Ekonomi
Menteri ESDM Bahlil Menjawab Soal Lifting Gas Bumi dan PNBP Migas Tidak Capai Target 2025

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia saat menyampaikan capaian kinerja Kementerian ESDM sepanjang tahun 2025 yang penuh cobaan dan dinamika. (Kementerian ESDM)
FAKTUAL INDONESIA: Di tengah capaian positif Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tahun 2025, ternyata lifting gas bumi dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) subsektor minyak dan gas mumi (Migas) tidak mencapai target yang dicanangkan.
Sektor ESDM Tahun 2025 di Jakarta, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengemukakan, meski lifting gas bumi di bawah target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) namun untuk memenuhi seluruh kebutuhan gas tidak ada yang berasal dari impor. Semua dipasok dipasok dari produksi gas dalam negeri.
Baca Juga : Kapasitas Pembangkit Naik, Bauran EBT Listrik Lampaui Target, Menteri ESDM Bahlil: Tahun 2026 Kita Harus Genjot
Menurut Menteri ESDM Bahlil, rata-rata lifting gas bumi pada tahun 2025 mencapai 951,8 ribu barel per hari (Thousand Barrels of Oil Equivalent Per Day/MBOEPD), atau di bawah target APBN sebesar 1.005 ribu barel.
Adapun dari total 5.600 Billion British Thermal Unit Per Day (BBTUD) gas bumi, sebagian besar dimanfaatkan untuk kebutuhan domestik sebanyak 3.908 BBTUD atau 69%. Jumlah tersebut digunakan untuk kebutuhan hilirisasi dan domestik lain, seperti Bahan Bakar Gas (BBG), jaringan gas bumi (jargas), peningkatan produksi migas, ketenagalistrikan, Liquefied Natural Gas (LNG), dan Liquefied Petroleum Gas (LPG). Sisanya sebesar 1.691 BBTUD atau 31% diekspor.
Baca Juga : Bahlil Targetkan Impor Solar Dihentikan pada 2026
Kemudian terkait tidak tercapainya target PNBP subsektor migas, Bahlil menjawab, karena disebabkan oleh faktor harga minyak mentah (ICP) yang jauh di bawah asumsi makro yang ditetapkan pada tahun 2025.
“Saya harus menyampaikan bahwa di dalam asumsi makro APBN kita, harga ICP itu USD82 per barel. Namun kenyataannya rata-rata sejak dari Januari sampai 31 Desember rata-rata harga minyak dunia itu USD68 per barel,” tandasnya.
Realisasi PNBP SDA Migas yang dicatatkan melalui Kementerian Keuangan mencapai Rp105,04 triliun atau sebesar 83,7 persen dari target Rp125,46 triliun.
Meskipun persentasenya belum mencapai target, Bahlil mengatakan bahwa kinerja sektor migas menunjukkan tren positif di mana lifting minyak bumi nasional rata-rata tahun 2025 mencapai 605,3 MBOPD atau 100,05 persen dari target APBN. Capaian lifting ini menjadi catatan bersejarah karena merupakan capaian pertama kali dalam sepuluh tahun terakhir yang mencapai target APBN.
Baca Juga : Respon Cepat Pasca Bencana Aceh dan Sumatera, Menteri ESDM Bahlil Kirim 1.000 Genset dan 3.000 Kompor Gas
Capaian Positif 2025
Seperti dikutip dari laman Kementerian ESDM, Bahlil menegaskan, sejalan dengan Asta Cita Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, Kementerian ESDM sepanjang tahun 2025 mengupayakan tercapainya swasembada energi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Menurut Bahlil, meski tahun 2025 memberikan tantangan bagi kemajuan sektor ESDM, Kementerian ESDM tetap hadir.
“Tahun 2025 ini adalah tahun yang penuh cobaan dan dinamika, khususnya bagi kami di Kementerian ESDM. Kenapa? Karena melewati 2025 ini, ya ada suka duka lah, suka duka yang cukup luar biasa. Tapi bagi kami, setiap ada tantangan, justru di situlah harus ada kehadiran kita dalam rangka mewujudkan apa yang menjadi target dari Bapak Presiden,” ujar Bahlil, Kamis (8/1/2026).
