Internasional
Putra Mahkota Iran Desak Amerika Lakukan Intervensi Militer Jatuhkan Rezim Teheran

Reza Pahlavi, intervensi militer Amerika Serikat di Iran adalah jalan menyelamatkan nyawa dari kekejaman rezim Teheran
FAKTUAL INDONESIA: Putra mahkota Iran yang hidup dalam pengasingan, Reza Pahlavi, mengeluarkan pernyataan mengejutkan di sela-sela Konferensi Keamanan Muenchen. Ia mendesak pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk segera mengambil tindakan tegas—termasuk intervensi militer—guna mempercepat jatuhnya rezim ulama di Teheran.
Menurut Pahlavi, berlama-lama di meja perundingan nuklir hanya akan membuang waktu. Ia meyakini bahwa serangan militer Amerika Serikat justru bisa meminimalisir jatuhnya korban jiwa dalam jangka panjang dengan cara meruntuhkan pemerintahan yang dianggapnya sedang berada di ambang kehancuran.
Mendorong Kejatuhan Rezim
Pahlavi, yang telah meninggalkan Iran sejak revolusi 1879, melihat adanya momentum besar setelah gelombang protes berdarah melanda Teheran dan berbagai kota lainnya baru-baru ini.
“Ini hanya masalah waktu. Kami berharap serangan ini (militer AS) akan mempercepat proses sehingga rakyat bisa kembali ke jalanan dan menuntaskan kejatuhan rezim ini sepenuhnya,” ujar Pahlavi dalam wawancara khusus dengan Reuters.
Baginya, janji Presiden Trump untuk “mendukung rakyat Iran” harus diwujudkan dalam aksi nyata di lapangan, bukan sekadar diplomasi yang tak berujung. “Intervensi adalah cara untuk menyelamatkan nyawa,” tambahnya.
Skeptisisme dan Realitas di Lapangan
Meski Pahlavi gencar menyuarakan perubahan, tantangan besar mengadang di depan mata:
* Oposisi yang Terpecah: Kelompok oposisi Iran saat ini terfragmentasi dalam berbagai faksi ideologis, sehingga sulit membentuk satu kekuatan solid di dalam negeri.
* Keraguan Donald Trump: Dalam sebuah wawancara bulan lalu, Trump sendiri sempat melontarkan nada skeptis mengenai seberapa besar sebenarnya dukungan nyata yang dimiliki Pahlavi di dalam wilayah Iran saat ini.
* Jalur Diplomasi Oman: Hingga saat ini, diplomat AS dan Iran masih terpantau melakukan pembicaraan di Oman, menunjukkan bahwa jalur negosiasi belum sepenuhnya tertutup.
Siaga Militer di Washington
Di sisi lain, genderang perang tampaknya mulai disiapkan. Saat berbicara di hadapan pasukan AS di North Carolina, Jumat lalu, Presiden Trump mengisyaratkan bahwa rasa “gentar” mungkin diperlukan untuk menyelesaikan kebuntuan dengan Teheran.
Laporan internal dari dua pejabat AS menyebutkan bahwa militer Amerika kini tengah menyiapkan skenario operasi berkelanjutan selama berminggu-minggu jika sewaktu-waktu perintah penyerangan turun dari Gedung Putih.
Pertanyaannya kini, apakah Washington akan mengabulkan “undangan” Pahlavi untuk intervensi fisik, atau tetap bertahan di meja perundingan yang penuh duri? ***














