Connect with us

Nasional

Menanti “Ron Talaga” di Tondano, Sebuah Mimpi Pariwisata yang Mengendap Lima Tahun

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Mungkin Ron Talaga belum beroperasi hari ini namun tidak ada salahnya mulai memimpikannya kembali karena setiap destinasi wisata besar di dunia selalu berawal dari sebuah mimpi yang akhirnya diwujudkan oleh orang-orang yang berani mengerjakannya.

Mungkin Ron Talaga belum beroperasi hari ini namun tidak ada salahnya mulai memimpikannya kembali karena setiap destinasi wisata besar di dunia selalu berawal dari sebuah mimpi yang akhirnya diwujudkan oleh orang-orang yang berani mengerjakannya. (Foto: Istimewa)

Oleh: Bert Toar Polii

FAKTUAL INDONESIA: Sudah lima tahun lamanya, sebuah mimpi besar tentang pariwisata Minahasa mengendap tanpa kepastian.

Logikanya sebenarnya sangat sederhana. Jika kawasan Danau Tondano dikelola secara serius sebagai destinasi wisata unggulan, maka angkutan wisata “Ron Talaga”—transportasi yang mengelilingi Danau Tondano—akan lahir dengan sendirinya karena kebutuhan pasar. Wisatawan membutuhkan akses, pelaku usaha melihat peluang, dan masyarakat memperoleh manfaat ekonomi.

Sayangnya, hingga hari ini impian itu masih sebatas angan.

Padahal, Danau Tondano memiliki hampir semua unsur yang dibutuhkan sebuah destinasi wisata kelas dunia: panorama alam, sejarah, budaya, kuliner, religi, hingga industri kreatif. Yang belum hadir hanyalah satu benang merah yang mampu merangkainya menjadi pengalaman wisata yang utuh.

Mari kita bayangkan sebuah hari ideal di Minahasa.

Advertisement

Pagi hari dimulai dengan menikmati smokol (makan pagi) hangat di Pasar Bawah Tondano. Setelah itu, kendaraan wisata memulai perjalanan Ron Talaga, mengelilingi danau sambil menikmati setiap kisah yang tersimpan di setiap desa.

Persinggahan pertama adalah Gereja Sentrum Tondano, ikon sejarah dan arsitektur yang menjadi saksi perjalanan panjang kota ini.

Tak jauh dari sana, di Kiniar, wisatawan disambut suasana toleransi yang indah di Pura Danu Mandara. Bayangkan berfoto di bawah deretan pohon Tabebuya yang sedang bermekaran, dengan hamparan kobong pece (sawah) yang menghijau sebagai latar belakang. Pemandangan seperti ini sangat bernilai bagi promosi wisata di era media sosial.

Perjalanan kemudian berlanjut ke sisi timur Danau Tondano.

Memasuki Touliang Oki, wisatawan disambut gagahnya Tari Kabasaran. Di Ranomerut mereka menikmati Tari Maengket, sementara di Tandengan terdengar syahdunya alunan musik bambu yang berpadu dengan semilir angin danau.

Advertisement

Dari tepian danau itu mata memandang ke Pulau Likri, pulau legendaris yang menyimpan potensi besar apabila direvitalisasi menjadi destinasi wisata tematik, bahkan dengan konsep menyerupai Bahtera Nabi Nuh yang selama ini pernah diwacanakan.

 

Wisata kemudian bergeser memasuki sektor ekonomi dan sejarah.

Di Eris, wisatawan tidak lagi melihat keramba yang semrawut, melainkan kawasan budidaya ikan yang tertata rapi, memiliki zonasi yang jelas, sekaligus tetap menjaga kelestarian Danau Tondano.

Masuk ke Desa Watumea, perjalanan berubah menjadi wisata religi. Berdiri megah Gereja GMIM Watumea, gereja tertua di tanah Minahasa yang dibangun pada tahun 1868 dan ditahbiskan pada tahun 1872. Sebuah aset sejarah yang luar biasa, namun belum dimanfaatkan secara optimal sebagai tujuan wisata.

Advertisement

Perjalanan berlanjut ke Telap.

Di sini wisatawan dapat berziarah ke makam Dotu Wengkang dan Gerungan, dua waraney Minahasa yang menurut tradisi lokal pernah bersumpah mempertahankan tanah Minahasa dari ancaman penjajah Portugis.

