Olahraga
Hainan Memanggil, Mamuju Menanti, Saatnya Menentukan Prioritas Pembinaan Bridge Muda Indonesia

Suatu hari nanti, pemain-pemain yang berangkat ke Hainan mungkin akan menjadi tulang punggung Indonesia pada Bermuda Bowl, Asian Games, SEA Games, atau World Bridge Games. (Foto: Istimewa)
Oleh: Bert Toar Polii
FAKTUAL INDONESIA: Bulan September 2026 akan menjadi salah satu bulan terpenting dalam sejarah bridge Indonesia.
Di satu sisi, Indonesia akan menjadi tuan rumah Kejuaraan Nasional Bridge ke-60 di Mamuju, Sulawesi Barat, yang dirangkaikan dengan Kongres GABSI XXVII. Kejurnas merupakan ajang bergengsi yang mempertemukan pemain terbaik dari seluruh Indonesia, sementara Kongres akan menentukan arah organisasi bridge nasional untuk empat tahun mendatang.
Namun, pada saat yang hampir bersamaan, di Pulau Hainan, Tiongkok, akan berlangsung 26th Asia Pacific Bridge Federation (APBF) Youth Championships, kejuaraan resmi bagi pemain muda Asia Pasifik yang dijadwalkan pada 23–28 September 2026 di Ocean Flower Island International Convention Center, Danzhou, Hainan.
Dua agenda besar.
Dua-duanya penting.
Tetapi keduanya mempunyai makna yang berbeda.
Mamuju berbicara mengenai organisasi.
Hainan berbicara mengenai masa depan.
Pertanyaannya adalah, sudahkah kita menempatkan pembinaan pemain muda sebagai prioritas utama?
Indonesia Adalah Pelopor Bridge Junior Asia
Mungkin banyak pemain bridge generasi sekarang yang tidak mengetahui bahwa Indonesia sesungguhnya merupakan pelopor pembinaan bridge junior di Asia.
Pada saat banyak negara Asia bahkan belum memiliki program pembinaan pemain muda, Indonesia telah mengambil langkah berani dengan mengirimkan tim ke Kejuaraan Dunia Bridge Junior pertama yang diselenggarakan di Belanda pada tahun 1987.
Enam pemain yang mewakili Indonesia saat itu adalah:
Franky Steven Karwur
Widi Pancono
Alfa Irinanda
Tommy Rogi
Octa Wohon
Farli Sumual
Empat puluh tahun kemudian, sejarah membuktikan bahwa keputusan tersebut sangat tepat.
Dari enam pemain itu, lima orang masih aktif bermain bridge hingga hari ini. Hanya Farli Sumual yang tidak lagi aktif bertanding.
Mereka bukan hanya menjadi pemain nasional, tetapi juga menjadi bagian penting dari perkembangan bridge Indonesia selama puluhan tahun.
Artinya, Indonesia sebenarnya telah memahami sejak lama bahwa investasi terbaik bukanlah membangun gedung, melainkan membangun pemain muda.
Hainan Bukan Sekadar Turnamen
Kejuaraan APBF Youth bukan sekadar pertandingan antarnegara.
Inilah panggung tempat lahirnya calon-calon pemain dunia.
Kategori yang dipertandingkan meliputi:
U31 Open Team (Xiao Jiang Cup)
U26 Open Team (Raymond Chow Cup)
U26 Girls Team (Xiang Huaicheng Cup)
U21 Open Team (Khunying Esther Cup)
U16 Open Team (C.W. Pisessith Cup)
Selain itu juga diselenggarakan Youth Pairs Championship, yang dapat diikuti tanpa biaya tambahan oleh seluruh peserta beregu.
Selama bertahun-tahun, APBF Youth menjadi batu loncatan menuju World Youth Team Championships.
Di sinilah para pemain muda mendapat kesempatan mengukur kemampuan melawan Jepang, Tiongkok, Chinese Taipei, Australia, Thailand, India, Hong Kong, Singapura, Selandia Baru, dan negara-negara bridge kuat lainnya.
Pengalaman seperti ini tidak mungkin diperoleh hanya dengan mengikuti pertandingan di dalam negeri.
Semakin dini seorang pemain memperoleh pengalaman internasional, semakin matang kemampuan teknis, mental, dan disiplin bertandingnya.
Kesempatan Sudah di Depan Mata
Tidak seperti kejuaraan biasa, APBF Youth hanya berlangsung satu kali dalam satu siklus.
Kesempatan ini tidak datang setiap tahun.
Karena itu Indonesia perlu segera menentukan sikap.
Menurut Circular 1 yang diterbitkan panitia, setiap negara hanya dapat mengirim satu tim untuk setiap kategori.
Yang lebih mendesak lagi adalah batas waktunya.
