Ekonomi
Diskusi Menarik Tentang Pariwisata Di Sulut

Oleh : Bert Toar Polii
FAKTUAL INDONESIA: Awalnya saya memuat tulisan lama Desember 2024 mempertanyakan tentang tindak lanjut dari materi kampanye calon Gubernur Sulut YSK pada waktu itu.
Bunyinya demikian : Calon Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus Komaling (YSK) kembali mengungkap rencananya untuk memperindah danau Tondano Kabupaten Minahasa.
Kata YSK, saat ini sudah ada dana Rp1,26 Triliun yang disiapkan untuk membangun danau tondano. “Janji langsung ditepati, target saya pertama adalah membangun danau tondano dan dana telah disiapkan,” jelasnya
Disana, YSK berencana akan menghadirkan 4 dermaga, 4 terminal dan kapal wisata.
Lebih lanjut YSK mengatakan saat ini dia sudah berbicara dengan timnya untuk membahas lebih lanjut bagaimana danau tondano bisa menjadi tempat wisata paling indah di Indonesia.
“Kata pak Presiden, Sulut terkenal dengan Pariwisatanya, kalau ini kita tidak olah dengan baik, maka kekayaan dan kecantika alam ini akan hilang,” jelasnya
Menurut YSK, saat danau tondano selesai dibangun, maka disana wajib menampilkan kekayaan budaya yang ada di Sulut, UMKM, serta ekonomi kreatif.
Tulisan ini saya sampaikan di beberapa WAG yang anggotanya umumnya dari Sulawesi Utara.Hampir tidak ada tanggapan tentang ini walaupun saya tahu ada lumayan yang membacanya.
Baca Juga : Kuliah Umum Wamenpar Ni Luh Puspa Bersama Poltekpar, Pengembangan Gastronomi Harus Terintegrasi dengan Strategi Besar Pariwisata Nasional
Satu-satunya tanggapan yang menarik datang dari Prof. Dr. Ir. Janny D. Kusen, M.Sc, Anggota Komisi Nasional Pengkajian Sumber Daya Ikan, 2012 – sekarang seperti ini : Ini yang masih kontroversi. Misalnya . ide membuat 4 dermaga dan 4 terminal…harus ada kapal… kapal2 tamu ini operasi. Jika tidak operasi musti tiap hari beking panas jadi memerlukan bahan bakar. Bayangkan kalau ada 4 kapal. Siapa yang mau danai rutin biaya operasional dan perawatan.
Sekarang ini kapal-kapal mau angkut penumpang atau tamu turis dari mana. Kemudan lokasi dermaga dan terminal mau dimana. Kong tamu mau lihat apa di dekat-dekat terminal. Selain diterminal paling tidak ada toko souvenir, resto, toilet yang memerlukan suplai air bersih dan listrik yg tersedia 24 jam..
Samua torang tahu potensi wisata di Danau Tondano, .dan bicara pariwisata itu musti didukung oleh infrastruktur utama yaitu Jalan lingkar, listrik, air bersih, telekomunikasi, dan SDM..
Tanpa infrastruktur utama yang memadai maka pariwisata tidak akan maksimum memadai.
Pemikiran yang benar dan sangat beralasan tapi lebih terkesan pesimis ya mungkin karena pengalaman atau kenyataan yang dialami selama ini.
Saya coba ikut nimbrung lagi untuk meramaikan diskusi :
Mari torang jangan terlalu pesimis. Jika infrastruktur kurang memadai berdayakan sisi lainnya. Ingat pariwisata Bali dimulai tanpa infrastrukur yg memadai puluhan tahun yg lalu. Tapi budaya dan kehidupan masyarakatnya memikat turis. Kalau belum mampu 4 kapal ya mulai dari 1 atau 2. Yang penting dimulai. Kampung wisata juga mulai dibangun. Soal jalan lingkar luar yang tidak bisa dilalui bus besar, saya pernah mengalami saat ke reruntuhan Epheshus di Turki dan di Quanzhou China. Kita diantar bus ketempat dimulainya menikmati objek wisats kemudian disuruh jalan kaki dan dijemput ditempat lain atau tempat keluar karena bus tidak bisa masuk . Di Danau Tondano bisa disuruh naik perahu, jalan kaki, disediakan penyewaan sepeda atau naik bendi. Nanti dijemput dimana bus bisa sampai. Sekedar meramaikan diskusi. Kumura?
