Olahraga
Olimpiade Catur 2024: Srikandi Indonesia Lumpuhkan Barbados, Tim Putra Menyerah dari Andorra di Babak 10

Srikandi Indonesia kembali tampil menawan raih kemenangan di babak ke-10. (Foto : istimewa)
FAKTUAL-INDONESIA: Tim catur putri atau Srikandi Indonesia kembali tampil menawan. Setelah di babak sebelumnya dikalahkan Korea Selatan, pada ronde ke-10 ini meraka mengalahkan Barbados. Sayangnya, tim putra harus mengakui keunggulan Andorra.
Indonesia yang menurunkan dua pemain senior dan dua pemain yunior. mampu menggulung Barbados dengan menang telak 4:0 . Diawali dengan kemenangan pemain junior, Clementia Adeline (1550) di meja 4 melawan WCM Kiarra Eversley (1615).
Di partai ini, Clementia memanfaatkan kelemahan hitam saat bidaknya tidak terkoordinasi. Tekanan yang dilakukan menyebabkan lawannya miskalkulasi hingga kalah perwira dan akhirnya Kiarra menyerah. Dengan kemenangannya ini, Clementia berhak meraih gelar WFM (Woman Fide master) karena telah membukukan 6,5 point dari 10 babak yang dipertandingkan.
Baca Juga : Olimpiade Catur 2024: Tim Putra Perkasa Menang atas Palestina, Tim Putri Kalah dari Korsel di Babak Kesembilan
Kemenangan Indonesia berlanjut di papan 3, saat Evi Yuliana (1912) mampu menyelesaikan partainya di langkah ke 44 saat melawan WCM Chanon Reifer-Belle (1736).
Meski Evi sempat mengorbankan 1 bidaknya yang ditolak Chanon, namun keputusan ini justru menguntungkannya karena punya kesempatan mengembangkan dan menyusun seluruh bidaknya dan semakin siap melakukan pukulan. Saat lawan lengah, Evi langsung menyerang hingga lawannya menyerah.
Dua pemain senior, Lindri Juni dan Evi Lindiawati pun tak mau ketinggalan,keduanya pun mengandaskan lawan-lawan mereka.
Di meja 2 , WCM Evi Lindiawati (1940) menang dari WCM Katrina Blackman. “Setelah pembukaan memasuki babak tengah, buah catur Evi lebih terkoordinasi baik. Sementara buah catur Katrina tidak harmonis susunannya, untuk bertahan atas ancaman putih maupun persiapan melakukan counterplay. Sehingga Evi berhasil melakukan serangan dan merusak koordinasi buah, sehingga meraih keuntungan materi,” ungkap Lisa Lumongdong, kapten tim putri.
Sementara di meja 1, terjadi pergulatan cukup alot antara WIM Lindri Juni Widjayanti (2155) dan WCM Hannah Wilson (1818), namun Lindri yang unggul pengalaman, akhirnya bisa mengatasi situasi awal di pembukaan yang kurang nyaman untuk bidak hitam.
Sementara Hannah yang memegang bidak putih tak dapat memanfaatkan situasi tersebut. Lindri akhirnya dapat melakukan konsolidasi untuk terus memperbaiki posisi dan melakukan persiapan serangan balik hingga akhirnya unggul sampai 2 bidak di permainan akhir.
Baca Juga : Olimpiade Catur 2024: Srikandi Indonesia Menang atas Lebanon, Tim Putra Tertahan di Tangan Uruguay di Babak ke Delapan
Lindri, pecatur senior putri yang terakhir turun di Olimpiade tahun 1996 ini, kembali bermain catur untuk Indonesia setelah sekian lama tak berlaga di pertandingan internasional. “Karena lama tidak main, kecepatan waktu berpikir agak terpengaruh. Tetapi lega juga bisa menang, karena bermain di Olimpiade itu tekanannya berbeda dengan di pertandingan lain,” ujar Lindri.
Di bagian putra, Andrean dan rekan-rekannya harus mengakui keunggulan tim Andorra yang berada di urutan 61 seeded dunia tersebut. Namun Indonesia pun kalah terhormat dengan skor tipis 1½-2½.
FM Andrean Susilodinata (2393) harus mengakui keunggulan GM Lance Handerson De La Fuente ((2519). Andrean memang terlihat kalah kelas dari GM Fuente yang terus mendikte dan merebut bidak-bidak Andrean satu per satu.
Kekalahan dialami juga oleh Zacky Dhia Ulhaq (2203) yang bermain di meja 3, yang tunduk pada M Serni Ribera Veganzones (2309). Zacky yang sempat lebih dulu aktif menyerang, perlahan seperti kehabisan tenaga, serangan Zacky satu per satu dipukul mundur para perwiranya dan berbalik menjadi bertahan total. Itu pun tetap tidak menolong. Serni pun menang.
Sementara pemain papan 4, CM Fabian Glen Mariano (2121) berbagi angka sama dengan CM Josep Maria Ribera Veganzones (2167). Fabian yang unggul satu bidak dalam permainan akhir benteng, gajah belang, tiga bidak lawan dua bidak, posisi Raja Fabian pasif sekali, begitu juga benteng dan gajahnya sehingga terjadi pengulangan tiga kali bangunan yang sama.
“Josep yang melihat kedua temannya sudah menang langsung mengklaim remis ke wasit. Wasit lapangan kemudian membawa kedua pemain ke wasit sektor untuk mengecek apakah benar terjadi three fold repetion. Ternyata benar. Jadi otomatis remis,” ujar Kristianus Liem , kapten tim putra Indonesia.
Baca Juga : Olimpiade Catur 2024: Tim Putra Menang & Tim Putri Tertahan, Satria Duta dan Evi Yuliana Terus Bersinar Hingga Babak Ketujuh
Duta Satria Gemilang
Satu-satunya kemenangan dihasilkan dari pemain papan 2 FM Satria Duta Cahaya (2219) , yang lagi-lagi membuat kejutan dengan mengalahkan pemain yang di atas kertas jauh lebih tangguh, IM Jordi Fluvia Poyatos.
“Duta bercahaya terang lagi menghadapi lawan yang lebih tinggi gelar dan ratingnya, ia bermain sesuai dengan karakter dan gayanya yang sebisa mungkin tidak membiarkan posisi di atas papan menjadi kering atau sederhana tanpa percikan api taktis,” ungkap Kris, menjelaskan.
Baca Juga : Olimpiade Catur 2024: Tim Putra Harus Akui Filandia, Tim Putri Menyerah dari Estonia di Babak Keenam
Kris menambahkan, pada langkah ke-17, ketika lawannya mengajak tukar menteri, Duta menolak walau untuk itu kerangka bidaknya harus bertumpuk di lajur-c. Tiga langkah berselang lawannya terkejut ketika benteng Duta melakukan manuver ke petak f4 dan kemudian g4, tiba-tiba ada ancaman mat yang sulit ditangkis. Jordi pun menyerah dilangkah 22.
Di babak terakhir, tim putri Indonesia akan menghadapi Jepang dan tim putra akan bertemu Libya.****