Panitia menetapkan jadwal sebagai berikut:
15 Agustus 2026 : batas akhir pendaftaran tim.
23 Agustus 2026 : penyerahan data lengkap pemain.
23 Agustus 2026 : batas pemesanan hotel.
8 September 2026 : batas penyerahan system card dan supplementary notes.
Dengan jadwal seperti ini, tidak ada lagi ruang untuk menunda keputusan.
Apabila Indonesia ingin berpartisipasi, seluruh proses administrasi harus segera dimulai.
Biaya Relatif Terjangkau
Salah satu alasan yang sering dikemukakan ketika berbicara mengenai kejuaraan internasional adalah biaya.
Namun untuk APBF Youth kali ini, panitia telah menyediakan paket yang cukup bersahabat.
Biaya pendaftaran adalah:
U31 Open : US$400 per tim
U26 Open : US$400 per tim
U26 Girls : US$400 per tim
U21 Open : US$200 per tim
U16 Open : US$200 per tim
Peserta beregu dapat mengikuti nomor pasangan tanpa biaya tambahan.
Hotel Sudah Disiapkan
Panitia juga telah menyiapkan akomodasi resmi di Castle Hotel Ocean Flower Island.
Yang menarik, harga kamar sudah termasuk sarapan, makan siang, dan makan malam.
Pilihannya adalah:
Jenis kamar Tarif
Garden Single US$90
Garden Twin US$115
Seaview Single US$103
Seaview Twin US$129
Suite US$143
Seluruh tarif tersebut berlaku per malam.
Panitia juga menyediakan shuttle bus dari Bandara Internasional Haikou Meilan menuju hotel resmi dengan biaya US$10 per orang pada hari kedatangan resmi.
Dengan fasilitas seperti ini, peserta tinggal berkonsentrasi pada pertandingan.
Kabar Baik: Hainan Bebas Visa
Ada satu kabar yang sangat menggembirakan.
Pemerintah Tiongkok memberikan fasilitas bebas visa hingga 30 hari bagi warga negara Indonesia yang memasuki Provinsi Hainan untuk berbagai keperluan, termasuk kompetisi olahraga.
Artinya, kontingen Indonesia tidak perlu lagi mengurus visa Tiongkok selama perjalanan hanya mencakup Hainan dan memenuhi ketentuan yang berlaku.
Kemudahan ini tentu mengurangi biaya sekaligus mempercepat persiapan keberangkatan.
Kini tantangannya bukan lagi persoalan visa.
Tantangannya adalah keberanian mengambil keputusan.
Mamuju dan Hainan Tidak Harus Dipertentangkan
Sebagian orang mungkin melihat seolah-olah Indonesia harus memilih antara Mamuju atau Hainan.
Padahal keduanya mempunyai fungsi yang berbeda.
Kejurnas adalah pesta bridge nasional.
Kongres adalah forum organisasi.
Sedangkan APBF Youth adalah investasi masa depan.
Idealnya, PB GABSI dapat membentuk dua tim kerja yang berbeda.
Satu bertanggung jawab menyukseskan Kejurnas dan Kongres.
Satu lagi fokus mempersiapkan keberangkatan tim nasional junior ke Hainan.
Para pemain muda tidak perlu dibebani menghadiri kegiatan organisasi apabila mereka sedang bertugas membawa nama Indonesia di arena internasional.
Justru itulah tugas utama seorang atlet nasional.
Jangan Putuskan Tradisi yang Sudah Dibangun
Hampir empat puluh tahun yang lalu, Indonesia menjadi pelopor pembinaan bridge junior di Asia.
Kini kesempatan itu datang kembali.
Apabila generasi 1987 telah membuka jalan, maka generasi 2026 harus melanjutkannya.
Suatu hari nanti, pemain-pemain yang berangkat ke Hainan mungkin akan menjadi tulang punggung Indonesia pada Bermuda Bowl, Asian Games, SEA Games, atau World Bridge Games.
Tetapi semuanya berawal dari satu keputusan sederhana.
Mengirim mereka bertanding.
Saatnya Bertindak
Waktu terus berjalan.
Batas akhir pendaftaran tinggal menghitung hari.
Semoga PB GABSI segera menetapkan tim nasional junior, menunjuk pelatih dan ofisial, menyelesaikan administrasi, serta menggalang dukungan dari seluruh keluarga besar bridge Indonesia.
Karena setiap generasi emas selalu dimulai dari keberanian mengambil keputusan.
Empat puluh tahun yang lalu, Indonesia menjadi pelopor bridge junior Asia.
Jangan sampai empat puluh tahun kemudian kita justru kehilangan kesempatan untuk melanjutkan tradisi itu.
Hainan telah memanggil.
Mamuju sedang menanti.
Semoga Indonesia mampu menjawab keduanya dengan bijaksana, karena masa depan bridge Indonesia tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memimpin organisasi, tetapi juga oleh siapa yang hari ini diberi kesempatan untuk belajar, bertanding, dan tumbuh menjadi juara dunia esok hari. ***














