Lapsus
PON Papua, Evaluasi Untuk PON Aceh-Sumut

Upacara penutupan PON XX Papua yang meriah. (Ist).
FAKTUAL-INDONESIA: Pekan Olahraga Nasional (PON) XX/2021 Papua sudah berakhir dengan segala dinamika yang terjadi sepanjang 2 – 15 Oktober 2021. Banyak kecurangan, bakuhantam di arena pertandingan, dan pemukulan wasit oleh penonton baru terjadi pada PON kali ini.
Keinginan tuan rumah Papua untuk meraih medali sebanyak mungkin dengan berbagai cara, adalah tindakan yang telah menghancurkan nilai-nilai sportivitas olahraga. Ini sangat merusak pembinaan atlet daerah lain yang sudah berlatih bertahun-tahun dengan biaya tinggi.
Kendati tuan rumah sudah melakukan berbagai kecurangan, toh mereka tidak mampu menjadi juara umum. Pasalnya, di nomor-nomor cabang olahraga terukur Papua tidak bisa berbuat curang. Pada akhirnya Papua hanya berada di peringkat 4 pengumpulan medali terbanyak.
Jawa Barat keluar sebagai juara umum dengan mendulang 133 medali emas, 105 perak, dan 116 medali perunggu. DKI Jakarta menempati urutan kedua dengan 111 medali emas, 91 perak, dan 99 perunggu. Sementara ururan ketiga ditempati Jawa Timur dengan 110 emas, 89 perak, dan 88 perunggu.
Sayangnya, PON XX Papua yang sejatinya bertujuan untuk menjadi PON prestasi, tidak berakhir sebagaimana yang diharapkan. Banyak tangis dan air mata yang jatuh di lapangan. Baik itu tangis bahagia maupun tangis duka karena kecewa. Kejadian-kejadian tak lazim terjadi di lapangan, dimana wasit tidak memainkan perannya sesuai janji wasit yang diucapkan saat pembukaan.
Nilai-nilai sportivitas yang selalu didengungkan sepanjang PON berlangsung agaknya sudah tergadai, dan berbunyi bagai sebuah slogam belaka. Atlet daerah lain banyak dirugikan karena keberpihakan wasit terhadap tuan rumah.
Di sinilah air mata penyesalan terburai menguak kisah sedih yang takkan terlupakan. Atlet yang mempersiapkan diri selama bertahun-tahun, hanya dikalahkan oleh ketidakjujuran wasit atau juri. Memang ini bukan terjadi di setiap venue, tetapi terjadi di banyak venue yang menampilkan atlet tuan rumah sebagai kontestan.
Oleh karenanya, Gubernur Provinsi DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan yang semula berharap betul gelar juara umum direbut kembali ke Ibukota, dapat menerima kondisi ini dengan jiwa besar. Atlet yang kalah atau dikalahkan tetap diapresiasi karena telah mengerahkan segenap tenaga dan kemampuan di setiap arena.
“Kalian adalah para patriot olahraga DKI Jakarta yang sudah berjuang segenap tenaga. Apapun hasilnya, harus diterima dengan tetap menjunjung tinggi sportivitas,” kata Anies ketika baru mendarat di Bandara Sentani Papua, Senin (10/10/2021) dan bertemu atlet yang hendak kembali ke Jakarta.
Ungkapan Gubernur Anies membangkitkan motivasi atlet. Menyejukkan hati karena diapresiasi secara positif. Pesan Gubernur, tidak perlu menyesal karena dirinya sudah mengetahui apa yang terjadi di setiap venue. “Saya selalu mengikuti perjuangan kalian di lapangan lewat berbagai media dari Jakarta. Jadi apa pun hasilnya harus diterima dengan lapang dada,” lanjutnya.
Ucapan Anies membuat atlet DKI merasa tidak bersalah karena kalah. Inilah yang dibutuhkan. Atlet yang sudah bermandikan keringat di lapangan, bahkan berdarah-darah untuk memperjuangkan harga diri sebuah provinsi tidak perlu dihujat. Mereka sudah berjuang semaksimal mungkin, sekuat tenaga dan pikiran.
Dalam diri setiap atlet, menyala semangat patriotik untuk menjadi yang nomor satu. Tidak ada di antara mereka yang dibawa ke Papua ingin kalah. Tapi bahwa banyak di antaranya yang ‘dikalahkan’ dengan cara yang tidak wajar, itulah kenyataan yang harus dihadapi.
Bagi warga DKI Jakarta, mulai dari penguasa hingga rakyat jelata tidak elok rasanya menghujat atlet karena DKI tidak menjadi nomor satu. Perolehan 100 keping lebih medali emas sepanjang PON berlangsung bukan sebuah kegagalan. Tapi memang kontingen Ibukota bukan yang terbaik karena berada di peringkat dua di bawah Jawa Barat.
Yang perlu dilakukan, tentu evaluasi secara menyeluruh. Kekalahan DKI tidak sepenuhnya karena atlet yang lemah, namun harus melihat persiapan lawan yang ternyata lebih dahsyat. Di samping itu, kondisi pandemi Covid-19 membuat atlet tidak maksimal dalam persiapan. Banyak program yang tidak berjalan, seperti rencana try out ke luar negeri untuk meningkatkan prestasi.
Sesuai dengan slogan Jakarta Berkolaborasi, marilah kita bersinergi antara KONI DKI, Pemprov dan DPRD. Tidak perlu saling menyalahkan, karena PON Papua sudah berakhir dengan dinamikanya yang unik. Yang perlu disikapi sekarang adalah belajar dari pengalaman untuk menatap PON XXI/2024 Aceh – Sumut.
PB PON Aceh-Sumut harus belajar dari kasus-kasus yang terjadi di PON Papua, agar kejadian memalukan yang terjadi di Papua tidak terulang kembali. Evaluasi menyeluruh terhadap wasit dan juri perlu dilakukan agar pembinaan olahraga benar-benar melahirkan atlet berprestasi sejati.
Sayonara Papua, sampai jumpa di PON Aceh-Sumut 2024. ***