Bahlil menyampaikan, bahwa pencapaian lifting minyak bumi mencapai 605,3 ribu barel per hari (Thousand Barrels of Oil Per Day/MBOPD), atau 100,05 persen dari target yang ditetapkan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2025.
Baca Juga : Bencana Sumatera: Di Hadapan Pengungsi Menteri Bahlil Janji Sikat Izin Tambang yang Langgar Aturan
Capaian lain yang tidak kalah menggembirakan adalah Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang tercatat di Kementerian ESDM melampaui target APBN tahun 2025. Tercatat, PNBP Kementerian ESDM mencapai Rp138,37 triliun atau 108,56% dari target.
Capaian ini terdiri dari PNBP Sumber Daya Alam (SDA) Mineral dan Batubara (Minerba), SDA Panas Bumi, serta PNBP sektor lainnya, yakni PNBP dari layanan BLU, iuran badan usaha hilir migas, DMO migas, kompensasi DMO Batubara, denda smelter, denda Penertiban Kawasan Hutan (PKH), jasa layanan ketenagalistrikan, museum, pemanfaatan Barang Milik Negara (BMN) dan jasa lainnya.
“Saya harus jujur mengatakan bahwa ini kerja tim. Kerja-kerja yang membutuhkan inovasi, konsentrasi, dan totalitas. Kenapa ini kita harus lakukan? Karena negara membutuhkan dana untuk bagaimana bisa membiayai program-program kerakyatan,” ujar Bahlil.
Terkait dengan investasi, total investasi sektor ESDM mencapai USD31,7 miliar. Angka ini terdiri dari investasi subsektor Minerba sebanyak USD6,7 miliar; subsektor migas USD18 miliar; subsektor listrik USD4,6 miliar, dan subsektor EBTKE pada angk USD2,4 miliar. Untuk meningkatkan investasi, Bahlil menyampaikan pihaknya akan menugaskan PT PLN (Persero) untuk mendorong percepatan pembangunan pembangkit-pembangkit baru yang telah disetujui dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).
Baca Juga : Rapat Darurat dan Bermalam di Lokasi Bencana Sibolga, Menteri Bahlil Pastikan Listrik Jumat Menyala
Dari subsektor minerba, total produksi batubara mencapai 790 juta ton. Dari seluruh produksi tersebut, 32% dimanfaatkan untuk kebutuhan domestik kelistrikan dan non-kelistrikan. 65,1% atau 514 juta ton untuk diekspor, dan sisanya sebanyak 22 juta ton (2,8%) untuk stok.
Sementara bauran energi dari EBT sepanjang tahun 2025 mencapai 15,75%, mengalami peningkatan dari capaian tahun 2024. Capaian Total kapasitas terpasang EBT sampai bulan Desember 2025 sebesar 15.630 MW. Tambahan kapasitas di tahun 2025, merupakan yang terbesar selama 5 tahun terakhir. Secara rinci realisasi kapasitas pembangkit EBT dari hidro sebesar 7.587 MW, Bioenergi 3.148 MW, Panas Bumi 2.744 MW, Surya 1.494 MW, Gasifikasi Batubara 450 MW, Angin 152 MW, Sampah 36 MW, dan lainnya sebanyak 18 MW.
Kementerian ESDM juga mewajibkan implementasi kebijakan B40, yang merupakan Bahan Bakar Nabati (BBN) campuran 40% minyak sawit dan 60% solar. Pemanfaatan biodiesel domestik Januari hingga Desember 2025 tercatat mencapai 14,2 juta kilo Liter (kL), atau setara dengan 105,2% dari target Indikator Kinerja Utama (IKU) yang ditetapkan sebesar 13,5 juta kL di tahun 2025. Mandatori ini juga mampu menurunkan impor solar hingga 3,3 juta kL. B40 juga memberikan manfaat ekonomi berupa penghematan devisa sebesar Rp 130,21 triliun dan pengurang anemisi mencapai 38,88 juta ton CO2 ekuivalen, serta peningkatan nilai tambah Crude Palm Oil (CPO) menjadi biodiesel sebesar Rp 20,43 triliun.
