News
🟦 Apa Persamaan dan Perbedaan Program Kedua Calon?
Membandingkan Program Isradi Zainal dan Verdianto Iskandar Bitticaca
untuk PB GABSI 2026–2030

Kalau seluruh program kedua calon kita susun menjadi satu gambar besar, sebenarnya kita bisa mendapatkan sebuah ekosistem bridge Indonesia yang sangat menarik. (Foto: Istimewa)
Oleh: Bert Toar Polii
FAKTUAL INDONESIA: Setelah pada tulisan pertama kita membahas “Dua Visi, Satu Masa Depan Bridge Indonesia”, sekarang kita masuk lebih jauh.
Dua calon Ketua Umum PB GABSI periode 2026–2030 telah menyampaikan visi, misi dan program masing-masing.
Mereka adalah:
Dr. Ir. Isradi Zainal
dan
Verdianto Iskandar Bitticaca
Keduanya akan berkompetisi dalam Kongres XXVII PB GABSI di Mamuju, Sulawesi Barat, 20–21 September 2026.
Kalau membaca program keduanya secara keseluruhan, ada sesuatu yang menarik.
Ternyata persamaannya cukup banyak.
Keduanya sama-sama melihat perlunya:
organisasi yang lebih modern;
digitalisasi;
pembinaan atlet;
regenerasi pemain;
kompetisi nasional yang lebih kuat;
peningkatan prestasi internasional;
pemerataan pembinaan;
dan pembangunan bridge Indonesia secara berkelanjutan.
Perbedaannya terutama terletak pada prioritas, titik tekan dan cara mencapai tujuan tersebut.
Mari kita lihat satu per satu.
- 💻 DIGITALISASI ORGANISASI
🟦 Isradi Zainal
Isradi menempatkan organisasi profesional, modern dan berbasis digital sebagai bagian dari visi utamanya.
Digitalisasi dipandang sebagai salah satu instrumen untuk meningkatkan tata kelola dan mendukung pembinaan atlet.
Ia juga menghubungkan teknologi dengan sport science, sehingga data dan teknologi dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas latihan, evaluasi dan prestasi.
🟩 Verdianto Iskandar Bitticaca
Verdianto secara lebih spesifik menawarkan modernisasi sekretariat PB GABSI, termasuk:
digitalisasi administrasi;
database nasional atlet;
database anggota;
sistem informasi organisasi.
🔎 Persamaannya
Keduanya sama-sama menyadari bahwa cara kerja organisasi bridge tidak bisa lagi sepenuhnya menggunakan sistem lama.
🔎 Perbedaannya
Isradi lebih menekankan transformasi organisasi berbasis digital dan pemanfaatan teknologi untuk pembinaan, sedangkan Verdianto lebih konkret pada digitalisasi administrasi dan pembangunan database nasional.
Menurut saya, keduanya sebenarnya bisa menjadi satu kesatuan.
Karena database nasional yang baik nantinya dapat digunakan untuk:
Pemain → Klub → Pengprov → Pelatih → Turnamen → Hasil → Master Point → Ranking → Prestasi
Inilah yang saya bayangkan sebagai Digital GABSI Ecosystem.
- 🏆 KOMPETISI NASIONAL
Di sini terdapat persamaan yang sangat jelas.
🟦 Isradi
Isradi menawarkan pengembangan kompetisi yang berkelanjutan, antara lain melalui:
Liga Bridge Perguruan Tinggi
Liga Bridge Pelajar
yang direncanakan berjalan secara berkelanjutan mulai 2027–2030.
🟩 Verdianto
Verdianto menawarkan penguatan kompetisi nasional, termasuk gagasan untuk:
mengaktifkan kembali Liga Bridge Nasional;
menyusun kalender turnamen yang lebih teratur;
membangun sinergi dengan KONI.
🔎 Persamaannya
Keduanya sepakat bahwa:
Atlet tidak mungkin berkembang tanpa kompetisi yang cukup.
🔎 Perbedaannya
Isradi memberikan perhatian khusus pada kompetisi pelajar dan mahasiswa sebagai bagian dari regenerasi.
Verdianto lebih menekankan Liga Bridge Nasional dan penguatan struktur kompetisi nasional.
Menurut saya, keduanya justru dapat dibuat menjadi satu sistem:
Liga Pelajar → Liga Mahasiswa → Liga Klub/Nasional → Seleksi Nasional → Tim Nasional.
Dengan demikian, pemain muda mempunyai jalur yang jelas untuk naik ke tingkat prestasi yang lebih tinggi.
