Home NasionalNusantara Usaha Ecoprint Di Solo Mencoba Bangkit di Tengah Pandemi

Usaha Ecoprint Di Solo Mencoba Bangkit di Tengah Pandemi

oleh Dwipraya

Pelaku usaha ecoprint di Solo mencoba bangkit di tengah pandemi Covid-19. (Foto : Istimewa)

FAKTUALid –  Pandemi Covid-19 membuat banyak sektor usaha terpukul. Salah satunya dialami pelaku UMKM batik ecoprint di Kota Solo, Jawa Tengah. 

Menurut pemilik usaha Aretee Ecoprint, Notari Billy Ardiani, sejak satu tahun terakhir atau selama masa pandemi Covid, usaha ecoprint miliknya mengalami penurunan sangat drastis.

“Dulu sebelum pandemi, omzetnya bisa mencapai Rp20 juta dalam dua hari. Kami juga punya booth di Bandara Adi Soemarmo Solo, dulu lumayan banyak pembeli,” ujar Notari, Sabtu (5/6/2021).

Tetapi saat ini dirinya terpaksa menutup booth di bandara. Pasalnya, selama pandemi jumlah penumpang di Bandara Solo sangat sedikit karena sempat ada pengurangan penerbangan.

“Ada yang beli tapi hanya sedikit, tidak bisa menutup biaya operasional. Daripada rugi lebih baik saya tutup dulu yang di bandara,” jelasnya.

Saat ini usaha yang dirintis bersama temannya Noorinna Dewi itu hanya mengandalkan promosi antar teman. Karena saat ini juga tidak memproduksi lagi dan hanya mengandalkan produk-produk lama yang sudah dibikin sebelumnya.

“Tapi saat ini mulai memasarkan lewat marketplace. Karena untuk jualan produk ecoprint ini kalau untuk saat ini,sulit. Masyarakat lebih memilih belanja untuk kebutuhan lain daripada membeli produk ecoprint yang harganya mahal,” katanya.

Produk yang ditawarkan selain kain, juga baju- baju, mukena, masker, hingga tas. Untuk harga yang ditawarkan mulai Rp30.000 untuk produk masker hingga Rp700.000 untuk kain.

“Saat ini memang belum produksi lagi, kami hanya membuat jika ada yang pesan. Karena membuatnya juga butuh waktu, dan biaya produksi juga mahal kalau tidak laku rugi,” katanya lagi.

Untuk proses pembuatan ecoprint menurut Notari sejumlah tahapan. Daun yang digunakan untuk membuat motif di atas kain tidak bisa sembarangan. Karena hanya benerapa jenis daun saja yang bisa mengeluarkan warna dan motif.

Daun yang bisa digunakan diantaranya Daun Jati, Daun Afrika, Daun Jarak, Daun Kalpataru, serta Daun Tabebuya. Dari beberapa daun tersebut bisa langsung mengeluarkan warga jika ditempel diatas kain.

“Tapi ada juga yang harus melalui treatement yakni direndam dulu dengan larutan tunjung atau tawas untuk mengeluarkan warna kuning,” paparnya.

Selanjutnya daun-daun tersebut diletakkan di atas kain untuk mencetak motifnya. Jenis kain yang bagus adalah kain dengan serat alam dari kapas,seperti sutra,  viscose dan lainnya. 

Tetapi sebelum ditempel daun, kain tersebut harus di mordan yakni untuk menghilangman zat kimianya. Selanjutnya di tempeli daun dan digulung kemudian dikukus selama dua jam.

“Setelah itu kain dibuka dan daunnya diambil kemudian diangin-anginkan minimal satu minggu. Sebelumnya warnanya dikunci dengan menggunakan larutan tawas atau tunjung dan air kapur,” terangnya.

Notari berharap produk ecoprint bisa kembali bangkit di tengah pandemi Covid-19 seperti saat ini. Salah satu upaya yang dilakukannya adalah dengan menggunakan marketplace. (Uti Farinzi) ***

You may also like

Tinggalkan Komentar