Olahraga
Memahami Aturan Kejurnas Bridge Ke-60 di Mamuju: Berapa pun Pesertanya, Pertandingan Tetap Berlangsung

Mamuju 2026 adalah salah satu kesempatan besar untuk membuat bridge Indonesia semakin ramai, semakin kuat dan semakin bersahabat. (Foto: Istimewa)
Oleh: Bert Toar Polii
FAKTUAL INDONESIA: Kejurnas Bridge ke-60 di Mamuju semakin dekat. Seiring semakin banyaknya daerah yang menyatakan keikutsertaan, ada beberapa ketentuan pertandingan yang penting diketahui oleh seluruh peserta.
Tujuannya sederhana: jangan sampai ada peserta yang ragu untuk datang hanya karena jumlah pendaftar pada nomor tertentu belum memenuhi jumlah ideal.
Panitia pada prinsipnya akan memberikan kesempatan kepada peserta untuk tetap bertanding.
BERAPA PUN YANG MENDAFTAR, PERTANDINGAN TETAP DILAKSANAKAN
Salah satu ketentuan penting adalah bahwa pertandingan tidak otomatis dibatalkan hanya karena jumlah peserta sedikit.
Penyesuaian dilakukan terhadap format pertandingan sesuai jumlah regu yang mendaftar.
- Minimal 6 regu
Jika terdapat minimal 6 regu, maka setiap nomor pertandingan akan diselenggarakan sendiri sesuai kategorinya.
Jadi, apabila suatu nomor telah memenuhi jumlah minimal enam regu, peserta akan bertanding dalam nomor tersebut secara mandiri.
- Kurang dari 6 regu
Apabila peserta suatu nomor kurang dari 6 regu, maka nomor tersebut dapat digabung dengan nomor lain yang dianggap mempunyai tingkat kemampuan yang hampir sama.
Dengan demikian, jumlah peserta yang sedikit tidak otomatis menyebabkan pertandingan dibatalkan.
Ketentuan hasil akhirnya adalah:
3–5 regu
→ diambil Regu Terbaik 1 dan 2
2 regu
→ diambil 1 Regu Terbaik
1 regu
→ tetap berhak menjadi yang terbaik apabila mencapai jumlah VP yang dipersyaratkan.
Kalau tidak mencapai jumlah VP tersebut, maka status sebagai yang terbaik tidak diberikan.
Ini merupakan ketentuan yang penting diketahui terutama bagi daerah yang masih mempertimbangkan keberangkatannya.
Jangan menunggu jumlah peserta banyak baru berangkat.
Kalau sudah mendaftar dan nomor tersebut tetap dilaksanakan, peserta tetap mendapatkan kesempatan bertanding.
KHUSUS KELAS A DAN KELAS B
Ada ketentuan khusus yang perlu digarisbawahi.
Untuk Kelas A maupun Kelas B, berapa pun jumlah tim yang mendaftar, pertandingan tetap dilaksanakan.
Jadi Kelas A tidak akan dibatalkan hanya karena jumlah peserta di bawah jumlah ideal.
Demikian pula Kelas B.
Hal ini penting karena Kelas B mempunyai fungsi strategis sebagai jalur menuju Kelas A pada Kejurnas berikutnya.
BAGAIMANA DENGAN PROMOSI DAN DEGRADASI?
Ini bagian yang mungkin paling banyak menimbulkan pertanyaan.
Ketentuannya:
Jika jumlah peserta Kelas A maksimal 10 tim, tidak ada promosi dan degradasi.
Artinya, tim Kelas A yang bertanding tidak perlu khawatir turun ke Kelas B hanya karena hasil pertandingan.
Sebaliknya, tim Kelas B tidak serta-merta naik hanya berdasarkan hasil pertandingan apabila jumlah peserta Kelas A masih maksimal 10 tim.
Namun kebutuhan untuk melengkapi jumlah peserta Kelas A pada Kejurnas berikutnya tetap harus dipenuhi.
Karena itu, kekurangan jumlah tim Kelas A akan dilengkapi dari peringkat Kelas B.
Dengan mekanisme seperti ini, Kelas B tetap mempunyai arti yang sangat penting.
CONTOH UNTUK MEMPERJELAS
Misalnya Kelas A pada suatu Kejurnas hanya diikuti:
8 tim.
Maka tidak ada degradasi dari Kelas A.
Untuk Kejurnas berikutnya, jika format ideal Kelas A membutuhkan 16 tim, maka kekurangan:
16 – 8 = 8 tim
akan dilengkapi dari tim-tim terbaik Kelas B.
