Home NasionalNusantara Tradisi Pacu Kuda di Bima Diupayakan Masuk Wisata Nasional

Tradisi Pacu Kuda di Bima Diupayakan Masuk Wisata Nasional

oleh Marpi
Pacu kuda di Bima sebagai tradisi daerah. (Ist).

Pacu kuda di Bima sebagai tradisi daerah. (Ist).

FAKTUALid – Olahraga pacu kuda sejak dulu sudah menjadi tradisi di beberapa daerah. Seperti di Sumatera Barat, Jakarta, Nusa Tenggara Barat, dan beberapa daerah lainnya. Di Jakarta, gelanggang pacu kuda yang ada di Pulomas, Jakarta Timur sudah dihilangkan sejak Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 2018.

Namun, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno melihat tradisi pacu kuda dapat dijadikan salah satu obyek wisata. Oleh karena itu Sandiaga akan mengupayakan tradisi pacuan kuda di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat menjadi salah satu tujuan destinasi wisata nasional.

“Karenanya, kita akan melihat dari segi revitalisasi fasilitas. Tadi ada beberapa permintaan agar ‘event’ ini bisa ditingkatkan ke skala nasional,” kata Sandiaga Uno dalam kunjungannya ke arena pacuan kuda di Kabupaten Bima, Minggu (13/6/2021).

Menurutnya, pacuan kuda yang sudah menjadi tradisi turun temurun sejak zaman penjajahan Jepang di Bima ini merupakan sebuah potensi daerah. Sudah sepantasnya pacuan kuda atau dalam arti bahasa Bima “pacoa jara” ini berkembang agar mampu menopang taraf perekonomian masyarakat.

Sandiaga Uno juga akan menyiapkan rencana peningkatan sumber daya manusianya. Lebih khusus kepada para penunggang pacuan kuda atau joki cilik yang berasal dari kalangan anak-anak usia sekolah dasar.

“Kita akan pastikan kegiatan ini juga sesuai dengan kelayakan dari segi perlindungan anak. Kita akan melakukannya dengan pendekatan yang inovatif, adaptif dengan keadaan terkini sekarang,” ujarnya.
Dalam kunjungannya, Sandiaga Uno datang ke arena pacuan kuda dengan mengajak Atta Halilintar. YouTuber dan pengusaha kondang itu ikut bersama istrinya, Aurel Hermansyah.

Ada juga ikut hadir Rigen Rakelna atau Rigen, putra daerah Bima yang kini dikenal sebagai seorang pelawak dan aktor Indonesia.

Arena pacuan kuda yang terletak di Desa Panda, Kecamatan Palibelo, Kabupaten Bima, ini menjadi salah satu lokasi yang ditetapkan pemerintah setempat sebagai ajang balap kuda.

Pacuan kuda ini rutin digelar masyarakat dalam dua kali sepekan. Seperti dilansir antaranews.com, untuk event tahunan, tradisi ini kerap dilaksanakan pada momentum hari jadi Bima di bulan Juli, perayaan hari Kemerdekaan Republik Indonesia dan juga hari ulang tahun NTB di akhir tahun. ***

 

Tinggalkan Komentar