Jejak sejarah berikutnya muncul ketika kendaraan melewati Lumembet, Tasuka, hingga Kaweng. Di kawasan ini masih dapat ditemukan sisa-sisa landasan pesawat amfibi peninggalan Perang Dunia II, yang layak dikembangkan menjadi wisata sejarah militer.

Ron Talaga kemudian menawarkan sisi lain Danau Tondano.

Pantai Mahembang di Kakas menyuguhkan panorama danau yang tenang. Setelah itu wisatawan dapat menikmati pemandian air panas alami di Tontimomor maupun Paso, destinasi yang sejak lama dikenal masyarakat Minahasa.

Advertisement

Memasuki jalur barat danau, perjalanan dihiasi kehidupan ekonomi kreatif masyarakat.

Di Sinuian, Kaima, hingga Remboken, industri tembikar tradisional masih bertahan dari generasi ke generasi. Di kawasan yang sama terbentang pula pesona Smaru Endo yang sangat potensial dikembangkan sebagai ruang wisata keluarga.

Menjelang akhir perjalanan, rombongan memasuki Peleleon untuk menikmati kembali Festival Budaya Tondano (Fesbudaton) yang semestinya menjadi agenda budaya tetap.

Selanjutnya kendaraan melewati Tounsaru dengan panorama Universitas Negeri Manado (UNIMA) yang kini berkembang menjadi kampus hijau yang asri.

Di sepanjang perjalanan, wisatawan juga dimanjakan oleh deretan rumah makan khas Minahasa yang menyajikan aneka olahan ikan air tawar segar hasil Danau Tondano.

Advertisement

Puncak perjalanan ideal itu berada di Benteng Moraya.

Di sinilah hari ditutup dengan menyaksikan pertunjukan drama kolosal mengenai legenda Lahirnya Danau Tondano serta kisah heroik Perang Tondano, dua cerita besar yang menjadi identitas sejarah masyarakat Minahasa.

Sayangnya…

Semua gambaran indah itu hingga kini masih sebatas cetak biru dalam imajinasi.

Sudah lima tahun mimpi Ron Talaga mengapung di atas air Danau Tondano tanpa pernah benar-benar berlabuh.

Advertisement

Padahal destinasinya sudah tersedia.

Ceritanya sudah ada.

Budayanya hidup.

Sejarahnya luar biasa.

Kuliner dan keramahtamahannya pun telah lama dikenal.

Advertisement

Yang belum hadir hanyalah keberanian untuk menyatukan semuanya dalam satu konsep besar pariwisata yang terintegrasi.

Pariwisata modern tidak lagi menjual satu objek wisata.

Yang dijual adalah pengalaman.

Dan Danau Tondano memiliki modal yang sangat lengkap untuk menghadirkan pengalaman tersebut.

Kini tinggal menunggu satu hal: keseriusan politik dan keberanian eksekusi dari para pemangku kebijakan untuk merajut seluruh titik pesona itu menjadi Jalur Emas Pariwisata Minahasa.

Advertisement

Rekomendasi Kebijakan

Legalisasi Trayek Wisata Ron Talaga melalui penerbitan regulasi khusus beserta dukungan subsidi awal agar transportasi wisata dapat beroperasi secara berkelanjutan.

Penataan Zonasi Keramba Jaring Apung di kawasan Eris dan sekitarnya sehingga kegiatan ekonomi tetap berjalan tanpa mengorbankan keindahan danau.

Revitalisasi Situs Sejarah seperti makam para waraney di Telap, peninggalan pangkalan pesawat amfibi Perang Dunia II, serta berbagai cagar budaya lainnya.

Kalender Atraksi Budaya Terintegrasi, sehingga Tari Kabasaran, Maengket, Musik Bambu, dan pertunjukan budaya lainnya tampil secara berkala dengan jadwal yang pasti.

Advertisement

Revitalisasi Infrastruktur Pariwisata, termasuk pembangunan kembali Fesbudaton di Peleleon, pengembangan Benteng Moraya sebagai pusat pertunjukan sejarah, serta penyusunan masterplan kawasan wisata Pulau Likri.

Mungkin Ron Talaga belum beroperasi hari ini.

Namun tidak ada salahnya mulai memimpikannya kembali.

Karena setiap destinasi wisata besar di dunia selalu berawal dari sebuah mimpi yang akhirnya diwujudkan oleh orang-orang yang berani mengerjakannya. ***

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Advertisement