Baca Juga : Upacara HUT ke-80 RI, Menpar Widiyanti: Penguat Sektor Pariwisata dalam Menjaga Resilensi Perekonomian Nasional
Diskusi semakin menarik karena Prof Janny juga ikut membalas :
Tapi di Bali sudah ada itu atraksi-atraksi budaya adat dan agama yang dilakukan dan atraksi2 ini dari dulu orang mau nonton. Tanpa penontonpun tetap mereka lakukan sampe sekarang…Nah di Danau Tondano dan desa-desa lingkar danau apa yang ada. Dulu Pemerintah (masa Mangindaan) beking Fesbudaton, meriah banyak tamu. Tapi selesai itu sudah tidak banyak, sampe fasilitas yang ada ada rusak, hancur, tidak ada yang rawat, dan tidak ada dana. Aspek pariwisata nol. Jadi beda dengan Bali yang memang so ada lama.
Menurut saya bukan disitu bedanya karena kita juga punya tapi tidak diberdayakan. Dulu hampir setiap kampung ada maengket, musik bambu, cakalele dan kolintang. Tidak mahal untuk memberdayakan itu kembali. Sikap ramah dalam menjamu tamu adalah modal besar yang dipunyai orang Minahasa. Berdayakan rumah penduduk sebagai pengganti hotel. Tentu saja perlu bantuan pengarahan tentang kebersihan dan lain-lain. Sawah-sawah di Tondano yang sudah tidak produktif diberdayakan sebagai objek wisata dan masih banyak lagi. Pemerintah cukup memberikan kemudahan kepada para investor atau berdayakan koperasi Merah Putih untuk itu.
Kembali Prof Janni meramaikan diskusi dengan melontarkan :
Dulu itu kapan? dan apakah ada ritual2 budaya yg dilakukan secara terstruktut seperti di Bali ada Nyepi, Saraswati, Galungan, Tumpek Landep….yang tiap tahun dilakukan sejak sebelum ada penjajah, sebelum jadi Pulau Wisata Budaya dan Religi. Memamg Minahasa termasuk Toulour ada tarian Maengket seperti Marambak sehubungan dengan naik rumah baru. Rumah panggung yang musti uji kekuatan dengan batada di lantai papan atau Marambak. Tari2an bagus dibawa oleh Tim Promosi Sulut dengan kelompok Maengket di Eropah termasuk Jerman. Dijelaslan apa arti Marambak dan orang-orang kagum. Nanti kapan-kapan ke Minahasa bisa lihat orang mau naik rumah baru dengan tarian Marambak.
Suatu waktu di awal 2000an ada turis tua-tua Jerman datang di Manado mau cari dimana ada upacara naik rumah baru, mau lihat Tarian Maramba asli. Aduh Travel agen Om Jopi Poluan sebaga pemandu bingung. Karena tarian masih ada tapi upacara seperti itu sudah tidak ada.
Baca Juga : Kemenpar Ikuti “NATAS Holidays 2025”, Wujud Nyata Komitmen Indonesia Memperkuat Promosi Pariwisata di Pasar Singapura
Dari diskusi ini saya menyimpulkan bahwa kita tidak harus meniru Bali tapi memanfaatkan apa yang kita miliki secara maksimal.
Dalam setahun kita punya banyak acara yang special dan tidak banyak dilakukan di daerah lain. Kita mulai dengan Paskah.