- 👦 PEMBINAAN DAN REGENERASI
Ini merupakan salah satu persoalan paling penting bagi bridge Indonesia.
🟦 Isradi
Program Isradi cukup spesifik dalam hal pemerataan.
Ia menargetkan program bridge junior di 38 provinsi, dengan kelompok usia mulai U-12 hingga U-30.
Ini berarti pembinaan tidak hanya diarahkan kepada pemain yang sudah berada di pusat-pusat bridge.
🟩 Verdianto
Verdianto juga menempatkan regenerasi atlet sebagai salah satu prioritas.
Programnya mencakup pemasyarakatan bridge melalui:
sekolah;
kampus;
komunitas daerah;
serta peningkatan pelatih daerah dan penyusunan materi pembelajaran nasional.
🔎 Persamaannya
Keduanya menyadari satu hal:
Kalau kita tidak merekrut pemain muda sekarang, kita akan kekurangan pemain elite beberapa tahun mendatang.
🔎 Perbedaannya
Isradi lebih jelas memberikan target pemerataan wilayah dan kelompok usia.
Verdianto lebih menonjolkan jalur pemasyarakatan bridge melalui sekolah, kampus dan komunitas, termasuk penguatan pelatih daerah.
- 🌏 PRESTASI INTERNASIONAL
Tujuan akhirnya tentu bukan hanya membuat bridge Indonesia ramai.
Kita ingin Indonesia kembali menjadi kekuatan bridge dunia.
🟦 Isradi
Program Isradi menekankan peningkatan kualitas dan kuantitas keikutsertaan atlet Indonesia dalam berbagai kejuaraan nasional, regional dan internasional.
Ia juga memasukkan sport science dalam pembinaan.
🟩 Verdianto
Verdianto menawarkan program peningkatan prestasi internasional dengan:
seleksi nasional berbasis tim;
persiapan menuju SEA Games;
Asian Games;
Kejuaraan Dunia;
peningkatan daya saing atlet Indonesia.
🔎 Persamaannya
Keduanya ingin prestasi internasional Indonesia meningkat.
🔎 Perbedaannya
Isradi lebih menonjolkan pembangunan sistem pembinaan dan sport science.
Verdianto lebih eksplisit menyebut jalur kompetisi internasional dan seleksi tim nasional sebagai bagian dari program.
- 🃏 MASTER POINT DAN SISTEM PRESTASI
Di bidang ini terdapat perbedaan yang cukup jelas.
🟩 Verdianto
Verdianto menawarkan Reformasi Sistem Master Point Nasional.
Gagasannya meliputi:
pemeringkatan berbasis prestasi;
integrasi hasil turnamen resmi;
database prestasi pemain.
Ini merupakan program yang relatif spesifik.
🟦 Isradi
Dalam materi program yang dipublikasikan, Isradi lebih banyak menekankan digitalisasi, sport science, pembinaan dan pengembangan kompetisi.
💡 Mengapa Master Point penting?
Master Point sebenarnya bisa menjadi bagian penting dari sistem nasional jika datanya akurat.
Bayangkan jika seorang pemain mempunyai satu profil nasional yang mencatat:
identitas → klub → provinsi → turnamen → hasil → Master Point → ranking → prestasi → perkembangan dari tahun ke tahun.
Maka PB GABSI akan mempunyai data nyata untuk mengambil keputusan.
- 💰 SPONSOR DAN PENDANAAN
Ini salah satu bidang yang menjadi perhatian khusus dalam program Isradi.
🟦 Isradi
Ia menawarkan konsep:
Sponsorship Corporate for Bridge
dan
Bapak Angkat Bridge Indonesia.
Target yang disebutkan adalah sedikitnya lima perusahaan nasional setiap tahun menjadi mitra pendukung pembinaan bridge Indonesia.
🟩 Verdianto
Program yang dipublikasikan Verdianto lebih banyak menekankan penguatan sistem organisasi, kompetisi dan prestasi, sementara skema sponsorship korporasi tidak menjadi program utama yang ditonjolkan dalam lima prioritasnya.
🔎 Mengapa ini penting?
Semua program membutuhkan uang.
Tidak mungkin kita mengatakan:
“Mari membina 38 provinsi.”
tetapi tidak mempunyai anggaran.
Tidak mungkin mengatakan:
“Mari mengirim atlet ke Kejuaraan Dunia.”
tanpa biaya.
Tidak mungkin membangun:
“Database nasional.”
tanpa investasi teknologi.
Karena itu, strategi pendanaan harus menjadi bagian integral dari program PB GABSI 2026–2030.
