Home Opini MARKIS KIDO: Pahlawan yang Tersia-siakan

MARKIS KIDO: Pahlawan yang Tersia-siakan

oleh Marpi

Oleh Markon Piliang

FAKTUALid – MESKI 13 tahun sudah berlalu, masih segar dalam ingatan kita betapa seorang Maskis Kido melelehkan air mata saat bendera Merah Putih naik perlahan ke tiang teringgi Olimpiade Beijing 2008. Bersama pasangannya Hendra Setiawan, keduanya tengadah mengangkat wajah. Dengan haru dan hati bergetar mengikuti bait-bait lagu kebangsaan Indonesia Raya hingga ke puncak tertinggi sampai lagu itu berhenti.

Ada tangis di sana. Ya, tangis haru sang juara. Meraih medali emas Olimpiade adalah cita-cita terakhir setiap atlet dari cabang olahraga apa saja, tidak terkecuali bulutangkis. Dan inilah yang dicapai Markis Kido sebagai prestasi tertingginya sebagai atlet bulutangkis.

Di Tanah Air, ketika itu bangsa Indonesia bersuka cita. Sebagai anak bangsa, siapa pun kita ikut bangga karenanya. Putra terbaik bangsa sudah mengangkat Merah Putih ke tiang tertinggi sebuah kompetisi di negeri orang. Hebat.

Ia meraih itu dengan tidak mudah, dengan keringat yang membasahi seluruh tubuhnya. Sampai menyelesaikan tugasnya di partai final dia dan pasangannya Hendra Setiawan sudah berdarah-darah dalam istilah olahraga. Tak ada kata lelah untuk meraih kemenangan.

Kepulangannya ke Tanah Air pun disambut dengan gegap gempita. Bak seorang pahlawan yang menang dari medan perang. Ia dielu-elukan. Diarak keliling kota, dan diberi hadiah, bonus dan berbagai penghargaan.

Sampai-sampai Presiden Susilo Bambang Yudho ketika itu memberikan penghargaan berupa Parama Kridha Utama Kelas 1 tahun 2008. Sebuah bintang penghargaan yang dikemudian hari kelak akan berguna bagi Markis Kido sebagai pahlawan di bidang olahraga.

Tapi apa daya, Markis Kido yang meninggal dunia Senin (14/6/2021) malam karena serangan jantung saat bermain bulutangkis, tidak bisa dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata. Harapan seluruh keluarga agar Kido dimakamkan di TMP Kalibata jadi sirna. Gelar pahlawan bangsa yang dielu-elukan ketika ia dan Hendra meraih medali emas Olimpaide Beijing 2008 seakan tidak ada artinya.

Sebagai peraih medali emas Olimpiade takkan ada yang membantah kalau Kido – begitu juga peraih medali emas olimpiade lainnya – adalah pahlawan bangsa. Dengan mencurahkan segenap tenaga dan pikiran untuk meraih prestasi tertinggi di dunia olahraga termasuk meninggalkan keluarga ketika dikarantina dalam Pelatnas, Kido hanya butuh seonggok tanah di TMP Kalibata. Ukurannya takkan lebih dari 1 X 2 meter.

Miriskah kita? Ya, pasalnya Kido sudah diberi penghargaan sebagai PAHLAWAN oleh Presiden. Seorang pahlawan yang sudah mengharumkan nama bangsa di arena olahraga multi-event tertinggi di dunia. Dimana tidak semua atlet dapat melakukannya kecuali saat ini baru dari bulutangkis.

Terlepas dari bintang apa pun namanya, apakah itu bintang kejora, bintang tujuh, bintang mahaputra, bintang sakti, atau penghargaan untuk anggota TNI/Polri yang gugur dalam pertempuran, Markis Kido layak mendapat tempat di TMP Kalibata.

Markis Kido dalam pelukan Hendra Setiawan (Ist)

Markis Kido dalam pelukan Hendra Setiawan (Ist)

TNI/Polri yang gugur saat bertugas di Papua misalnya, terlepas dari apa pun pangkatnya toh mendapat tempat di TMP Kalibata. Pertanyaannya apakah mereka-mereka yang gugur itu sudah mendapat bintang dari presiden? Belum tentu. Kecuali kalau diberikan saat mereka telah meninggal.

Lantas apa bedanya dengan Markis Kido? Tidakkah Presiden Joko Widodo punya hati nurani untuk menaikkan bintang Markis Kido dari penghargaan Parama Kridha Utama Kelas 1 dari Presiden SBY ke salah satu deretan bintang yang menyaratkan pahlawan itu bisa dimakamkan di TMP Kalibata? Seperti kenaikan pangkat otomatis bagi seorang prajurit yang menemukan kotak hitam pesawat jatuh misalnya.

Melihat kenyataan ini, sebagai penulis saya baru disadarkan. Bahwa bangsa Indonesia belumlah bangsa yang besar. Sebab meminjam istilah Bung Karno: Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para PAHLAWANNYA.

Selamat Jalan Markis Kido, rakyat Indonesia tetap mencintaimu meski tempatmu sebagai paklawan hanya di TPU Kebon Nanas. Semoga kau pergi dengan husnul khotimah, diterima di sisiNya. Aamiin. ***

You may also like

Tinggalkan Komentar