Ekonomi
Pasar Keuangan Senin 20 April 2026 Kontras: Rupiah Lepas dari Rekor Terendah, IHSG Malah Tergelincir

Rupiah bisa bernafas agak lega setelah lepas dari titik terendah pada perdagangan valuta asing Senin (20/4/2026) sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) harus tergelincir di penutupan bursa saham. (Ist)
FAKTUAL INDONESIA: Pasar keuangan Indonesia mengawali pekan ini dengan dinamika yang cukup kontras. Pada penutupan perdagangan Senin (20/4/2026), rupiah menguat untuk lepas dari rekor terendah. Namun, keberuntungan serupa tidak dialami oleh Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) yang melemah sehingga tergelincir ke zona merah.
Rupiah Comeback Istimewa
Setelah sempat menyentuh level psikologis yang mengkhawatirkan pada akhir pekan lalu, nilai tukar Rupiah akhirnya berhasil melakukan aksi rebound. Di pasar spot, rupiah ditutup menguat 21 poin atau 0,12% ke level Rp17.168 per dolar AS.
Nilai tukar rupiah di Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak menguat ke level Rp17.176 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.189 per dolar AS.
Namun penguatan rupiah di penutupan perdagangan mata uang asing lebih rendah dibandingkan saat pembukaan ketika Mata Uang Garuda dibuka menguat 34 poin atau 0,20 persen menjadi Rp17.155 dari penutupan sebelumnya di level Rp17.189 per dolar AS.
Namun penguatan ini tergolong istimewa karena rupiah menjadi salah satu dari sedikit mata uang Asia yang mampu menghijau di tengah kokohnya indeks dolar AS.
Proyeksi Rupiah Lemah
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa menuturkan, penguatan rupiah dipengaruhi faktor stabilisasi jangka pendek.
“Penguatan rupiah ke 17.168 terjadi di tengah kombinasi sentimen domestik dan global yang masih cenderung memberikan tekanan, namun diimbangi oleh faktor stabilisasi jangka pendek,” ujar Amru seperti dilansir liputan6.com.
Melihat sentimen dalam negeri, pelaku pasar mencermati hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang diperkirakan tetap berfokus pada stabilitas, dengan kecenderungan mempertahankan suku bunga acuan serta mengoptimalkan intervensi di pasar valas.
Dia berpendapat komitmen BI dalam menjaga nilai tukar, didukung oleh cadangan devisa yang cukup kuat, turut menjaga kepercayaan investor. Selain itu, lanjutnya, aksi ambil untung terhadap dolar AS oleh pelaku pasar domestik juga memberikan dorongan penguatan secara teknikal.
Adapun sisi eksternal, tekanan disebut masih datang dari penguatan dolar AS yang didorong oleh meningkatnya permintaan aset safe-haven di tengah ketegangan geopolitik.
“Di samping itu, ekspektasi kebijakan Federal Reserve yang cenderung mempertahankan suku bunga tinggi, serta kenaikan harga minyak dunia, turut menjadi faktor yang membebani rupiah melalui peningkatan risiko inflasi impor,” ungkap Amru.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai penguatan rupiah tidak lepas dari kebijakan pemerintah terkait penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi.
“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS menyusul langkah pemerintah menaikkan harga BBM nonsubsidi dianggap dapat mengurangi beban APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara),” ujarnya.
Meski mendapat sentimen positif dari dalam negeri, pergerakan rupiah masih dibayangi ketidakpastian global, terutama terkait situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Analis Mata Uang Ibrahim Assuaibi seperti dilaporkan Kontan memproyeksikan, pergerakan rupiah besok salah satunya dipengaruhi sentimen geopolitik di Timur Tengah.
Ibrahim memperkirakan, rupiah pada Selasa (21/4/2026) bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah dalam rentang Rp 17.160 – Rp 17.200 per dolar AS.
IHSG Tak Berdaya
Berbanding terbalik dengan nilai tukar, bursa saham domestik justru lesu. IHSG ditutup melemah 39,89 poin atau 0,52% ke level 7.594,11. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 3,02 poin atau 0,40 persen ke posisi 755,85.
Padahal pada pembukaan perdagangan saham IHSG dibuka menguat 29,40 poin atau 0,39 persen ke posisi 7.663,40. Kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 1,83 poin atau 0,24 persen ke posisi 760,70.
Namun setelah sempat mencicipi zona hijau di sesi pagi, IHSG akhirnya tergelincir di sesi kedua.
Menurut lansiran priskop, berdasarkan data RTI Business, frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 2.461.693 kali dengan volume transaksi mencapai 40,837 miliar saham dan nilai transaksi sebesar Rp17,212 triliun. Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp13.559,309 triliun. Adapun pergerakan saham tercatat 247 saham menguat, 424 saham melemah, dan 148 saham stagnan.
Indeks utama kompak bergerak di zona merah. IDX30 turun 0,49%. Kemudian LQ46 turun 0,40& dan Sri-kehati turun 0,37%. Sementara JII dan ISSI masing-masing terkoreksi 0,56% dan 0,69%.
Seluruh sektor utama kompak berakhir di zona merah. Pelemahan terdalam dipimpin oleh sektor properti yang merosot 2,04%. Disusul sektor energi turun 1,34%, teknologi melemah 1,29%, barang konsumsi primer (cyclical) turun 1,19%, keuangan terkoreksi 1,15%, dan barang konsumsi non-primer (non-cyclical) turun 1,06%.
Pelemahan juga terjadi pada sektor transportasi sebesar 0,84%, kesehatan turun 0,80%, industri melemah 0,64%, bahan baku (basic-ind) turun 0,61%, serta infrastruktur yang terkoreksi tipis 0,22%.
Proyeksi IHSG Rawan
Aksi ambil untung (profit taking) investor menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia menjadi pemicu utama. Selain itu, memanasnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran turut membayangi sentimen pasar, membuat investor cenderung bermain aman. Seluruh sektor saham terkoreksi, dengan sektor properti menjadi yang paling terpuruk dengan penurunan mencapai 2,04%.
Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan, tekanan terhadap IHSG dipicu oleh kembali meningkatnya ketegangan geopolitik, khususnya terkait penutupan Selat Hormuz. Ia menambahkan, pelemahan IHSG juga dipengaruhi oleh koreksi pada saham-saham konglomerasi yang memiliki bobot besar terhadap indeks.
Untuk perdagangan Selasa (21/4/2026), Herditya memperkirakan IHSG masih berpotensi melanjutkan pelemahan.
“Pergerakan IHSG masih rawan koreksi dengan support di 7.530 dan resistance di 7.617,” jelasnya.
Menurutnya, pelaku pasar saat ini juga cenderung menahan diri sembari menantikan keputusan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) pada pekan ini.
Di tengah kondisi tersebut, ia merekomendasikan sejumlah saham yang dapat dicermati, yakni TAPG di kisaran Rp1.945–Rp2.050, VKTR Rp1.005–Rp1.025, serta MBMA di rentang Rp795–Rp865. ***
Data Pasar Hari Ini
Berikut adalah rangkuman performa pasar Senin, 20 April 2026:
| Indikator | Posisi Penutupan | Perubahan |
| Rupiah (Spot) | Rp17.168 / US$ | +0,12% (Menguat) |
| IHSG | 7.594,11 | -0,52% (Melemah) |
| Nilai Transaksi | Rp17,212 Triliun | – |
| Sektor Terlemah | Properti | -2,04% |














