Kesra
WWF 2024: Danau Batur Bangli Bali Kritis, KLKH Fokus Lakukan Penyelamatan

Danau Batur yang terletak di kaki Gunung Batur berada dalam kondisi kritis sehingga Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) kini fokus melakukan penyelamatan mengendalikan pencemaran air di danau di Kabupaten Bangli, Bali itu
FAKTUAL INDONESIA: Danau Batur yang termasuk obyek wisata indah di Kabupaten Bangli, Bali, dengan Gunung Baturnya serta sebagai penyebrangan menuju Desa Trunyan, kini kritis pencemaran air.
Tak pelak lagi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) kini fokus melakukan penyelamatan terhadap Danau Batur di Bangli, Bali yang masuk daftar 15 danau kriris di Tanah Air.
Berdasarkan hasil riset KLHK dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), di Indonesia total ada 2.000 danau yang masih memerlukan penilaian lebih lanjut untuk mengetahui kondisi seluruh danau tersebut.
Dalam upaya penyelamatan kondisi kritis danau Batur, KLHK berupaya mengendalikan pencemaran air di danau itu.
“Kenapa 15 danau ini menjadi prioritas? karena kondisinya kritis,” kata Direktur Rehabilitasi Perairan Darat dan Mangrove Kementerian LHK Inge Retnowati di sela World Water Forum Ke-10 (WWF) X di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Kamis (23/5/2024).
Dia, seperti dikutip dari antaranews.com, menekankan perlu peningkatan pengendalian pencemaran air baik yang ada di badan danau maupun di daerah tangkapan air yang ditetapkan dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 60 tahun 2020 tentang Penyelamatan Danau Prioritas Nasional.
Menurut dia, pencemaran air berpotensi terjadi akibat kegiatan pertanian atau perikanan di badan danau.
Begitu juga di daerah tangkapan yang menyuplai air danau, berpotensi terjadi pencemaran salah satunya akibat aktivitas rumah tangga.
Semua yang ada di daerah tangkapan, akan tumpah ke danau di antaranya bahan polutan hingga erosi sedimentasi yang mengakibatkan pendangkalan.
Begitu juga kegiatan di badan danau yang harus dikendalikan agar kualitas air tidak menurun yang kondisi tersebut terjadi salah satunya di Danau Batur.
Di sisi lain, danau merupakan salah satu sumber air penting baik untuk air minum, pertanian, perikanan, transportasi dan energi, yang dimanfaatkan tak hanya oleh manusia tapi juga ekosistem di dalamnya.
Untuk itu, lanjut dia, perlu perhatian terkait tata ruang yang komprehensif terkait batasan dan aktivitas di daerah badan danau dan daerah tangkapan.
“Tidak salah kegiatan di daerah tangkapan air, kegiatan perikanan di badan air, yang harus dijaga caranya yang ramah lingkungan, pengelolaan berkelanjutan. Bukan berarti tidak boleh memanfaatkan danau tapi ada cara terbaik,” ucapnya.
Pemerintah fokus melakukan penyelamatan terhadap 15 danau prioritas di Indonesia termasuk salah satunya Danau Batur di Kabupaten Bangli, Bali, sesuai Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 60 tahun 2020 tentang Penyelamatan Danau Prioritas Nasional.
Sementara itu, dalam World Water Forum Ke-10 usulan Indonesia untuk menetapkan Hari Danau telah disahkan menjadi salah satu bagian dalam Deklarasi Menteri yang dihasilkan dalam forum tersebut.
Meski begitu, Inge menekankan Hari Danau bukan semata selebrasi namun lebih menekankan dan mengingatkan terkait tata kelola danau.
“Penetapan hari danau itu untuk mengingatkan kita aksi yang lebih tepat, komitmen yang lebih baik, lebih konkrit,” katanya.
Keberadaan Keramba
Sementara itu Dirjen Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Dyah Murtiningsih menyebut adanya keramba atau tambak di Danau Batur menjadi salah satu faktor danau tersebut masuk 15 daftar penyelamatan danau prioritas.
Hal tersebut disampaikan Dyah usai sesi panel bertajuk Urgent Call to Save our Lakes World Water Forum (WWF) Ke-10 di Kabupaten Badung, Selasa.
“Salah satunya (danau prioritas) adalah Danau Batur yang ada di Bali, kami lihat antara menjaga lingkungan dengan faktor ekonomi pasti banyak bertentangan, di sekitar danau kan ada karamba ikan,” kata dia.
Diketahui, selain Danau Batur, ada 14 danau lagi yang menjadi prioritas nasional dalam penyelamatannya seperti Danau Toba, Danau Singkarak, Danau Kerinci, dan Danau Rawa Pening.
Menurutnya, keberadaan keramba di Danau Batur apabila dibiarkan masif akan mengganggu ekosistem danau, sebab makanan ikan atau udang budidaya dapat menjadi limbah.
Selain faktor keberadaan keramba, ketika terdapat pertanian di sekitar danau dan sedimennya rusak, maka akan luluh dan menyebabkan pendangkalan danau.
“Di hulu juga sama ketika hutan ditebang dan tidak dijaga akan menimbulkan erosi dan sendimentasi, faktor pariwisata juga kalau ada kapal dia menggunakan sumber bahan bakar akan menyebabkan limbah ke danau,” ujar Dyah.
Oleh karena itu Kementerian LHK mengajak semua berkomitmen menjaga danau dari kerusakan yang terjadi dan mengintegrasikan perencanaan implementasi.
Dalam panel World Water Forum itu Kementerian LHK dan delegasi nasional dan internasional berbagi pengalaman manajemen pengelolaan danau sebagai salah satu sumber air bagi kehidupan.
Dari lebih 2.000 danau di Indonesia, Dyah menyebut ada 15 yang diprioritaskan untuk dijaga dan dilestarikan, tantangan mereka adah dari sisi aktivitas manusia, karena di sekitar danau banyak aktivitas terutama ekonomi. ***














