pergerakan indeks pada awal pekan depan. Namun, lembaga riset tersebut memberikan catatan mengenai potensi penguatan jika indeks mampu menguji rentang 7.207 hingga 7.418 dalam skenario terbaiknya.

Untuk menghadapi perdagangan Senin (11/5/2026), terdapat rekomendasi beberapa emiten untuk aktivitas trading. MNC Sekuritas menyarankan pengamatan terhadap saham AADI, BULL, INCO, dan MAPA di tengah fluktuasi pasar yang terjadi.

Advertisement

Para pelaku pasar kini menantikan sejumlah rilis data ekonomi penting yang dijadwalkan muncul pada pekan depan. Agenda tersebut mencakup laporan indeks keyakinan konsumen, angka penjualan ritel, volume penjualan sepeda motor, serta pengumuman rebalancing indeks MSCI pada 12 Mei 2026. ***

Lanjutkan Membaca
Advertisement