Di Minahasa, kegiatan Paskah meliputi ibadah gereja, pawai, pembuatan taman Paskah, dan lomba-lomba seperti mencari telur, mewarnai telur, dan membuat lampion. Ada juga kegiatan kreatif seperti menghias pemukiman dengan ornamen Paskah dan membangun pondok-pondok Paskah. Selengkapnya baca disini : https://www.kompasiana.com/berttoarpolii2365/626df3f6ef62f619821f5632/mari-jo-ka-minahasa-nikamati-momen-paskah
Ini bisa berlangsung sekitar sebulan. Kemudian ada acara Nataru dan Kunci Taong juga berlangsung sebulan. Selain itu ada pengucapan syukur yang dirayakan secara bergantian setiap Minggu di beberapa Kabupaten/Kota di Sulut.
Terakhir ada Lebaran Ketupat yang sangat khas di beberapa perkampungan muslim di Sulut.
Selain itu ada beberapa festival baik yang sudah berjalan atau pernah dilakukan tapi terhenti. Ada Tomohon International Festival Flower, Festival Manado Fiesta, Festival Teluk Amurang, Festival Seni Dan Budaya Dalam Rangka Memperingati Hari Jadi Minahasa Selatan dimana ada lomba karnaval dan figura. Festival Pesona Selat Lembeh (FPSL) dan Festival Budaya Langoan, Festival Bunaken dan Festival Danau Tondano. Masih ada lagi Festival Teluk Tomini yang bisa menjalin kerjasama dengan Provinsi Gorontalo.
Ini saja kalau ditata sehingga penyelenggaraannya terencana rapih selama setahun maka hamper setahun penuh ada kegiatan pariwisata di Sulawesi Utara.
Hampir semua jenis wisata ada di Sulut tinggal bagaimana kita memanfaatkannya secara maksimal. Di luar negeri mereka membuat hutan dan taman bunga buatan sementara di Minahasa sudah tersedia sendiri.
Persoalan naik rumah baru dengan tarian marambak bisa dibuat acara rutin di Wolowan sebagai tempat pembuatan rumah panggung. Acara batifar, beking keramik dari tanah liat, panjat pohon kelapa secara tradisional bisa dibuat atraksi menarik untuk turis. Apalagi kalau mereka juga bisa mencobanya.
Baca Juga : Wamenpar Ni Luh Puspa Nyatakan Program Inisiatif ASEANTA Berpotensi Perkuat Pariwisata Asia Tenggara
Yang perlu adalah keinginan kuat pemerintah untuk memulai dan membenahi aturan serta mentaatinya sehingga membuat para investor dengan senang hati datang karena diberi karpet merah. Hal ini akan membuat masyarakat akan tidak sungkan untuk mendukung.
Mari torang bangun pariwisata Sulut dengan kolaborasi semua yang berkepentingan atau orang Tondano bilang stake holder. Karena pariwisata dengan bisnis adalah simbiosis mutualisme, di mana pariwisata menjadi pendorong ekonomi yang menghasilkan permintaan akan berbagai produk dan jasa, sementara bisnis menyediakan layanan dan produk tersebut untuk memperoleh keuntungan. Sektor pariwisata menciptakan peluang bisnis di berbagai bidang seperti akomodasi, transportasi, kuliner, dan ritel, yang pada akhirnya berkontribusi pada peningkatan pendapatan masyarakat, penciptaan lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi daerah maupun nasional.
Ini sudah sejalan dengan tujuan pengembangan pariwisata Sulawesi Utara (Sulut) pada tahun 2025 adalah meningkatkan jumlah wisatawan, memperkenalkan, mendayagunakan, dan melestarikan daya tarik wisata seperti Taman Laut Nasional Bunaken dan lain-lain, memperluas lapangan kerja, memupuk persahabatan antar bangsa, dan meningkatkan pendapatan daerah. ***