- 🏫 AKADEMI BRIDGE INDONESIA VS PEMASYARAKATAN BRIDGE
Ini juga memperlihatkan perbedaan pendekatan.
🟦 Isradi
Menawarkan gagasan jangka panjang:
Akademi Bridge Indonesia 2030
sebagai pusat pendidikan, pembinaan, riset dan pengembangan atlet bridge nasional.
🟩 Verdianto
Lebih menekankan pemasyarakatan bridge, terutama melalui:
sekolah;
kampus;
komunitas daerah;
peningkatan pelatih;
materi pembelajaran nasional.
🔎 Kalau digabungkan?
Menurut saya, ini sebenarnya bisa menjadi rantai yang sangat kuat.
Bridge masuk sekolah
⬇️
Liga Pelajar
⬇️
Bridge masuk kampus
⬇️
Liga Mahasiswa
⬇️
Klub
⬇️
Liga Nasional
⬇️
Akademi Bridge Indonesia
⬇️
Tim Nasional
⬇️
Prestasi Dunia
Inilah ekosistem yang menurut saya sangat ideal.
- 🏟️ PON 2028
Isradi secara eksplisit memasukkan mempertahankan eksistensi bridge di PON 2028 dalam programnya.
Ini merupakan isu strategis karena PON menjadi salah satu platform penting olahraga nasional.
Bagi bridge, keberadaan di PON bukan hanya soal medali.
PON juga berarti:
pengakuan olahraga;
pembinaan daerah;
kesempatan atlet muda;
dukungan pemerintah daerah;
dan peluang mendapatkan sponsor.
Karena itu, keberlanjutan bridge di PON 2028 merupakan persoalan yang harus menjadi perhatian siapa pun yang memimpin PB GABSI.
⚖️ JADI, DI MANA PERBEDAAN PALING BESAR?
Kalau saya sederhanakan, perbedaannya kira-kira seperti ini:
Bidang Isradi Zainal Verdianto Bitticaca
Organisasi Profesional & modern Sistem & modernisasi
Digitalisasi Transformasi digital + sport science Administrasi + database nasional
Kompetisi Liga Pelajar & Perguruan Tinggi Liga Bridge Nasional
Junior 38 provinsi, U-12–U-30 Sekolah, kampus & komunitas
Prestasi Pembinaan + sport science Seleksi tim + target event internasional
Master Point Tidak menjadi program utama yang ditonjolkan Reformasi Master Point Nasional
Pendanaan Sponsor korporasi & Bapak Angkat Penguatan sistem dan kompetisi
Akademi Akademi Bridge Indonesia 2030 Pemasyarakatan & pengembangan pelatih
PON Mempertahankan bridge di PON 2028 Prestasi nasional melalui kompetisi
Filosofi Modern – Profesional – Berkelanjutan Sistem – Prestasi – Persatuan
Tabel ini bukan untuk menentukan siapa yang lebih baik.
Justru sebaliknya.
Tabel ini menunjukkan bahwa kedua program mempunyai banyak bagian yang dapat saling melengkapi.
🤝 APA YANG SEBENARNYA DIBUTUHKAN BRIDGE INDONESIA?
Menurut saya, pertanyaan paling menarik bukan:
“Program siapa yang lebih bagus?”
Tetapi:
“Program mana yang paling realistis untuk dilaksanakan dan bagaimana mengukur keberhasilannya?”
Misalnya, jika targetnya adalah pembinaan junior di 38 provinsi:
Berapa klub junior yang harus dibentuk?
Jika targetnya Liga Nasional:
Berapa seri dalam satu tahun?
Jika targetnya database nasional:
Kapan mulai dan kapan selesai?
Jika targetnya prestasi internasional:
Berapa medali yang menjadi target?
Jika targetnya sponsor:
Berapa dana yang harus dihimpun?
Jika targetnya regenerasi:
Berapa pemain U-15, U-20 dan U-25 yang harus muncul setiap tahun?
📊 PROGRAM YANG BAGUS HARUS MEMPUNYAI UKURAN KEBERHASILAN
Ini menurut saya akan menjadi salah satu pekerjaan rumah terbesar PB GABSI 2026–2030.
Jangan hanya membuat:
PROGRAM KERJA
tetapi buat:
PROGRAM + TARGET + ANGGARAN + PENANGGUNG JAWAB + WAKTU + INDIKATOR KEBERHASILAN.
