Nasional
Banjir dan Longsor Sumbar: 85 Korban Belum Ditemukan, 88 Meninggal Terbanyak di Kabupaten Agam

Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda 16 kabupaten/kota di Sumatera Barat (Sumbar) mengakibatkan 88 orang meninggal dan 85 korban belum ditemukan. (Ist)
FAKTUAL INDONESIA: Sampai Sabtu (29/11/2025) pukul 12.00 WIB, masih tercatat ada 85 korban banjir dan tanah longsor yang belum ditemukan dalam bencana banjir dan tanah longsor yang melanda 16 kabupaten/kota di Sumatera Barat (Sumbar).
Bencana yang terjadi dalam beberapa hari terakhir menelan 88 orang meninggal dunia dengan korban terbanyak ada di Kabupaten Agam.
Sekretaris Daerah Provinsi Sumbar Arry Yuswandi menjelaskan, perkembangan data korban, kerusakan rumah, fasilitas umum dan infrastruktur lainnya hingga kebutuhan penanganan darurat akan terus diperbarui secara berkala melalui Posko Terpadu Penanganan Bencana Provinsi Sumbar.
Baca Juga : Belum Tetapkan Status Darurat Bencana Nasional untuk Sumatera, Prabowo Masih Lihat Situasi
Dari catatan yang dihimpun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar, total kerugian sementara diperkirakan mencapai Rp9,5 miliar. Angka itu bisa saja bertambah mengingat masih banyak daerah yang belum bisa diakses imbas jalan putus dan tertimbun material longsor.
“Data hingga Sabtu siang, terdapat 88 korban meninggal, dan 85 orang hilang,” ujar Arry saat dihubungi di Padang, Sabtu (29/11/2025), seperti dilansir instagram langgam.id and kaba.bukittinggi.
Arry menjelaskan dari 16 kabupaten/kota terdampak terdapat 10 daerah yang melaporkan nihil korban jiwa maupun orang hilang. Sementara, enam daerah lainnya melaporkan adanya korban jiwa atau orang hilang dimana korban terbanyak tercatat di Kabupaten Agam.
Baca Juga : Akibat Banjir Bandang, 2.500 Jiwa Warga Nagan Raya Aceh Mengungsi
Rinciannya, Kabupaten Agam 74 orang meninggal dan 78 masih hilang. Kota Padang Panjang tujuh korban jiwa, lima di Kota Padang, masing-masing satu korban meninggal dunia di Kabupaten Pasaman Barat dan Kota Solok.
Upaya pencarian tersebut melibatkan banyak pihak di antaranya Basarnas Padang, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Palang Merah Indonesia, Polri, TNI, relawan serta masyarakat setempat. Upaya penyisiran dilakukan di sejumlah kabupaten dan kota menggunakan berbagai alat bantu seperti perahu karet dan lain sebagainya.
“Data ini bersifat dinamis dan dapat berubah sesuai perkembangan di lapangan.,” sebut dia. ***














