Connect with us

Ekonomi

Rupiah Hari Jumat 11 September 2026: Limbung Tertekan Harga Minyak Dunia, Senin Dibayangi Kehati-hatian

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Rupiah Hari Jumat 11 September 2026: Limbung Tertekan Harga Minyak Dunia, Senin Dibayangi Kehati-hatian

Menjelang akhir pekan, rupiah kembali mendapat pukulan pahit setelah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan valuta asing Jumat (11/9/2026). (Foto: Istimewa)

FAKTUAL INDONESIA: Rupiah hari ini kembali menyerah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), sehingga tetap memerah sama dengan penutupan sehari sebelumnya. Bahkan rupiah  harus merelakan posisinya tergerus menjelang akhir pekan.

Pada penutupan perdagangan Jumat (11/9/2026), nilai tukar rupiah ditutup melemah 64 poin atau sekitar 0,36 persen ke posisi Rp17.611 per dolar AS. Pergerakan ini melanjutkan tren tekanan setelah sebelumnya bertengger di level Rp17.547 per dolar AS pada Kamis.

Memang rupiah benar-benar tertatih-tatih setelah pada pembukaan perdagangan pagi hari bergerak bergerak melemah 38 poin atau 0,22 persen menjadi Rp17.585 per dolar AS.

Langkah rupiah di pasar spot empat limbung hingga merosot 80 poin di pertengahan sesi.

Baca Juga : Rupiah Hari Kamis 10 September 2026: Terdepresiasi 36 Poin Gara-gara Sikap Menanti, Jumat Konsolidasi

Semakin lenkap penderitaan rupiah karena pada Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga bergerak melemah ke level Rp17.611 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.536 per dolar AS.

Dengan kemerosotan 0,36 persen maka untuk pasar valuta asing kawasan Asia, rupiah berada di bawah dolar Taiwan yang turun 0,3% terhadap dolar AS. Meskipun melemah namun agak lebih baik yaitu rupee India terkoreksi 0,27%, peso Filipina melorot 0,26, ringgit Malaysia menurun 0,07%.

Advertisement

Yang menguat tercatat  won Korea Selatan naik 0,41%,  yen Jepang menapak naik 0,13%, baht Thailand menguat 0,11%, dolar Singapura meningkat 0,04%,  yuan China terangkat 0,03%. Sedangkan dolar Hong Kong bergerak stabil.

Membengkaknya Beban Subsidi

Sentimen utama yang membebani langkah uang lokal adalah membumbungnya harga minyak mentah dunia hingga menembus angka 100 dolar AS per barel akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Baca Juga : Rupiah Hari Rabu 9 September 2026: Melesat 121 Poin Terbaik di Asia, Kamis Perlu Cermati CPI

Lonjakan harga si emas hitam ini memicu efek domino bagi perekonomian domestik. Sebagai negara net importir minyak, kebutuhan dolar AS di pasar dalam negeri melesat tinggi guna membiayai impor energi. Kekhawatiran pelaku pasar pun memuncak terkait potensi membengkaknya beban subsidi energi pada APBN serta ancaman imported inflation yang dapat menggerus daya beli masyarakat.

Memanasnya kembali situasi di Selat Hormus dengan terjadinya jual beli serangan antara Iran dan Amerika menurut Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menjadi salah satu sentimen eksternal.

Advertisement

Seperti dilansir RCTI+, kekhawatiran bertambah setelah Kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran turut bergerak sehingga bisa mengganggu pasokan lebih lanjut di Timur Tengah.

Sedangkan dari sentimen dalam negeri, harga minyak mentah dunia melampaui 100 dolar AS per barel, posisi Indonesia sebagai importir neto minyak memang menjadi tantangan berat bagi ketahanan fiskal dan stabilitas ekonomi nasional. Dampak utama dan beban fiskal yang muncul akibat situasi tersebut adalah pembengkakan subsidi dan kompensasi energi membuat beban APBN meningkat.

Baca Juga : Rupiah Hari Selasa 8 September 2026: Ditopang Amunisi Cadev Berbalik Menguat, Rabu Berpotensi Menguat Terbatas

Tingginya harga minyak membuat kebutuhan akan dolar AS melonjak tajam sehingga terjadi pelebaran transaksi berjalan dan tingginya permintaan terhadap mata uang asing ini dapat menekan nilai tukar rupiah, yang pada gilirannya bisa memicu imported inflation (inflasi barang impor) untuk komoditas lainnya.

Meskipun Indonesia di sisi lain diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas ekspor lain (seperti batu bara atau kelapa sawit/CPO) yang sering kali ikut terkerek naik saat krisis energi (windfall revenue), keuntungan tersebut sering kali tidak cukup untuk sepenuhnya menutup kerugian akibat membengkaknya biaya impor minyak mentah.

Prediksi Senin, 14 September 2026

Advertisement

Memasuki awal pekan depan, perdagangan rupiah diperkirakan masih akan diselimuti bayang-bayang kehati-hatian (cautious stance).

Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.610-Rp17.650 per dolar AS. Sedangkan untuk sepekan depan di kisadan Rp17.500-Rp.17.850 per dar AS.

Baca Juga : Rupiah Hari Senin 7 September 2026: Dari Melemah Bangkit Menguat Tipis, Besok Cendrung Stabil

  • Rentang Proyeksi: Pergerakan rupiah diproyeksikan berada pada rentang 590 – Rp17.660 per dolar AS.
  • Sentimen Penggerak:
    • Eskalasi Komoditas Energi: Pasar akan terus memantau apakah harga minyak dunia bertahan di atas USD 100 per barel atau mulai melunak.
    • Intervensi Bank Sentral: Bank Indonesia (BI) diperkirakan tetap siaga menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan valas melalui intervensi di pasar spot maupun Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) untuk menahan pelemahan yang terlalu tajam.

Arus Modal Asing: Penahanan posisi oleh investor global berpotensi terjadi sembari menantikan arah rilis data inflasi global dan dinamika pasar obligasi domestik. ***

Lanjutkan Membaca
Advertisement