Connect with us

Nasional

Jawa: Dari Mahluk Aneh Hingga Suku Terbesar di Indonesia dan Suriname

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Foto keluarga orang Jawa pada zaman Hindia Belanda

Foto keluarga orang Jawa pada zaman Hindia Belanda

FAKTUAL-INDONESIA: Jawa lagi trending di twitter, hari ini, Rabu (12/1/2022). Ada apa? Banyak hal yang dishare. Banyak pula yang dikomentari. Para netizen seperti membedah soal Jawa.

Pulau Jawa merupakan memang bukan pulau terbesar di Indonesia. Namun Jawa menjadi pulau terpadat di Tanah Air.

Memiliki enam provinsi, Jawa memiliki satu daerah istimewa dan satu daerah khusus ibukota. Mulai dari Daerah Khusus Ibukota Jakarta, kemudian Daerah Istimewa Yogyakarta, lalu Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Banten.

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, disebutkan, Suku Jawa (Bahasa Jawa: Ngoko: (Wong Jawa), Krama: (Tiyang Jawi)) merupakan suku bangsa terbesar di Indonesia yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kabupaten Indramayu, Kabupaten/Kota Cirebon (Jawa Barat) dan Kabupaten/Kota Serang–Cilegon (Banten).

Seiring berkembangnya zaman, orang Jawa atau masyarakat Jawa tidak hanya mendiami Pulau Jawa tetapi kemudian menyebar di seluruh Indonesia. Banyak di luar pulau Jawa ditemukan komunitas Jawa akibat adanya program transmigrasi yang dicanangkan pemerintah.

Advertisement

Pada tahun 2010, setidaknya 40,22% penduduk Indonesia merupakan etnis Jawa.

Selain itu, suku Jawa ada pula yang berada di negara Kaledonia Baru dan Suriname, karena pada masa kolonial Belanda suku ini dibawa ke sana sebagai pekerja. Saat ini suku Jawa di Suriname menjadi salah satu suku terbesar di sana dan dikenal sebagai Jawa Suriname.

Ada juga sejumlah besar suku Jawa di sebagian besar provinsi di Indonesia, Malaysia, Singapura, Arab Saudi, dan Belanda.

Mayoritas orang Jawa adalah umat Islam, dengan beberapa minoritas yaitu Kristen, Kejawen, Hindu, Buddha, dan Khonghucu. Meskipun demikian, peradaban orang Jawa telah dipengaruhi oleh lebih dari seribu tahun interaksi antara budaya Kejawen dan Hindu-Buddha, dan pengaruh ini masih terlihat dalam sejarah, budaya, tradisi, dan bentuk kesenian Jawa.

Dengan populasi global yang cukup besar, suku Jawa ialah kelompok etnis terbesar keempat di antara umat Islam di seluruh dunia, setelah bangsa Arab, suku Bengali, dan suku Punjab.

Advertisement

Ketika kemerdekaan bangsa Indonesia diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945, para penguasa monarki Jawa yang terakhir, diwakili oleh Sri Sultan dari Kesultanan Yogyakarta, Sunan dari Kasunanan Surakarta, dan Pangeran Mangkunegara menyatakan bahwa mereka akan menjadi bagian dari Republik Indonesia.

Yogyakarta dan Pakualam kemudian bersatu untuk membentuk Daerah Istimewa Yogyakarta. Sri Sultan menjadi Gubernur Yogyakarta, dan Pangeran Pakualaman menjadi wakil gubernur; keduanya bertanggung jawab langsung kepada Presiden Republik Indonesia. Surakarta kemudian digabungkan sebagai bagian dari Provinsi Jawa Tengah.

Mahluk Aneh

Seperti dipantau dari Male Indonesia, dalam catatan-catatan Kitab Hindu Kuno seperti dikutip Capt RP Suyono dalam Dunia Mistik Orang Jawa (2009: 15-16) dikisahkan bahwa pada 450 SM hingga 78 M, nenek moyang suku Jawa dari Koromandel mulai berdatangan. Pada masa itu, Jawa masih diliputi hutan belantara dan dikenal dengan nama Nusa Kendang. Daerah itu berhasil dikunjungi oleh orang-orang dari Kerajaan Astina atau Kling, Koromandel atas perintah raja mereka yang bernama Arjuna.

Diperkirakan mereka mendarat pertama kali di daerah Banten. Namun, mereka tidak mampu bertahan lama mendiami daratan Jawa karena ganasnya gangguan makhluk-makhluk berbentuk aneh. Ada beberapa jenis makhluk aneh, antara lain  diberi nama gandarwa (Sanskerta: gandharva) atau biasa disebut genderuwo.  Mahkluk aneh lainnya adalah tetekan, cicet, bahung, dan banaspati.