Jadi bukan karena delapan tim Kelas A terdegradasi.
Melainkan karena delapan tempat yang kosong diisi melalui hasil Kelas B.
Ini berbeda maknanya dan perlu dijelaskan kepada peserta.
MENGAPA KELAS B MENJADI SANGAT PENTING?
Dengan sistem tersebut, pertandingan Kelas B bukan pertandingan kelas dua yang boleh dianggap sekadar pelengkap.
Kelas B merupakan pintu masuk menuju Kelas A.
Tim yang mampu menunjukkan prestasi terbaik di Kelas B mempunyai kesempatan untuk mengisi tempat yang tersedia di Kelas A pada Kejurnas berikutnya.
Karena itu, bagi tim Kelas B:
setiap board penting,
setiap VP penting,
dan setiap kemenangan bisa menentukan masa depan mereka.
KETENTUAN KHUSUS UNTUK TUAN RUMAH
Ada satu ketentuan khusus yang juga perlu diketahui.
Tuan rumah diperbolehkan mendaftarkan dua tim di Kelas B.
Ini merupakan bentuk kesempatan bagi tuan rumah untuk berpartisipasi lebih banyak.
Namun ada batasannya:
Maksimal hanya satu tim tuan rumah yang dapat memperoleh promosi ke Kelas A.
Dengan demikian, apabila tuan rumah menurunkan dua tim di Kelas B, kedua-duanya boleh bertanding dan mengejar prestasi.
Tetapi untuk promosi ke Kelas A, hanya satu tim tuan rumah yang dapat mengambil tempat promosi.
Ketentuan ini penting agar kesempatan promosi juga tetap terbuka bagi daerah lain.
PERSOALAN YANG PERLU DIPIKIRKAN BERSAMA
Ada satu persoalan yang menurut saya perlu mendapat perhatian untuk jangka panjang.
Kita tentu senang melihat semakin banyak kabupaten/kota dari daerah tuan rumah ikut dalam Kejurnas.
Misalnya tuan rumah berhasil mengirim banyak tim.
Namun persoalan muncul apabila tim-tim tersebut kemudian memperoleh tempat di Kelas A, tetapi pada tahun berikutnya Kejurnas diselenggarakan jauh dari daerah mereka.
Karena berbagai alasan—terutama biaya perjalanan dan dukungan anggaran—bisa saja terjadi mereka akhirnya tidak berangkat.
Akibatnya, tempat yang sudah diperoleh di Kelas A kembali kosong.
Ini tentu bukan persoalan yang mudah.
Di satu sisi kita ingin memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada tuan rumah.
Di sisi lain, sistem kompetisi harus menjamin kesinambungan peserta dari tahun ke tahun.
PERLUKAH KEJURNAS DI TENGAH-TENGAH?
Dari persoalan tersebut muncul sebuah gagasan yang layak dipertimbangkan.
Untuk minimal dua tahun ke depan, mungkin perlu dipikirkan agar Kejurnas diselenggarakan di lokasi yang relatif berada di tengah pusat peserta.
Secara praktis, Pulau Jawa saat ini memang menjadi pilihan yang paling mudah untuk penyelenggaraan Kejurnas secara nasional.
Bukan karena daerah lain tidak mampu menjadi tuan rumah.
Tetapi karena pertimbangan:
jarak perjalanan,
ketersediaan penerbangan,
biaya transportasi,
akomodasi,
fasilitas pertandingan,
serta dukungan pembiayaan dari daerah.
Ini bukan berarti Kejurnas harus selalu di Jawa.
Sama sekali bukan.
Justru setelah sistem organisasi dan pendanaan semakin kuat, kesempatan menjadi tuan rumah harus bisa diberikan secara lebih merata.
Tetapi untuk jangka pendek, aspek aksesibilitas dan biaya memang perlu menjadi pertimbangan.
MASALAH KLASIK: DANA KONI
Kita juga harus realistis dengan kondisi di daerah.
Dukungan pendanaan dari KONI untuk beberapa daerah sering kali baru mendapatkan kepastian di menit-menit terakhir.
Akibatnya, Pengprov atau Pengcab yang sebenarnya ingin mengirim atlet belum dapat memastikan keberangkatan jauh-jauh hari.
Ini menjadi salah satu alasan mengapa panitia perlu mempunyai fleksibilitas dalam menghadapi pendaftaran.
