Connect with us

Ekonomi

Akhir Pekan yang Lesu, Rupiah dan IHSG BEI Sama-sama Ditutup Melemah, Kenapa?

Gungdewan

Diterbitkan

pada

FAKTUAL INDONESIA: Akhir pekan yang lesu bagi rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI).

Pada perdagangan valuta dan saham terakhir pekan ini, Jumat (19/12/2025), baik rupiah maupun IHSG sama-sama ditutup melemah.

Padahal nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan IHSG sempat memberikan sinyal positif ketika dibuka penguat namun kemudian bergerak negatif  sampai perdagangan ditutup sore harinya.

Pelaku Pasar Skeptis

Advertisement

Rupiah sebenarnya menjanjikan ketika pada pembukaan perdagangan dibuka  menguat 13 poin atau 0,08 persen menjadi Rp16.710 dari sebelumnya Rp16.723 per dolar AS. Namun pada penutupan perdagangan rupiah bergerak melemah 27 poin atau 0,16 persen menjadi Rp16.750 per dolar AS.

Pelemahan nilai tukar rupiah di pasar spot itu mendekati level terlemah dalam satu bulan mendekati level pada penutupan 18 November 2025.

Dalam pantauan media online seperti dilansir beritasatu.com, nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan seiring meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar global.

Pelemahan rupiah terjadi setelah AS merilis data indeks harga konsumen (consumer price index/CPI) inti November, yang mencatat laju terendah sejak awal 2021. Data tersebut menunjukkan tekanan inflasi mulai mereda tetapi belum mengubah ekspektasi pasar.

Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menilai pelaku pasar masih bersikap hati-hati meski inflasi AS menunjukkan perlambatan. Menurutnya, data ketenagakerjaan yang relatif solid membuat pasar belum sepenuhnya yakin terhadap peluang penurunan suku bunga acuan The Federal Reserve.

Advertisement

“Seiring meredanya inflasi, ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed seharusnya meningkat. Namun, pelaku pasar menanggapi data tersebut dengan skeptis karena kondisi pasar tenaga kerja masih cukup kuat, sebagaimana tecermin dalam laporan Klaim pengangguran awal terbaru,” ujar Ibrahim dalam keterangan tertulis, Jumat (19/12/2025).

Selain CPI, perhatian pasar juga tertuju pada rilis data inflasi acuan The Fed, yakni indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi inti (core PCE), serta indeks sentimen konsumen Universitas Michigan yang akan menjadi rilis terakhir bulan ini.

Dari sisi geopolitik, rupiah turut tertekan oleh perkembangan sikap Presiden AS Donald Trump terhadap konflik Rusia-Ukraina. Trump menyatakan optimisme bahwa pembicaraan untuk mengakhiri perang di Ukraina mendekati titik terang, menjelang pertemuan antara pejabat AS dan Rusia akhir pekan ini.

Ibrahim menambahkan, pasar juga mencermati potensi kebijakan lanjutan AS terhadap Rusia, khususnya yang berkaitan dengan sektor energi.

“Para analis menilai, langkah tambahan yang menargetkan minyak Rusia berpotensi menimbulkan risiko gangguan pasokan global yang lebih besar dibandingkan blokade kapal tanker Venezuela,” ujarnya.

Advertisement

Sentimen negatif lainnya datang dari kawasan Karibia, menyusul meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Venezuela. Ibrahim menilai belum adanya kejelasan terkait implementasi rencana pemblokadean kapal tanker Venezuela menambah ketidakpastian pasar.

Kombinasi sentimen ekonomi global dan ketegangan geopolitik tersebut membuat pergerakan rupiah masih rentan terhadap tekanan dalam jangka pendek.

Potensi Lanjutkan Koreksi

Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) juga menjanjikan ketika dibuka menguat 39,05 poin atau 0,45 persen ke posisi 8.657,24, Jumat pagi. Kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turut dibuka menguat 4,94 poin atau sekitar 0,58 persen ke posisi 856,66.

Namun pada penutupan perdagangan sore harinya, IHSG ditutup melemah 8,64 poin atau 0,10 persen ke posisi 8.609,55. Tetapi indeks 45 saham unggulan atau LQ45 justru menguat 1,81 poin atau 0,21 persen ke level 853,53.

Advertisement

Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim mengatakan, tekanan pada indeks terutama dipicu koreksi di sektor transportasi, sementara sektor noncyclical membukukan kenaikan terbesar pada perdagangan hari ini. Selain itu, pelemahan rupiah di pasar spot ke level Rp16.750 per dolar AS turut membebani pergerakan pasar saham, seiring mayoritas mata uang Asia yang cenderung melemah.

“Sehingga diperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan koreksi menguji level 8.500-8.550,” ujar Ratna dalam keterangannya di Jakarta seperti dilansir suarasurabaya.net, Jumat.

Dari sisi data domestik, kinerja penjualan mobil masih menunjukkan pelemahan. Penjualan mobil domestik pada November 2025 tercatat turun 0,8 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi 74.252 unit. Meski demikian, penurunan ini melambat dibandingkan Oktober 2025 yang turun 4,4 persen yoy.

Secara kumulatif, sepanjang Januari-November 2025, total penjualan mobil mencapai sekitar 710 ribu unit, turun sekitar 10 persen yoy dibandingkan periode yang sama tahun 2024.

Pemerintah juga mengindikasikan tidak akan melanjutkan insentif kendaraan listrik pada 2026 guna mendorong produsen otomotif membangun fasilitas produksi di dalam negeri.

Advertisement

Dari eksternal, pelaku pasar masih mencermati keputusan Bank of Japan (BOJ) yang pada 19 Desember menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 0,75 persen, level tertinggi dalam 30 tahun terakhir. Kenaikan ini merupakan yang kedua pada 2025 setelah langkah serupa pada Januari.

BOJ membuka peluang kenaikan lanjutan jika kondisi ekonomi membaik dan inflasi tetap tinggi, meski memproyeksikan inflasi inti melambat di bawah target 2 persen pada semester I 2026 sebelum kembali meningkat stabil.

Yen Jepang justru melemah karena ketidakpastian waktu dan besaran kenaikan berikutnya serta suku bunga Jepang yang masih relatif rendah dibandingkan Amerika Serikat (AS) dan negara maju lain.

Pada perdagangan hari ini, saham-saham dengan penguatan terbesar antara lain BAIK, SUPA, BABY, ADMG, dan ASJT. Sementara, saham yang mencatatkan pelemahan terdalam meliputi PSDN, JAYA, PJHB, INET, dan KETR.

Dari sisi aktivitas perdagangan, frekuensi transaksi tercatat sebanyak 2.300.152 kali dengan volume mencapai 40,81 miliar saham dan nilai transaksi sebesar Rp47,06 triliun.

Advertisement

Adapun pergerakan saham didominasi pelemahan, dengan 197 saham menguat, 473 saham melemah, dan 133 saham stagnan. ***

 

Lanjutkan Membaca
Advertisement