Advertisement

Selain serbuan makhluk aneh itu, mereka juga dimangsa oleh binatang-binatang buas. Akibatnya, banyak di antara mereka tewas. Dan yang selamat memutuskan kembali ke negeri asalnya. Sekitar 500 tahun berikutnya, penguasa Kerajaan Kling yang bernama Brahmani Wati, kembali mencoba menaklukkan pulau Jawa. Kapal-kapal penuh dengan penduduk desa dibawa ikut serta.

Kedatangan mereka kali ini, berhasil membabat hutan. Para gandarwa dan kawan-kawanya sudah tidak mengganggu. Sehingga mereka pun mampu membangun desa hingga wilayah pedalaman. Mereka dan keturunannya inilah, yang menjadi cikal bakal Kerajaan Pajajaran di Jawa Barat. Dari keturunan mereka ini pula, diduga menjadi cikal bakal suku Sunda, yang hingga kini mendominasi masyarakat Provinsi Jawa Barat.

Selain dari Kitab Hindu Kuno, kisah tentang para pendatang atau nenek moyang orang Jawa juga dapat diketahui dari literatur kuno lainnya seperti Babad Tanah Jawa dan Serat Kuno Keraton Malang. Namun, pada prinsipnya, semua mengatakan hal yang sama bahwa pada masa awal didatangi, Pulau Jawa masih berupa hutan belantara dan dihuni oleh makhluk-makhluk aneh serta binatang buas.

Menurut pemaparan Sri Wintala Achmad dalam Asal-Usul dan Sejarah Orang Jawa (2017: 18-24), untuk mengetahui asal-usul orang Jawa harus mempertimbangkan banyak sumber.

Sumber-sumber itu antara lain hasil kajian para arkeolog, penelitian para sejarawan, literatur kuno tentang Jawa seperti Babad Tanah Jawa, Serat Kuno Keraton Malang, surat-surat kuno dari India, Cina, bahkan boleh juga menengok catatan kuno suku Maya tentang bangsa Atlantis dan Lemuria.

Advertisement

Menurut arkeolog, satu juta tahun sebelum Masehi, Pulau Jawa diperkirakan sudah dihuni. Hanya saja, peradaban manusia kala itu masih sangat primitif dan biasa disebut sebagai manusia purba.

Penemuan-penemuan fosil manusia purba di lembah Bengawan Solo oleh von Koenigswald, Eugène Dubois, dan arkeolog lain membuktikan bahwa DNA manusia purba seperti Pithecanthropus erectus dan Homo sapiens  memiliki struktur DNA yang mirip dengan DNA orang Jawa di zaman sekarang.

Manusia purba berjenis Homo erectus di Dusun Trinil, Kawu, Kedunggalar, Ngawi, Jawa Timur oleh  Eugène Dubois  memperkuat teori itu. Padahal mereka diperkirakan hidup pada 700.000 tahun sebelum Masehi.

Sebagian Arkeolog berpendapat bahwa mayoritas manusia purba ini mengalami  kepunahan ketika Gunung Lawu purba, Gunung  Kelud purba, Gunung Krakatau purba, dan gunung berapi purba lainnya di Pulau Jawa, meletus. Kalaupun ada yang selamat dari letusan-letusan itu, diperkirakan mereka kemudian berhadapan dengan para pendatang dari negeri lain. Benturan budaya pun terjadi atau bisa pula mengalami proses asimilasi  melalui perkawinan.

Ketika manusia mampu membuat tulisan, babak baru dimulai. Dari catatan-catatan berupa aksara kuno itulah, para sejarawan mulai mampu merangkai kisah masa lampu yang mendekati kebenaran. Hanya saja, era ini, Pulau Jawa sudah dihuni oleh beragam manusia baik dari penghuni yang lebih lama maupun para pendatang. Semua berbaur dalam arti yang sesungguhnya.

Advertisement

Sekitar 3000 SM, orang-orang dari suku Lingga, Tiongkok Daratan, Yunan atau Funan di Cina Selatan, Kasi di India Selatan, orang dari Dinasti Kusana dari India, orang Siam dari Thailand, orang Turki, dan orang Arab, serta Campa, berdatangan secara bergelombang.

Gelombang awal kedatangan itu dikenal juga sebagai zaman Proto Melayu. Selanjutnya disusul kedatangan berikutnya yang dikenal sebagai gelombang  Deutro Melayu. Semua pendatang itu membawa peradaban yang jauh lebih maju dibanding penduduk Pulau Jawa yang lebih dulu menghuni. Dari mereka inilah kemudian mulai dikenal teknik pelayaran, ladang, sawah, dan sistem kampung. ***

Lanjutkan Membaca
Advertisement