Kalau masih memungkinkan secara teknis dan administratif, toleransi terhadap keterlambatan pendaftaran tentu sangat membantu daerah.
Apalagi jika keterlambatan bukan karena tidak serius ingin ikut, tetapi karena menunggu keputusan pendanaan.
ADA KABAR BAIK DARI KALIMANTAN BARAT DAN SUMATERA UTARA
Di tengah berbagai persoalan tersebut, ada kabar yang menggembirakan.
Kalimantan Barat dikabarkan akan ikut pada nomor Antar Provinsi.
Demikian pula Sumatera Utara yang dikabarkan akan berpartisipasi, khususnya pada nomor Mixed Team.
Jika benar terealisasi, kehadiran kedua daerah tersebut semakin memperluas peta peserta Kejurnas Mamuju.
Ini tentu sangat positif.
Karena tujuan Kejurnas bukan hanya menentukan juara.
Tetapi juga mempertemukan pemain dari sebanyak mungkin daerah di Indonesia.
MAMUJU HARUS MENJADI KESEMPATAN, BUKAN HAMBATAN
Dengan berbagai ketentuan tersebut, saya berharap para peserta melihat Mamuju secara lebih positif.
Jangan terlalu khawatir dengan jumlah peserta.
Jangan berpikir pertandingan akan dibatalkan karena jumlah pendaftar sedikit.
Dan jangan menganggap Kelas B tidak penting.
Justru sistem yang diterapkan memberikan kesempatan kepada semua daerah untuk tetap bertanding.
Ada pertandingan untuk semua.
Ada kesempatan untuk berprestasi.
Dan bagi Kelas B, ada kesempatan untuk mendapatkan tempat di Kelas A pada tahun berikutnya.
YANG PALING PENTING: DATANG DAN BERTANDING
Kejurnas adalah pesta bridge nasional.
Kalau kita ingin bridge Indonesia berkembang, maka semakin banyak daerah harus berani datang.
Bukan hanya daerah yang sudah memiliki pemain nasional.
Bukan hanya kota besar.
Tetapi juga daerah yang sedang membangun kekuatan.
Karena pemain yang hari ini masih berada di Kelas B bisa saja menjadi pemain Kelas A beberapa tahun kemudian.
Dan daerah yang hari ini baru mengirim satu tim bisa saja kelak menjadi salah satu kekuatan bridge Indonesia.
Semua harus dimulai dari kesempatan untuk bertanding.
MAMUJU 2026: SEMUA PUNYA KESEMPATAN
Jadi mari kita sederhanakan.
Jumlah peserta sedikit?
Pertandingan tetap berlangsung.
Kurang dari 6 regu?
Dapat digabung dengan nomor yang kemampuannya hampir sama.
3–5 regu?
Juara 1 dan 2.
2 regu?
Juara 1.
1 regu?
Bisa menjadi yang terbaik jika mencapai VP yang dipersyaratkan.
Kelas A hanya maksimal 10 tim?
Tidak ada promosi dan degradasi.
Ada tempat kosong di Kelas A?
Akan dilengkapi berdasarkan peringkat Kelas B.
Tuan rumah ingin mengirim dua tim Kelas B?
Boleh, tetapi maksimal satu tim yang dapat promosi.
Dengan aturan yang jelas, peserta diharapkan dapat datang ke Mamuju dengan lebih tenang dan fokus pada pertandingan.
PENUTUP
Pada akhirnya, sebuah Kejurnas akan hidup kalau pemainnya datang.
Sistem yang baik harus memberikan ruang bagi peserta.
Dan peserta juga harus memberikan kesempatan kepada sistem tersebut untuk berjalan.
Mamuju 2026 adalah kesempatan untuk mencoba.
Kesempatan untuk bertanding.
Kesempatan untuk bertemu teman-teman lama.
Kesempatan untuk melahirkan pemain baru.
Dan kesempatan untuk membangun masa depan bridge Indonesia.
Jadi, tidak perlu menunggu sampai jumlah peserta sempurna.
Kalau sudah siap, daftar.
Kalau sudah mendaftar, datang.
Kalau sudah datang, bertanding sebaik-baiknya.
Karena pada akhirnya:
BRIDGE BERKEMBANG KARENA KITA BERMAIN.
Dan Mamuju 2026 adalah salah satu kesempatan besar untuk membuat bridge Indonesia semakin ramai, semakin kuat dan semakin bersahabat.
Sampai bertemu di Mamuju! ***