Dari sektor kelistrikan, konsumsi listrik perkapita masyarakat Indonesia telah mebcapai 1.584 kWh atau 108,2% dari target 1.464 kWh. Angka ini naik dari capaian tahun sebelumnya sebesar 1.411 kWh. Sementara itu, kapasitas terpasang pembangkit listrik di tahun 2025 juga mengalami peningkatan sebanyak 7 gigawatt (GW) dari tahun 2024, menjadi 107,51 GW.
Baca Juga : Tinjau Langsung Infrastruktur Ketenagalistrikan Terdampak Bencana Aceh, Menteri ESDM Bahlil: Sekarang Waktunya Kerja untuk Ibu Pertiwi
Untuk meningkatkan akses kelistrikan masyarakat, Pemerintah melaksanakan program Listrik Desa dan Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL). Sepanjang tahun 2025, Program Lisdes telah melistriki 77.616 pelanggan di 1.516 lokasi. Adapun hingga 31 Desember 2025 program BPBL telah terpasang bagi 205.968 rumah tangga.
“Arahan dari Bapak Presiden Prabowo, bahwa sampai dengan 2029-2030, semua desa-desa atau dusun-dusun yang jumlahnya 5.700 dan 4.400, harus semua listriknya sudah ada. Kehadiran listrik itu sebagai bentuk kehadiran sosial, dan negara harus hadir,” tegas Bahlil.
Pada periode tahun 2025, Pemerintah menerbitkan berbagai kebijakan untuk mereformasi sektor ESDM. Pertambangan Inklusif dan Partisipatif diatur melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 18 Tahun 2025, Sumur Minyak Masyarakat melalui Permen ESDM Nomor 14 Tahun 2025, Tata Kelola Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) melalui Permen ESDM Nomor 17 Tahun 2025, Percepatan Pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) melalui Permen ESDM Nomor 4,5 & 10 Tahun 2025.
Penciptaan tenaga kerja juga menjadi fokus Pemerintah. Tercatat sebanyak 871.574 tenaga kerja terserap di subsektor migas, minerba, ketenagalistrikan, dan EBTKE. Ini merupakan bentuk tanggung jawab negara dalam memberikan ruang bagi penciptaan lapangan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia.
Baca Juga : Bencana Sumatera, Percepat Pulihkan Pasokan Listrik dan BBM, Menteri ESDM Bahlil: Tower Dikirim Pakai Hercules
Sementara itu di tengah fluktuasi harga komoditas global yang menantang, realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang tercatat di pembukuan Kementerian ESDM sebesar Rp138,37 triliun, di mana target awal yang ditetapkan dalam Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) tahun 2025 sebesar Rp127,44 triliun.
“Pencapaian target dari PNBP yang tercatat di Kementerian ESDM itu mencapai 108,56 persen, melampaui target. Dan ini saya harus jujur mengatakan bahwa ini kerja tim, kerja-kerja yang membutuhkan inovasi, konsentrasi, dan totalitas. Kenapa ini kita harus lakukan? Karena negara membutuhkan dana untuk bagaimana bisa membiayai program-program kerakyatan,” ujar Bahlil.
Keberhasilan melampaui target ini didorong oleh kontribusi signifikan dari beberapa subsektor, yang terbesar berasal dari PNBP sektor Sumber Daya Alam (SDA) Mineral dan Batubara (Minerba) yang mencapai 104,38 persen dari target, SDA Panas Bumi sebesar 103,4 persen, serta sektor lainnya yang melonjak hingga 311,05 persen. Menteri Bahlil memberikan apresiasi kepada seluruh pegawai Kementerian ESDM terkait atas capaian ini, mengingat kondisi harga batu bara dan beberapa komoditas lainnya yang kurang bergairah sepanjang tahun lalu. ***














