Wisata
PPKM Terus Diperpanjang, Jerit Kepedihan Pelaku UMKM di Kawasan Wisata Candi Borobudur
*LAPORAN KHUSUS wartawati FAKTUAL INDONESIA dari Borobudur

Pelaku UMKM di kawasan wisata Candi Borobudur. (dok.faktual-indonesia)
FAKTUAL-INDONESIA: Pelaku UMKM (pedagang souvenir) di kawasan wisata Candi Borobudur hanya bisa bersabar ketika pemerintah kembali memperlakukan perpanjangan PPKM.
“Rakyat kecil seperti kami ini benar-benar susah sekali dengan PPKM yang sudah berjalan 3 bulan ini. Rakyat kecil seperti kami ini hanya bisa bersabar dan berdoa semoga corona segera berakhir dan pergi agar kami bisa menjalani lagi kehidupan normal,” kata seorang pedagang di kawasan wisata Candi Borobudur.
Ditambahkan ibu tadi, sejak corona datang dan kemudian pemerintah memberlakukan PPKM kegiatan mencari uang untuk bertahan hidup pun tak bisa dijalani. “Tempat wisata Candi Borobudur ditutup sejak diberlakukan PPKM. Kurang lebih tiga bulan lalu. Kami jadi tidak ada kegiatan karena tempat wisatanya ditutup untuk pengunjung,” terang ibu tersebut.
Menurutnya, pemerintah memang memberikan sejumlah bantuan dan memberikan sembako untuk meringankan kesulitan pada pelaku UMKM di Candi Borobudur. “Tapi tidak semua bantuan itu dapat diterima oleh orang kecil seperti kami ini. Orang kecil seperti kami ini hanya bisa menerima keadaan dan tak bisa berbuat apa-apa. Kami berharap kehidupan akan kembali normal, sehingga bisa menjalani untuk mengais rejeki dengan berjualan setiap hari. Jadi untuk memenuhi kebutuhan keseharian kami jadi nggak repot seperti sekarang ini,” jelasnya.
Dijelaskan ibu tadi, memang dalam beberapa hari ini kawasan wisata Candi Borobudur sudah mulai dibuka untuk pengunjung dengan menerapkan pembatasan pengunjung serta atura prokes yang ketat. “Semoga ini akan bertambah baik hingga kami dapat beraktifitas seperti biasa. Kami rakyat kecil ini benar-benar dihimpit masa sangat sulit karena pandemi,” sebut ibu tadi.
Kawasan wisata Candi Barobudur atau kawasan wisata lainnya di Tanah Air memang menjadi harapan bagi para pelaku UMKM (pedagang souvenir) untuk mengais rejeki. Mereka yang jumlahnya lumayan banyak itu tidak mengenal penjualan online dan menaruh hidup dengan kunjungan wisatawan ke Candi Borobudur.
Pemerintah juga harus memperhatikan keberadaan mereka, pedagang souvenir eceran yang ‘numpang hidup’ dengan berjualan kepada para wisatawan yang berkunjung. Mungkin tidak banyak yang merea harapkan, hanya perlindungan untuk kelangsungan pprofesi mereka agar tidak tergusur oleh tehnologi dengan berjualan melalui online. ****