Misalnya:
Target Junior
2027: 10 provinsi aktif
2028: 20 provinsi
2029: 30 provinsi
2030: 38 provinsi
Target Kompetisi
Misalnya:
4–6 seri Liga Nasional per tahun
Target Database
100% turnamen resmi masuk database nasional
Target Prestasi
Target harus jelas berdasarkan:
SEA Games → Asian Games → World Championships
Dengan ukuran seperti ini, masyarakat bridge dapat mengevaluasi:
Apakah program benar-benar berjalan?
🧩 PROGRAM TERBAIK MUNGKIN BUKAN MILIK SATU ORANG
Ini bagian yang menurut saya sangat penting.
Dalam sebuah Kongres, kita memilih Ketua Umum, bukan memilih satu-satunya orang yang mempunyai ide.
Kalau ada program bagus dari calon A, program tersebut tetap bagus walaupun calon A tidak terpilih.
Begitu juga sebaliknya.
Karena itu, setelah Kongres selesai, saya berharap:
Program yang bagus jangan ikut kalah.
Yang menang adalah bridge Indonesia.
🇮🇩 DUA CALON, SATU EKOSISTEM
Kalau seluruh program kedua calon kita susun menjadi satu gambar besar, sebenarnya kita bisa mendapatkan sebuah ekosistem bridge Indonesia yang sangat menarik:
DIGITAL GABSI
⬇️
DATABASE NASIONAL
⬇️
SEKOLAH & KAMPUS
⬇️
PEMBINAAN JUNIOR
⬇️
KLUB
⬇️
LIGA
⬇️
MASTER POINT & RANKING
⬇️
SELEKSI NASIONAL
⬇️
TIM NASIONAL
⬇️
PRESTASI ASIA & DUNIA
Dan semuanya membutuhkan:
SPONSOR + PEMERATAAN DAERAH + ORGANISASI PROFESIONAL
Kalau ekosistem ini berhasil dibangun, siapa pun Ketua Umumnya akan mempunyai fondasi yang jauh lebih kuat.
🏁 KONGRES ADALAH AWAL, BUKAN AKHIR
Pada 20–21 September 2026 di Mamuju, keluarga besar GABSI akan menentukan siapa yang dipercaya memimpin PB GABSI periode 2026–2030.
Tetapi setelah suara dihitung, pekerjaan sebenarnya baru dimulai.
Karena empat tahun bukan waktu yang panjang.
Kalau satu tahun pertama habis untuk membangun struktur, tahun kedua untuk mencoba program, tahun ketiga baru mulai berjalan dan tahun keempat sudah masuk persiapan Kongres berikutnya, maka waktu akan cepat berlalu.
Karena itu, 2027 harus sudah menjadi tahun implementasi.
♠️ PERTANYAAN UNTUK KELUARGA BESAR BRIDGE INDONESIA
Sekarang saya ingin mengajak pembaca berdiskusi.
Menurut Anda, mana yang paling mendesak?
- Database nasional dan digitalisasi
- Pembinaan junior
- Liga Bridge Nasional
- Bridge masuk sekolah dan kampus
- Reformasi Master Point
- Sponsor dan pendanaan
- Prestasi internasional
- Mempertahankan bridge di PON
- Penguatan klub dan Pengprov
- Semuanya harus dibangun dalam satu ekosistem
Tuliskan pilihan Anda dan alasannya di kolom komentar.
Tidak perlu setuju dengan penulis.
Justru perbedaan pendapat yang disampaikan dengan argumentasi akan membuat diskusi bridge Indonesia semakin sehat.
🟦 ROAD TO KONGRES XXVII PB GABSI 2026
Bagian 2
APA PERSAMAAN DAN PERBEDAAN PROGRAM KEDUA CALON?
Bagian berikutnya:
🟦 APA YANG PALING DIBUTUHKAN PEMAIN MUDA INDONESIA?
Dari Sekolah, Klub, Liga hingga Tim Nasional
Catatan Penulis
Tulisan ini merupakan perbandingan program berdasarkan materi yang telah disampaikan kedua calon kepada publik. Tujuannya bukan mendukung salah satu kandidat, melainkan membantu keluarga besar bridge Indonesia memahami pilihan yang tersedia menjelang Kongres XXVII PB GABSI.
Perbedaan gagasan adalah hal yang sehat dalam organisasi. Yang terpenting adalah bagaimana gagasan terbaik akhirnya digunakan untuk membangun bridge Indonesia.
Dua visi. Dua pendekatan. Satu tujuan.
🇮🇩 BRIDGE INDONESIA YANG LEBIH KUAT, BERPRESTASI DAN BERKELANJUTAN. ♠️♥️♦️♣️***
- Materi program Verdianto Iskandar Bitticaca
- Materi program Isradi Zainal














