Nasional
Erupsi Gunung Ruang: Waspadai Flank Collapse 5 Stasiun Pendeteksi Tsunami Diefektifkan

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memfungsikan secara efektif lima stasiun pendeteksi tsunami setelah Gunung Ruang di di Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara, erupsi fase kedua, Selasa
FAKTUAL INDONESIA: Erupsi Gunung Ruang di di Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara, membuat sebanyak lima stasiun pendeteksi tsunami difungsikan secara efektif.
Hal itu merupakan langkah waspada terhadap terulangnya kembali fenomena flank collapse atau runtuhnya sebagian atau keseluruhan badan Gunung Ruang.
Berdasarkan data sejarah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) letusan Gunung Ruang pernah menimbulkan dampak tsunami setinggi 25 meter dan menewaskan sekitar 400 orang warga Kepulauan Sitaro pada tahun 1871.
Menurut Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono, tsunami yang mengakibatkan ratusan orang meninggal dunia itu terjadi akibat adanya fenomena flank collapse atau runtuhnya sebagian atau keseluruhan badan Gunung Ruang. Fenomena tersebut patut diwaspadai berpotensi terulang seiring aktivitas vulkanologi Gunung Ruang yang kembali meningkat dalam beberapa pekan terakhir.
Disebutkan, BMKG memastikan sebanyak lima stasiun pendeteksi tsunami difungsikan secara efektif setelah erupsi fase kedua Gunung Ruang, Selasa.
Daryono di Jakarta, Selasa, mengatakan bahwa kelima stasiun tersebut memiliki sumber daya teknologi berupa peralatan Tide Gauge, dan Automatik Weather System Maritim. Masing-masing berada di wilayah Kepulauan Sangihe, Bitung dan Kepulauan Siau Kabupaten Sitaro.
BMKG bersama dengan Badan Informasi Geospasial dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memastikan seluruh peralatan pemantauan tersebut terintegrasi dalam Sistem Indonesia Tsunami Non Tektonik (InaTNT).
InaTNT merupakan sebuah sistem yang mengintegrasikan berbagai data observasi muka laut sekaligus dilengkapi algoritma detektor yang mampu mendeteksi anomali muka laut, yang merupakan fitur penting dalam deteksi dini tsunami.
“Jadi dari hasil pemantauan sepanjang hari ini menunjukkan bahwa erupsi Gunung Ruang tidak mengakibatkan perubahan signifikan muka air laut,” kata Daryono.
Meskipun hasil pemantauan muka laut masih normal, namun ia menyatakan, semua pihak mulai dari pemerintah, otoritas penanggulangan bencana dan masyarakat harus tetap meningkatkan kewaspadaan mengacu pada standar operasional prosedur kedaruratan yang telah disepakati bersama sebelumnya.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) resmi menetapkan status Gunung Ruang naik menjadi level IV (Awas) dari sebelumnya berada pada level III, Siaga.
Peningkatan status tersebut dilakukan setelah gunung stratovolcano itu kembali meletus dan mengeluarkan kolom erupsi mencapai 2.000 meter dari atas puncak yang disertai suara gemuruh dan gempa yang dirasakan secara terus menerus, Selasa pagi pukul 02.35 WITA.
Bahkan, tim Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) di Pulau Ruang, Kabupaten Kepulauan Sitaro mencatat Gunung Ruang kembali mengalami tiga kali erupsi pada periode pengamatan mulai dari pukul 12.00 – 18.00 WITA.
Ketiga letusan tersebut melontarkan material erupsi dengan warna asap kelabu dan hitam setinggi 800-1.500 meter.
PVMBG merekomendasikan untuk segera mengevakuasi warga yang berada pada radius enam-tujuh kilometer dari pusat kawah aktif Gunung Ruang (Tagulandang dan sekitarnya) yang sama sekali tidak boleh ada aktivitas apapun.
Khususnya bagi mereka yang bermukim di dekat kawasan pantai yang berpotensi terdampak lontaran batuan pijar, luruhan awan panas (surge), dan potensi tsunami akibat runtuhnya sebagian tubuh gunung ke dalam laut.
Gelap Gulita
Kondisi Pulau Tagulandang yang berdekatan dengan Pulau Ruang masih gelap gulita pascaerupsi Gunung Ruang di Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara pada Selasa subuh.
Kondisi pelabuhan Tagulandang yang ada di Desa Bahoi hanya diterangi lampu yang berasal dari KN SAR Bima Sena. Tiang-tiang lampu yang berjejer sepanjang dermaga belum dialiri listrik.
“Lampunya padam diperkirakan sejak pukul 01.00 WITA tadi subuh,” kata Anex Tatulus, warga Desa Mohongsawang saat diwawancarai di Pelabuhan Tagulandang, Selasa malam.
Dia mengatakan, lampu padam setelah terjadi letusan Gunung Ruang yang lebih dahsyat dibandingkan dengan erupsi sebelumnya.
“Terjadi hujan batu, kerikil debu saat terjadi letusan, lampu padam,” katanya.
Lain halnya dengan Yefti yang tinggal dekat dermaga Bahoi, menurut dia kondisi saat itu mencekam, takut bahkan gelisah setelah Gunung Ruang kembali meletus.
“Saat letusan kami diguyur hujan lebat, batu, hujan pasir, guntur. Kami panik,” ujarnya.
Hingga pukul 22.02 Wita setelah KN SAR Bima Sena sandar, lampu di permukiman penduduk yang ada di sekitar Pelabuhan Tagulandang tidak menyala. Dari pelabuhan hanya tampak dari kejauhan empat titik seperti sesuatu yang bersinar redup di permukiman warga yang ada di bagian utara. ***













